
...Orang bilang dalam hidup pasti ada luka, tapi bagaimana caramu menyelesaikannyalah yang membuatmu berbeda......
Di Istana Artar
Raja iga mengumpulkan semua orang untuk mendiskusikan masalah penyambutan putra mahkota. Pertemuan itu di hadiri oleh para mentri, jenderal dan juga pangeran Eddar...
Saat mereka tengah membicarakan masalah penjagaan saat perayaan, bunyi kerincing gelang kaki menghentikan pembicaraan mereka...
Nampak sosok seorang wanita dengan gaun merah keemasan dan mahkota emas berjalan memasuki ruang aula istana, gaun indahnya terurai mengikuti langkah kecilnya yang di ikuti beberapa pelayan di belakangnya...
Semua mata tertuju padanya, sosok wanita yang tampak familiar itu lalu membungkukkan sedikit kepalanya di hadapan raja Iga...
"Salam yang mulia" ucapnya memberi salam
Raja Iga lalu menyuruhnya berdiri tegak kembali dan duduk di sebelahnya. Wanita itu ternyata ratu Islani, permaisuri raja Iga sekaligus Ibu kandung pangeran Eddar...
"Bagaimana kesehatanmu? Apakah sudah lebih baik?" tanya Raja Iga
"Sudah lebih baik yang mulia, Terima kasih atas perhatian yang mulia" jawab Ratu Islani
"Ibu, kenapa anda ke sini, apa ibu sudah meminum obat ibu" ucap pangeran Eddar yang khawatir oleh kesehatan Ratu
Saat Raja, Ratu dan pangeran Eddar tengah bebincang-bincang, tiba-tiba suara langkah kaki menghentikan pembicaraan mereka, tatapan dingin mulai menghiasi wajah mereka bertiga, pria berbaju hitam keemasan itu datang dengan tatapan tajam dan senyum sinis di wajahnya...
"Aku harap kedatangan ku ini tidak mengganggu keluarga harmonis ini" ucap pria itu sambil berdiri di hadapan Raja iga
Pria itu masuk tanpa memberi salam kepada Raja dan Ratu, dia hanya berdiri di hadapannya dengan sikap angkuhnya...
"Seperti itukah sikapmu sebagai pangeran?" ucap Raja iga
Pria itu ternyata pangeran Eza yang baru menghadap Raja iga setelah beberapa hari dia sampai di istana. Walaupun kesal, Ratu hanya bisa mengepal tangannya dan terdiam melihat prilaku pangeran Eza...
__ADS_1
"Pangeran? Gelar yang di dapat dengan menghabisi sebuah keluarga, apa yang bisa di banggakan darinya" sahut pangeran Eza
Mendengar ucapan pangeran Eza membuat Raja iga murka, wajahnya memerah dan matanya menatap pangeran Eza dengan agresif...
PRANG
Suara gelas pecah itu menandakan kemarahan Raja iga. Semua orang yang berada di sana terkejut, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun dan hanya diam sambil menundukkan sedikit kepala mereka...
"Anak kurang ajar!" teriak Raja iga sambil berdiri dari tempat duduknya
Ratu Islani mendekati Yang mulia Raja, berusaha untuk menenangkannya "Yang mulia tenanglah" ucap Ratu Islani sambil menahan tangan Raja iga
PLAK
Kemarahan Raja iga sudah di puncak, dia tidak bisa menahannya lagi dan menampar pangeran Eza dengan keras hingga dia terjatuh ke lantai...
Semua orang tercengang melihat kejadian itu, keluarga kerajaan yang tidak bahagia, seorang raja menampar putra mahkota, itulah opini semua orang yang berada di sana...
Sejak kejadian 17 tahun yang lalu, Eza dan Raja iga tidak pernah akur, hubungan antara ayah dan anak putus sejak Raja iga memutuskan untuk memulai kudeta menjatuhkan Raja surya. Zanbi, ibu pangeran Eza meninggal saat kudeta itu terjadi dan Eza terus menyalahkan Raja iga atas kematian ibunya itu...
Melihat pangeran Eza tersakiti membuat Zarta marah, dia mulai mengeluarkan tenaga dalamnya, tapi dengan cepat di tahan oleh pangeran Eza...
"Tenanglah, kau tidak perlu mengeluarkan tenagamu untuk sampah seperti mereka" ucap Eza sambil memegang pundak Zarta
Mendengar suara Eza membuat Zarta kembali tenang, dia lantas kembali berdiri di belakang Eza. Eddar yang memperhatikan dari tadi akhirnya maju dan angkat suara...
"Putra Mahkota membuat Raja murka, sudah di hukum tapi tidak menyesalinya, menurut kalian semua yang ada di sini, apakah dia pantas untuk gelar itu?" ucap Eddar yang mulai memprofokasi semua orang
Semua orang saling menatap dan mulai berargumen tentang putra mahkota, mereka mulai berpikir sepertinya memang tidak pantas untuk pangeran Eza menerima gelar tersebut...
Suara gemuruh orang yang saling sahut-menyahut memenuhi aula pertemuan itu. Mereka meminta Raja iga untuk mencabut gelar putra mahkota dari pangeran Eza...
__ADS_1
"Yang mulia, apa yang di katakan pangeran Eddar ada benarnya" ucap Menteri Pertahanan
"Prilaku putra mahkota sudah di luar batas yang mulia" ucap menteri Keuangan
Melihat reaksi para pejabat tinggi itu membuat pangeran Eddar bahagia, dia merasa bahwa rencananya untuk menjatuhkan Eza selama ini akhirnya tercapai...
Raja iga hanya terdiam sambil berpikir, dia bingung harus melakukan apa, di sisi lain dia sangat menyayangi putra mahkota, tapi jika dia tidak mengambil keputusan dia akan dianggap tidak layak sebagai raja...
Saat hendak mengambil keputusan, suara seseorang pria paruh baya menghentikannya. Sosok pria tua yang memakai baju biru tua dengan ornamen benang perak itu memasuki aula dan membuat semua orang terdiam...
"Jangan mengambil keputusan yang salah Yang Mulia" ucap perdana menteri sambil memberi salam di hadapan Raja iga
Melihat kehadiran Perdana Menteri membuat Raja iga menghela napas lega, dia tau bahwa hanya perdana menterilah yang bisa menyelesaikan semua masalahnya dengan baik...
"Apa saranmu Perdana Menteri?" tanya Raja iga
"Yang mulia, memang benar hari ini putra mahkota telah melakukan kesalahan, tapi apakah benar harus mencabut gelarnya hanya karena hal sepele seperti itu?" ucap Perdana Menteri
Raut wajah Ratu Islani berubah sejak Perdana Menteri memasuki aula, rasa tidak suka atau takut rencana mereka gagal tampak jelas di wajahnya...
Menteri lain yang sudah berkomplot dengan pangeran Eddar dan Ratu Islani tak bisa berbuat apapun, mereka tidak berani melawan Perdana Menteri...
"Yang kau katakan benar Perdana Menteri, tapi aku rasa Menteri yang lain tidak sependapat" ucap Raja iga
"Hamba yakin semua Menteri akan mematuhi keputusan anda Yang Mulia" ucap Perdana Menteri sambil menatap Menteri Pertahanan dan Keuangan dengan tatapan tajam
"Be.. benar Yang Mulia, kami semua akan mematuhi keputusan Yang Mulia" sahut Menteri Pertahanan
"Tapi Ayah ini tidak benar" ucap pangeran Eddar menyela pembicaraan Raja dan para Menterinya
"Cukup! pangeran Eddar telah berani menolak titah Raja, sebagai hukuman dia dilarang keluar dari kediamannya sampai acara penyambutan Putra Mahkota dan calon Putri Mahkota selesai" ucap Raja iga
__ADS_1
Pangeran Eddar yang mendengar keputusan Raja iga marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa mematuhinya dan pergi dengan amarah...
Ratu Islani mengejar pangeran Eddar. Pertemuanpun di akhiri, semua orang meninggalkan ruang aula, kecuali Raja iga dan Perdana Menteri yang sedang mendiskusikan sesuatu...