Keturunan Raja

Keturunan Raja
Kepercayaan


__ADS_3

Di tengah hutan


SWHOSH



"Tuan maaf, saya tidak mendapatkam informasi apapun mengenai pangeran" ucap Bumau (hewan suci berwujud singa hitam bersayap) sambil mendarat di sebuah tebing


"Bagaimana denganmu Lulu? Apa kau menemukan lokasi keberadaan mereka?" tanya jenderal Raka sambil memainkan kipasnya



"Kupu-kupu ku mengatakan mereka ada di sebuah desa kecil di tengah hutan ranum tuan" jawab Dewi Lulu



"Kalau begitu ayo kita pergi kesana mengunjungi pangeran" ucap Raka


Mereka bertiga langsung pergi menuju desa untuk menemukan Satria, tapi di sisi lain Bening yang sudah merasakan keberadaan dari dewi Lulu langsung memberitahukannya kepada Satria dan Madit...


Di kamar Satria


WHOSH


Tiba-tiba lewat sebuah energi yang kuat di samping Bening dan Bening langsung bisa menangkap bahwa itu adalah energi dari saudari-saudarinya yang berada di dekatnya...


"Ini, Lulu! Aku harus memberitahu Tuan tentang hal ini" ucap Bening sambil berlari menuju kamar Satria


"Tuan, Tuan, Tuan, Gawat!" teriak Bening

__ADS_1


"Berhenti! Mengapa kau berteriak? Satria masih sakit, apa kau sudah lupa?" tanya Madit sambil menghalangi langkah Bening mendekati Satria


PLAK


Bening menampis tangan Madit "Maafkan aku, tapi ini darurat, lagi pula aku yakin Tuan adalah pria yang kuat jadi tidak akan apa-apa"


"Wanita ini, tenaganya kuat sekali, bahkan tanganku jadi merah hanya karena di tampis olehnya" ucap Madit dalam hati


"Ada apa Bening, kenapa kau berteriak dan berlari terburu-buru?" tanya Satria sambil menarik tangan Bening


"Tuan, baru saja aku merasakan kehadiran dari saudariku dan aku tau bahwa itu bukan hal yang baik" jawab Bening sambil duduk di samping Satria


"Apa saudarimu itu jahat?" tanya Satria


"Tidak tuan, tapi bagi kami para budak dewi kami tidak bisa menentang perintah dari tuan kami sendiri dan aku tahu bahwa tuannya Lulu bukanlah kesatria baik" jawab Bening


"Mungkin saja mereka sedang mencari orang lain bukan kita Bening, jadi tenanglah" ucap Satria


Madit yang tidak percaya akan firasat Bening menganggapnya sebuah lelucon...


"Tunggu sebentar, mengapa kami harus percaya hanya dengan firasatmu saja, bagaimana jika kau salah dan bukankah itu hanya akan menjadi sebuah lelucon" ucap Madit


"Aku bisa merasakan kehadiran dari saudari-saudariku dan itu tidak pernah salah" ucap Bening


"Kalau memang begitu, kenapa waktu itu kau tidak memperingatkan kami tentang kehadiran ketiga saudarimu yang jahat?" tanya Madit


Bening terkejut mendengar pertanyaan Madit, dia menundukkan kepalanya dan merasa bersalah...


"Itu..!!! Aku salah, aku tidak bermaksud mencelakai kalian hanya saja aku ingin melihat apakah Satria pantas untuk menjadi tuanku atau tidak" jawab Bening dengan nada rendah

__ADS_1


"Cih! Aku sudah menduganya, kau sejak awal tidak tulus dan mungkin saja ini juga siasatmu untuk menipu kami" ucap Madit sambil mengerutkan alis


Bening langsung berlutut di hadapan Satria, bagaimanapun dia memang bersalah waktu itu, tapi saat ini dia benar-benar ingin bersama dengan Satria...


"Tuan aku mohon percayalah padaku, waktu itu aku memang bersalah tapi kali ini aku mengatakan kebenaran, aku tidak ingin kau terluka tuan" ucap Bening


"Hoho, apa ini juga siasat barumu agar kami kasihan dan menuruti semua perkataanmu" ucap Madit


Bening langsung berdiri kembali mendengar ucapan dari Madit yang menurutnya sangat tidak masuk di akal...


"Apa maksudmu? Aku mengatakan yang sebenarnya dan juga kau memang tidak pernah menyukaikukan itu sebabnya kau selalu menyudutkanku dan menyalahkanku" ucap Bening


"Bukankah kau memang bersalah, aku hanya mengatakan kebenarannya saja" sahut Madit


Madit dan Bening terus bertengkar dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah, melihat hal ini membuat Satria geram dan mencampakan gelas di sampingnya ke lantai...


PRANG


Kuatnya suara pecahan gelas itu membuat Madit dan Bening langsung terdiam...


"Saat ini yang kumiliki hanya kalian berdua. Jika kalian terluka rasanya aku juga ikut terluka dan saat kalian bahagia rasanya aku juga ikut bahagia, tapi bagaimana bisa kalian menyuruhku memilih salah satu di antara kalian, sementara bagiku kalian lebih penting dan aku ingin melindungi kalian" ucap Satria sambil berjalan mendekati Madit dan Bening


Mendengar ucapan Satria membuat Madit dan Bening tidak bisa berkata apapun...


"Jadi siapa yang harus ku pilih? Sahabatku satu-satunya atau Kakakku yang sangat ku sayangi?" tanya Satria sambil mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Madit dan Bening


"Maafkan aku Tuan, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi" jawab Bening sambil memegang tangan kiri Satria


"Maafkan Kakak, seharusnya kakak tidak perlu terbawa emosi begini" jawab Madit sambil memegang tangan kanan Satria

__ADS_1


"Jadi sekarang bisakah kita saling mempercayai dan tidak menyembunyikan apapun?" tanya Satria


"Iya" jawab Madit dan Bening bersamaan


__ADS_2