Keturunan Raja

Keturunan Raja
Rubah Licik


__ADS_3

Di tengah hutan


"Akh, kepalaku" ucapnya sambil memegangi kepalanya


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tobi


"K... kau!!!"


"Aku tidak pernah menyangka kita akan bertemu kembali secepat ini" ucap Tobi


"Aku tidak punya waktu menjelaskannya padamu" ucapnya sambil berdiri


TAR


Kaki orang tersebut seketika seperti tersambar oleh listrik...


"Akh!!!" teriaknya


"Aku tau kau akan mengatakan hal itu, jadi aku memasang mantra pengikat dalam dirimu, jika kau tidak mematuhi perkataanku, kau tau sendiri kan akibatnya" ucap Tobi sambil tersenyum


"Cih, dasar rubah licik" ucapnya sambil memegangi kakinya yang terluka


"Aku tanya sekali lagi padamu, Apa yang membawamu kembali lagi? Ah, tidak! Apakah putri masih hidup, Runi?" tanya Tobi sambil melemparkan obat pada Runi


"Benar, putri masih hidup dan aku di sini untuk menemuinya" jawab Runi sambil mengoleskan obat di kakinya


"Jadi selama ini dia masih hidup, tapi bersembunyi" ucap Tobi sambil duduk di samping Runi


"Benar, dia memiliki rencana lain dan aku hanya bisa mengikutinya" ucap Runi sambil mengembalikan sisa obat pada Tobi


"Baiklah kalau begitu, katakan pada putri kalau aku juga akan memainkan peran ku" ucap Tobi sambil berjalan pergi


"Tunggu, aku, ma... " ucap Runi tapi di potong oleh Tobi

__ADS_1


"Sudahlah, anggap saja kalau kita berdua impas, obat ini simpan saja, kau lebih membutuhkannya" ucap Tobi sambil melemparkan obatnya


Di Balai Kota


"Salam pangeran, semua sudah beres" ucap Reka sambil membungkukkan sedikit badannya


"Akhirnya kau kembali" sahut Rania sambil berjalan mendekati Reka


"Putri, aku sud... " ucap Reka tapi tidak sempat


PLAK


Rania menampar pipi Reka dengan keras dan membuatnya terjatuh ke lantai...


"Akh!!!"


"Itu pelajaran untukmu, sekali lagi jangan pernah menunjuk kearah adikku ataupun mengancam akan memenggal kepalanya" ucap Rania


"Sayang tenanglah, dia hanya memainkan perannya saja" ucap pangeran Eza sambil menarik Rania


"Aku tau, tapi tetap saja tidak ada yang boleh mengatakan sesuatu yang buruk kepada adikku" ucap Rania


"Sudah ya, sekarang kau duduklah dulu" ucap Eza sambil menarik Rania duduk di pangkuannya


"Hey, apa yang kau lakukan" ucap Rania berusaha bangkit tapi tertahan oleh pelukan erat Eza


Eza lalu melambaikan tangannya dan menyuruh semua orang keluar meninggalkan mereka berdua...


"Jika kau terus marah begini, orang lain tidak akan mengenalimu sebagai putri perdana menteri yang cantik, tapi sebagai Rania si buruk rupa" ucap Eza sambil mencubit manja pipi Rania


"Apa kau sudah selesai" sahut Rania dengan tatapan tajam


"Aish! kau memang putri salju berhati dingin ya" ucap Eza sambil melepaskan pelukannya

__ADS_1


"Aku ingin istirahat" ucap Rania sambil bangkit dari pangkuan Eza


"Baiklah, aku akan meninggalkan mu, ingat jangan menghancurkan barang-barang" ucap Eza sambil berjalan keluar


"Cih!!!"


Di waktu yang sama di tengah kota...


"Kakak ayo kita pulang sekarang, bahuku sudah hampir patah ini" ucap Satria sambil menahan Bening yang tertidur di pundaknya


"Tahanlah sebentar lagi, Krinton dan Tobi belum juga kelihatan" ucap Madit sambil melihat sekeliling


"Kalau begitu kakak bantu aku menjaganya" ucap Satria


"Tidak bisa, dia adalah tanggungjawab mu, kau adalah tuannya" ucap Madit sambil bangkit dan duduk menjauhi Satria


"Tapi Kak, kau ju.... " ucap Satria tapi di potong oleh Madit


"Jangan berdebat denganku" ucap Madit


TAP TAP TAP


"Hey, kalian di sini? kenapa tidak kembali ke penginapan?" ucap Tobi


"Kalian kemana saja? Apa kalian tidak melihat kesulitanku saat ini" ucap Satria


"Hehehe, maaf pangeran kami terlalu lama bermain, jadi lupa waktu ya kan Krinton?" tanya Tobi


"Ah, i.. iya benar sekali" jawab Krinton


"Ada apa ini? Aku mencium bau kebohongan" batin Madit


__ADS_1


__ADS_2