
Setelah menyempurnakan ikatan kedua akhirnya Bening pun kembali sadar, melihat keadaan Bening yang membaik membuat Satria senang...
"A..aku" ucap Bening
Satria lalu berjalan mendekati Bening dan mengelus kepalanya. Bening yang melihat perlakuan lembut Satria tidak bisa menahan dirinya, pipinya memerah dan jantungnya berdegup kenjang...
DEG DEG
"Gadis bodoh sekali lagi jangan membuat orang khawatir" ucap Satria
"Te..terima kasih! Kau telah menyelamatkanku" ucap Bening sambil menundukkan kepalanya karena malu
"Baiklah! sekarang kita sudah sempurna, jadi ayo kita pergi untuk balas dendam pada Raja jahat itu" ucap Satria sambil berdiri
TOK
Madit langsung memukul kepala Satria "Dasar bodoh! kau bahkan belum bisa menguasai kekuatanmu"
"Aduh! Kakak, kenapa kau memukul kepalaku lagi? Lihatlah Bening melihatnya" ucap Satria sambil mengelus kepalanya
"Hehehe! Tuan benar yang di katakan kakakmu, kau harus berlatih dulu dan aku juga akan melatih kekuatanku" ucap Bening
"Kau benar, ayo kita berlatih bersama" ucap Satria sambil tersenyum
Melihat senyuman di wajah Satria membuat Madit berpikir mungkin ini adalah takdirnya...
Di sisi lain sang dewi merasa bersalah kepada Bening karena selama ini dia telah mengunci kekuatan Bening, walaupun dia tau pada akhirnya kekuatan itu akan terlepas saat Bening sudah mencukupi umurnya...
"Bening maafkan aku!" ucap sang dewi sambil menundukkan pandangannya
Melihat wajah bersalah dari sang dewi membuat Bening berjalan mendekatinya dan memeluknya...
"Tidak ada yang perlu di maafkan" ucap Bening
"Ini salahku! seharusnya aku tidak mengunci kekuatanmu selama ini!" ucap sang dewi sambil memendamkan wajahnya di bahu Bening
"Kau sudah seperti kakak bagitu, apapun yang kau lakukan itu pasti untuk kebaikkanku!" ucap Bening sambil menepuk-nepuk pundak sang dewi
Mendengar ucapan Bening membuat sang dewi terharu dan meneteskan air mata...
"Jika kau tidak mengunci kekuatanku, mungkin aku tidak akan bertemu dengan tuan yang sangat baik sepertinya, jadi aku seharusnya berterima kasih padamu kakak" ucap Bening sambil menghapus air mata Sang dewi
__ADS_1
"Sang dewi kami pamit dulu" ucap Madit sambil membungkukkan badannya
"Kakak! Aku akan ikut dengannya sekarang, jadi kakak jaga diri ya" ucap Bening sambil memeluk Kanih untuk yang terakhir kali
"Aku akan selalu mengawasimu dari sini dan ini pakailah, jika kau dalam bahaya sebut namaku tiga kali dan bala bantuan yang kau butuhkan akan datang" ucap Kanih sambil memakaikan kalung pada Bening
Bening menganggukkan kepalanya, Kanih lalu melambaikan tangannya sambil sesekali menghapus air matanya melihat kepergian Bening...
Bening yang memegang erat tangan Satria dan Madit langsung membawa mereka terbang turun ke bumi...
SYIIT
"Tuan kita sudah sampai" ucap Bening
"Wah Bening sangat hebat dia bahkan bisa terbang tanpa sayap" ucap Satria
"Dia seorang dewi, jadi itu wajar" ucap Madit dengan nada sinis
Mendengar ucapan Madit membuat Bening sedikit kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya diam...
Mereka terus berjalan, Madit dan Bening yang saling tidak suka, keduanya bahkan tidak menyapa, sementara Satria yang sudah kelaparan dari tadi tidak bisa menahannya lagi...
Kerasnya suara perut Satria yang keroncongan membuat Madit dan Bening saling menatap dan tertawa...
"Hahaha" kerasnya tawa mereka berdua membuat Satria menjadi kesal
"Aku sedang kesulitan disini, tapi kalian malah tertawa dengan senang" ucap Satria sambil mengerutkan alisnya
"Heheh, tuan suara perutmu sangat keras dan itu sangat lucu" ucap Bening sambil tertawa kecil
"Ayolah Bening jangan meledek ku begitu, aku sangat kelaparan saat ini" ucap Satria sambil terus memegangi perutnya
"Baiklah, tapi di mana kita bisa menemukan makanan" ucap Madit sambil melihat keliling
Bening yang berinisiatif lalu terbang ke atas dan melihat sekeliling, benar saja dia melihat sebuah desa tidak jauh dari posisi mereka...
"Tuan, di sana ada sebuah desa" teriak Bening dari atas
"Kalau begitu, ayo kita singgah ke sana sebentar untuk beristirahat" ucap Madit
Mereka bertiga langsung berjalan menuju desa tersebut...
__ADS_1
Sesampainya di sana, Madit terus melihat situasi sekitarnya dan membuatnya sempat khawatir karena desa ini begitu sunyi, tapi di sisi lain Satria yang begitu kelaparan tidak memperhatikan situasi dan hanya memikirkan makanan...
Satria langsung masuk ke sebuah kedai makanan dan duduk tanpa rasa khawatir, tapi Madit dan Bening mereka terus mengawasi sekeliling mereka...
"Pak tua kami pesan tiga mangkuk bubur ayam jumbo" teriak Satria
"Terlalu tenang, ini sangat janggal" ucap Madit
"Aku rasa ada yang tidak beres" ucap Bening
"Kau juga merasakannya?" tanya Madit
"Benar! kita harus hati-hati dan melindungi tuan" jawab Bening
"Ini silahkan" ucap pak tua
"Wah kelihatannya sangat enak" ucap Satria
"Tunggu tuan! Biar aku coba terlebih dahulu" ucap Bening
"Aduh Bening, punyamu kan ada kenapa kau memakan punyaku juga, jika kau sangat lapar kau bisa pesan satu lagi" ucap Satria
TOK
"Dasar bodoh! dia sedang memeriksa makananmu beracun atau tidak!" ucap Madit sambil memukul Satria
"Aduh! kakak bisa tidak kalau bicara jangan memukul kepalaku terus, Lama-lama aku bisa gegar otak kalau begini" ucap Satria mengelus kepalanya
"Bagaimana?" tanya Madit
"Ini aman, tuan makanlah sekarang" ucap Bening
"Yee sudah boleh makan" ucap Satria sambil mulai memakan buburnya
Satria pun memakan bubur itu dengan lahap, sementara Madit dan Bening mereka terus memperhatikan sekitar..
Tak di sangka yang di khawatirkan pun terjadi, tiba-tiba dari luar datang begitu anak panah menghujani mereka...
__ADS_1