Keturunan Raja

Keturunan Raja
Merindukanmu


__ADS_3

**Hai readers happy Reading dan jangan lupa untuk membantu author ya dengan cara rate, like dan tinggalkan komentar, bisa juga memberi vote lho~


●○●○●○●○■□■□■□■□■●○●○●○●○**


Di Balai Kota


Pagi hari yang cerah, Rania yang sudah bangun sejak awal kini sedang bersiap kembali ke kediaman Perdana Menteri, berat memang rasanya untuk meninggalkan Satria, tapi dia harus melakukannya demi kebaikan Satria...


TOK TOK TOK


"Sayangku, semuanya sudah siap, cepatlah keluar, kita sarapan dulu baru berangkat" ucap Eza sambil berdiri di depan pintu kamar Rania


"Iya, aku akan segera keluar" sahut Rania sambil memperbaiki gaunnya


"Baiklah, aku akan menunggu di bawah" ucap Eza


"Putri, kita tidak bisa mempercayainya begitu saja" ucap Runi


"Apa yang bisa aku lakukan Runi? Saat ini hanya Eza yang bisa ku harapkan" ucap Rania sambil berdiri di depan jendela


"Tapi putri kau tau sendiri kan pangeran Eza itu siapa?" tanya Runi


"Tapi te..... " ucap Rania tapi di potong oleh Runi


"Tapi apa putri? Apa kau melupakan ayahnya yang telah membunuh Raja dan ratu, kakakku mati karena ayahnya putri" ucap Runi dengan nada marah


"Aku tidak akan melupakan hal itu Runi, tapi aku... " ucap Rania


"Ingatlah putri, kau di sini hanya untuk balas dendam, bukan untuk hidup bahagia bersamanya" ucap Runi sambil keluar dari jendela


"Apakah aku di takdir untuk hidup sebagai mesin pembunuh" batin Rania sambil mulai menangis


Eza yang dari tadi berada di balik pintu mendengarkan pembicaraan antara Rania dan Runi kini pergi ke bawah...


Di waktu yang sama di penginapan...

__ADS_1


"Aduh, bahuku rasanya mau patah" keluh Satria sambil terus memegangi bahunya yang sakit


"Tuan, minumlah teh herbal ini" ucap Bening sambil meletakkan teh


"Bening, teh saja tidak akan menghilangkan rasa sakit di bahuku ini" ucap Satria


PLAK


Madit datang dan memukul kepala Satria dari belakang...


"Akh!!!" rintih Satria


"Kau seperti anak perempuan saja" ucap Madit sambil duduk di sebelah Satria


"Kakak, apa yang kau lakukan?" tanya Satria sambil terus memegangi kepalanya


"Pangeran ini masih pagi, kenapa kau berisik sekali" ucap Krinton sambil berjalan mendekati mereka


"Pangeran, kau ini seorang pria, jadi bersikaplah seperti seorang pria" sahut Tobi sambil duduk


"Aish, kalian sedang bersekongkol ya" ucap Satria sambil bangkit dari tempat duduknya


"Ya kalian semua benar dan aku yang salah" ucap Satria dengan nada marah


"Baguslah kalau kau mengakuinya pangeran" sahut Krinton sambil memakan kue


"Ka... kalian, kalian, uwah, kak Rania mereka menjahati.... ku" Satria tidak sadar dia telah memanggil nama Rania yang kini telah tidak ada lagi di antara mereka


Seketika suasana menjadi hening, Satria yang sedih pergi keluar meninggalkan yang lainnya...


"Tuan, tunggu" ucap Bening berusaha menghentikan Satria tapi malah di hentikan oleh Madit


"Biarkan dia sendiri dulu" ucap Madit sambil menarik tangan Bening


"Hemz, seharusnya aku tidak menggoda nya seperti itu" ucap Krinton

__ADS_1


"Ini bukan salahmu, pangeran hanya masih tidak bisa melupakan putri" sahut Tobi sambil minum teh


Satria terus berjalan mengelilingi kota sambil menangis, semua penduduk yang lewat tidak berhenti menatapnya...


"Eh, lihat anak muda itu dia menangis" ucap penduduk 1


"Mungkin dia sedang patah hati" sahut penduduk 2


Di dalam kereta


"Satria" batin Rania


"Putri, kau tidak bisa keluar" ucap Runi sambil menarik tangan Rania


"Tapi Runi, Satria saat ini sedang menangis, aku harus menenangkannya" ucap Rania sambil berusaha melepaskan genggaman Runi


PLAK


Runi menampar pipi Rania...


"Apa kau ingin dia mati dengan cepat?" ucap Runi dengan nada marah


"A... aku" ucap Rania sambil mulai menangis



"Maafkan aku putri, aku hanya ti.... "


"Aku mengerti Runi, aku seharusnya tidak terbawa emosi" ucap Rania sambil menghapus air matanya


"Satria, maaf kakak tidak bisa berada di sampingmu" batin Rania


Kereta Rania melewati Satria begitu saja, Satria yang terus menangis tiba-tiba merasakan kehadiran Rania...


SWOSH

__ADS_1


"Kakak" batin Satria sambil melihat sekeliling


"Kakak, kau dimana, aku sangat merindukanmu" ucap Satria sambil menghapus air matanya


__ADS_2