Keturunan Raja

Keturunan Raja
Raja Wanita


__ADS_3

Baru kemarin arak-arakan pengantin masuk ke dalam istana, kini arak-arakan kematian Raja Iga dan Putra Mahkota melewati gerbang istana di susul oleh beberapa perdana menteri dan para pengikut mereka di belakangnya...



Rania saat ini telah menduduki singgah sana kerajaan, dia kembali mendapatkan hak yang seharusnya ia dapatkan dan menjadi Raja pertama sebagai seorang wanita. Dia mulai mengubah sistem kerajaan dan membuang semua pengikut Raja Iga dan menggantinya dengan para pengikutnya...



Tidak ada penyesalan di matanya, dia bahkan terlihat sangat bangga atas apa yang telah ia lakukan saat ini...


Runi yang melihat perubahan drastis dari Rania membuatnya sedikit khawatir, bagaimana tidak Rania kini semakin dekat dengan takdir ramalan itu dan akhir yang tragis itu semakin dekat...


"Salam Putri" ucap Runi memberi salam


"Apa aku tidak salah dengar Runi?" tanya Rania


"Maksudnya Putri?" tanya balik Runi yang tidak paham akan pertanyaan Rania


"Apa kau tidak melihat singgahsana dan mahkota ini Runi? Cih kau sungguh pengikut ku yang luar biasa" ucap Rania sambil tersenyum sinis


Mendengar ucapan Rania membuat Runi langsung bersujud di hadapan Rania dan memohon ampun atas kesalahan yang dia lakukan...


"Ampun Yang Mulia, hamba sungguh lancang, hamba mohon beri saya hukuman atas kelancangan saya ini Yang Mulia" ucap Runi


"Sudahlah lupakan saja, sekarang berdirilah" ucap Rania sambil turun dari singgahsananya dan berniat membantu Runi berdiri, tapi langsung di hentikan oleh Satih


"Tunggu Yang Mulia" ucap Satih sambil memberi hormat pada Rania


"Kau!" ucap Rania terkejut melihat kedatangan Satih

__ADS_1


"Yang Mulia, Anda tidak bisa melakukan hal ini Yang Mulia" ucap Satih


"Apa maksudmu? Aku Raja di sini, aku bebas melalukan apapun yang aku inginkan" sahut Rania


"Iya Yang Mulia hamba paham akan hal itu, tapi masalahnya saat ini jika kau memaafkannya begitu saja, kelak orang lain akan melakukan hal yang sama dan kau pada akhirnya tidak punya pilihan selain memaafkannya" jelas Satih


Mendengar ucapan Satih membuat Rania berhenti dan berpikir bahwa apa yang di katanya ada benarnya. "Pengawal, cepat bawa dia kepenjara dan beri dia 100 kali cambukan" Perintah Rania


Runi yang mendengar perintah Rania sangat terkejut, tapi dia tidak bisa melawan dan pasrah di bawa pergi oleh para pengawal itu, sementara itu Kua yang menyaksikannya hanya bisa terdiam sambil mengepal erat kedua tangannya...


"Maaf Runi aku tak bisa menolongmu" batin Kua


"Tak masalah, ini hanyalah cambukan biasa, aku seorang dewi tubuhku sangat kuat" sahut Runi


Mereka berdua berkomunikasi melalui batin.


Satria yang sudah tak sadarkan diri selama hampir 3 hari itu akhirnya terbangun, dia berusaha duduk di atas kasurnya sambil menahan rasa sakit di dadanya...


"Arghh, dadaku terasa terbakar" ucap Satria sambil menekan dadanya


Satria terus menatap sekeliling dan dia merasa tidak asing dengan tempat itu, ya bagaimana tidak, saat dia tengah menyamar sebagai penari dia pernah memasuki ruangan ini. "Kediaman Putra Mahkota!" ucapnya terkejut


"Bagaimana aku bisa ada disini? Tidak Kak Madit dan Bening di mana mereka?" ucap Satria yang kebingungan. Di dalam kebingungannya Satria berusaha untuk bangkit dan keluar mencari Madit dan Bening, tapi saat dia mulai membuka pintu dia melihat Rania...


"Kau!" ucap Satria terkejut


"Apa yang kau lakukan? Berbaring lah lukamu masih belum pulih" sahut Rania sambil mencoba membantu Satria kembali ke kasurnya, tapi Satria yang teringat akan kejadian betapa kejamnya Rania langsung mendorong Rania hingga terjatuh ke lantai...


Satih, Kua dan para pengawal yang melihat hal itu ingin menahan Satria, tapi Rania menghalangi mereka dan menyuruh mereka pergi...

__ADS_1


"Yang Mulia!" ucap mereka bersamaan


"Berhenti di sana, pergilah kalian" sahut Rania


"Tapi Yang Mulia, Anda.... " ucap Satih tapi di potong oleh Rania


"Apa kalian tidak mendengar ucapanku, Keluar" ucap Rania dengan nada tinggi


Satih, Kua dan yang lainnya pun pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar, Satria yang masih marah dengan Rania tidak peduli bahkan saat melihat tangan Rania yang terluka akibat perbuatannya dia mengacuhkannya dan berdiri di depan jendela...


Sementara itu di sisi lain Madit dan Bening yang berada di penjara bawah tanah kini sudah sadarkan diri, tapi tubuh mereka masih lemas dan tak bisa mengeluarkan tenaga dalamnya untuk kabur dari sana...


"Kak, kau sudah sadar" ucap Bening mencoba duduk di sebelah Madit


"Apa kita berada di penjara?" tanya Madit sambil berusaha duduk


"Aku rasa Rania ingin melihat kita mati tersiksa sampai dia tidak langsung menghabisi kita kak" jawab Bening


"Itu bisa saja, tapi aku masih tidak percaya dia melakukan hal ini" ucap Madit


"Aku rasa Rania telah kehilangan akal sehatnya" ucap Bening


"Itu tidak mungkin Bening, aku rasa dia memiliki sebuah rencana lain" ucap Madit


"Aku tau kau menyukainya kak, tapi janganlah termakan cinta buta" sahut Bening


"Cih, apa aku terlihat seperti itu? Tidak Bening, kau tidak mengenal Rania, aku telah mengenal Rania sejak kecil, dia tidak akan melakukan sesuatu hal yang menyakiti keluarganya, aku percaya dia pasti memiliki rencana" jelas Madit


"Terserah, yang jelas saat ini penting untuk kita memulihkan tenaga dan segera menyelamatkan Tuan karena aku sangat mengkhawatirkannya" ucap Bening

__ADS_1


__ADS_2