
Di Aula Istana
Raja Iga dan Perdana Menteri tengah membicarankan sesuatu hal bahkan sesekali Raja Iga memasang ekspresi yang sangat serius...
"Saat ini hanya ada kita berdua saja Jua, jadi jika ada yang ingin kau sampaikan padaku, maka katakanlah" ucap Raja Iga sambil menepuk pelan pundak Perdana Menteri
"Apa yang bisa hamba katakan Yang Mulia? Saat ini saya hanya ingin memikirkan persiapan penyambutan calon putri Mahkota saja" sahut Perdana Menteri
Raja Iga langsung membalikkan badannya, dia terlihat tidak senang dengan jawaban dari Perdana Menteri...
"Kita sudah berteman dari kecil Jua, Apakah persahabatan kita selama ini sudah tidak kau anggap lagi?" tanya Raja Iga
"Kenapa Anda berkata seperti itu Yang mulia? Hamba sama sekali tidak mengerti" jawab Perdana Menteri
"Mengapa kau mengkhianatiku Jua?" tanya Raja Iga
"Tidak mungkin Yang Mulia, nyawaku bahkan ku serahkan kepadamu, bagaimana mungkin aku mengkhianatimu?" jawab Perdana Menteri
"Aku sudah tau semuanya Jua, kau menampung putri musuhku dan bahkan berniat menjadikannya sebagai putri mahkota, jika kau bukan pengkhianat, lantas apa yang harus aku katakan Jua?" ucap Raja Iga
Mendengar perkataan Raja Iga membuat Perdana Menteri terkejut dia langsung bersujud di hadapan Raja Iga, tapi Raja Iga tidak memperdulikannya bahkan berbalik sedari membuang muka dari Perdana Menteri...
"Ampuni hamba Yang Mulia, saya tidak pernah bermaksud seperti itu, hamba hanya tidak punya pilihan" ucap Perdana Menteri
"Setiap orang memiliki pilihan dalam menjalani hidupnya Jua, bahkan aku saat ini juga akibat dari pilihanku sendiri" ucap Raja Iga
"Apa yang harus ku lakukan Iga, yang ku punya hanyalah putriku dan aku tidak mau lagi kehilangan dia, huhuhu" ucap Perdana Menteri sambil mulai menangis
Raja Iga yang melihat Perdana Menteri menangis tidak tega dan membantunya untuk berdiri...
"Aku tidak ingin mengambil putrimu Jua, tapi aku hanya ingin tau apa yang kau rencanakan sebenarnya? Aku hanya tidak ingin mengotori tanganku dengan darah sahabatku sendiri" ucap Raja Iga
Perdana Menteri menyeka air matanya dan mulai berhenti menangis...
"Maafkan aku Iga, kau sudah taukan bahwa putriku sudah tiada karena penyakit terkutuk itu dan saat ini Tuhan memberiku satu kesempatan lagi untuk bersamanya, bagaimana bisa aku menyia-nyiakan kesempatan ini" ucap Perdana Menteri
"Jadi maksudmu, kau tidak memiliki maksud apapun tentang ini?" tanya Raja Iga
"Kau sudah taukan bahwa putriku sejak kecil begitu mendambakan putramu itu dan kini aku memiliki kesempatan untuk mewujudkan keinginan terakhirnya, walaupun melalui putri yang lain" jawab Perdana Menteri
"Hufh!" Raja Iga menarik napas panjang, kerutan di wajahnya menandakan betapa berat beban yang dia pikul dan saat ini dia bingung harus berbuat apa
Perdana Menteri dan Raja Iga sudah berteman sejak kecil, bahkan terguling nya Raja Surya juga tidak terlepas dari campur tangan Perdana Menteri. Sudah begitu banyak pengorbanan yang di lakukan oleh Perdana Menteri untuk Raja Iga dan inilah yang membuatnya bingung untuk mengambil keputusan...
__ADS_1
"Aku tak tau harus berkata apa lagi, kau adalah sahabatku satu-satunya dan aku sangat menghormatimu, tapi sekali musuh tetaplah musuh Jua" ucap Raja Iga
"Tapi Iga, Rinai dia... " ucap Perdana Menteri tapi di potong oleh Raja Iga
"Rania, bukan Rinai Jua, dia putri mendiang Raja Surya, dia adalah seorang anak yang ayahnya kau bunuh, jangan lupakan itu" ucap Raja Iga
"Aku, aku... " ucap Perdana Menteri yang terbata-bata
"Jangan-jangan dia belum tau bahwa kaulah yang membunuh Raja Surya" ucap Raja Iga
"Tidak, dia pasti akan menerimanya nanti dan aku yakin bahwa dia juga sangat menyayangiku" ucap Perdana Menteri
"Aku harap begitu, tapi jika dia mengganggu rencanaku, maka maafkan aku Jua karena aku tak akan bisa membiarkannya untuk hidup" ucap Raja Iga
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi" sahut Perdana Menteri
"Baiklah kalau begitu, lakukan semua persiapannya, kita akan menjadi besan mulai sekarang" ucap Raja Iga
"Tentu Yang Mulia" ucap Perdana Menteri sambil tersenyum
Perdana Menteri pun pergi meninggalkan aula istana dan kembali ke kediamannya. Di sisi lain Satria dan yang lainnya telah berhasil masuk ke dalam istana dan Satria mulai berjalan mengelilingi istana, tapi saat sampai di sebuah lorong dia tidak sengaja menabrak seseorang...
BRUK
"Dia! " batin Satria
"Maafkan saya nona, saya tidak sengaja" ucap Satria sambil mencoba membantu wanita itu berdiri
Wanita itu langsung menepis tangan Satria dan mulai berteriak memanggil penjaga istana. Satria kebingungan, dia takut penyamarannya terbongkar dan berniat untuk melarikan diri dari sana, tapi sialnya wanita itu menahan kakinya dan membuatnya tidak bisa bergerak...
"Jangan pikir untuk melarikan diri, dasar tukang cabul" ucap wanita itu
"Tukang cabul? yang benar saja" batin Satria
Satria berusaha untuk melepaskan genggaman tangan wanita itu dari kakinya, tapi terlambat para penjaga istana tiba dan mulai menghakimi Satria...
"Nona anda tidak apa-apa?" tanya Penjaga istana
"Cepat tangkap pria cabul ini, dia berusaha untuk memperkosa ku" ucap wanita itu
Satria mencoba menceritakan kronologi kejadiannya, tapi sayangnya para penjaga istana tidak mempercayai perkataannya dan berniat membawanya ke penjara...
"Tidak, kalian salah, aku tidak pernah melakukan hal itu, aku hanya tidak sengaja menabraknya dan membuatnya terjatuh ke lantai, hanya itu, jadi lepaskan aku" jelas Satria
__ADS_1
"Kau jelaskan saja nanti saat interogasi" ucap penjaga istana sambil menggeret tangan Satria
Satria meronta-ronta dan memohon agar para penjaga istana melepaskannya, karena bagaimanapun dia tidak mungkin menunjukkan kekuatannya saat ini...
"Ku mohon lepaskan aku, aku tidak bersalah, wanita itu dia berbohong" ucap Satria
"Bagaimana bisa wanita lemah sepertiku berbohong" ucap wanita itu
"Sial, wanita ini aktingnya bagus sekali" batin Satria
Satria mulai berteriak dengan keras, berharap Madit mendengar dan membantunya lolos dari sini, tapi bukannya Madit yang datang...
"Ada apa ini?" tanya Rania
Melihat kedatangan Rania membuat para penjaga dan wanita itu terkejut dan langsung membungkukkan kepala mereka sedari memberi hormat, sementara Satria yang melihat sosok kakaknya itu hanya bisa terdiam...
"Salam putri Perdana Menteri, pria ini telah melecehkan nona Reka dan kami ingin membawanya ke penjara" jelas Penjaga istana
"Putri Perdana Menteri? Tidak, bukankah wanita yang di samping ku ini yang putri Perdana Menteri, kenapa Rania bisa jadi putri Perdana Menteri? " batin Satria
"Apa itu benar Reka?" tanya Rania sambil menatap tajam ke arah Reka
"Ehm, itu.. itu..." jawab Reka dengan gugup
"Aku rasa ada kesalahpahaman di sini, jadi kalian kembalilah ke posisi kalian" ucap Rania menyuruh para penjaga pergi
Para penjaga pun pergi ke pos mereka masing-masing, sementara Reka yang tidak berani menghadapi Rania langsung pergi melarikan diri...
"Reka!" teriak Rania
"Kau.. " ucap Satria
"Tolong maafkan dia ya penari" ucap Rania
"Penari?" tanya Satria
"Iya, topeng dan baju yang kau kenakan, bukankah kau seorang penari" jawab Rania
"Oh, iya aku penari, salam Nona" ucap Satria
"Tidak perlu sungkan, kau kembalilah dan tolong lupakan hal yang terjadi barusan" ucap Rania sambil mulai berjalan meninggalkan Satria
"Kakak, kau tidak berubah, bahkan Runi, Kua dan Tobi bersamamu, apa sebenarnya rencanamu kak, kenapa kau tidak membawaku ikut serta" batin Satria sambil melihat bayangan Rania yang mulai menghilang
__ADS_1