
Satu minggu kemudian
Tiba saatnya acara penyambutan putri Mahkota di laksanakan, semua orang tengah sibuk mengecek semua persiapan yang telah di rencanakan sebelumnya...
Di kediaman Putra Mahkota
Eza nampak sedang membenahi pakaiannya di bantu oleh beberapa pelayannya...
"Cepatlah, aku harus segera keluar" ucap Eza
"Sepertinya Putra Mahkota kita tidak sabaran untuk bertemu putri Mahkota" ucap Zarta sambil bersandar di dinding
"Bukan Zarta, Putra Mahkota kita hanya tidak sabar membawa putri Mahkota ke dalam kamarnya, hehehe" sahut Iney sambil tertawa
"Hahaha, ia kau benar sekali Iney" sambung Zarta
"I.. itu tidak benar, aku hanya... aku..." Eza yang ketahuan isi otaknya itu kini tidak bisa menjawab dengan jelas
"Hanya apa pangeran? hanya ingin lebih dari membawa ya" goda Zarta
"Akh berisik, keluar kalian" ucap Eza sambil mendorong Zarta dan Iney keluar dari kamarnya
"hehehe, kau lihat itu, betapa bahagianya dia" ucap Zarta
"Aku harap tidak ada yang menyakitinya" ucap Iney
"Ada apa Iney? Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Zarta
__ADS_1
"Entahlah, rasanya seperti akan terjadi sesuatu yang besar" jawab Iney
Zarta dan Iney hanya berdiri di depan pintu kamar Eza sambil menunggu dia keluar. Di sisi lain di ruangan para penari terlihat Satria sedang bersiap untuk tampil di acara itu...
WHOSH
"Akh!" Tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiran Bening dan membuat kepala sakit
"Bening ada apa?" tanya Krinton
"Kau baik-baik saja?" tanya Madit
"Aneh, ntah kenapa rasanya aku mendapatkan firasat buruk" jawab Bening
"Sepertinya kita harus mengurungkan niat penyerangan kita" ucap Krinton
"Tidak! kita tidak bisa menunggu lagi" tegas Satria
"Kita tidak mempunyai waktu lain kak" ucap Satria
"Kenapa tidak? tentu saja ada" ucap Madit
"Kak Rania, dia akan menikah hari ini dengan Putra Mahkota" ucap Satria
Madit, Bening dan Krinton terkejut mendengar perkataan Satria, mereka tidak menyangka bahwa Rania masih hidup...
Sementara itu di waktu yang sama di gerbang istana, kereta Putri Mahkota tampak memasuki istana...
__ADS_1
Suara terompet bergema di seluruh istana, semua rakyat yang menyaksikan bersorak-sorai menambah keramaian di istana...
Raja Iga dan Ratu Islani telah duduk di singgasananya menyambut kedatangan Putri Mahkota. Sementara pangeran Eza dia telah berdiri di sana menunggu kedatangan Rania...
Putri Mahkota turun dari keretanya sambil membawa karangan bunga lily di tangannya, dia tampak cantik dengan gaun merah putih serta Mahkota emas di kepalanya. Semua mata tertuju akan kecantikan Rania, tidak terkecuali pangeran Eddar yang diam-diam mencuri pandang...
"Wanita ini, terlalu cantik untuk Eza" batin Pangeran Eddar
Satria, Madit, Bening dan Krinton juga tidak melewatkan kesempatan untuk melihat Rania dari balik kerumunan di sana sambil bersiap untuk menyerang...
"Kakak, aku akan menyalamatkanmu" batin Satria
Rania berjalan mendekati pangeran Eza yang tengah berdiri di altar pernikahan, raut kebahagiaan menghiasi wajah Eza. Bagaimana tidak, wanita yang selama ini dia cintai akhirnya bisa dia miliki selamanya...
Eza mengulurkan tangannya sembari membantu Rania menaiki altar pernikahan. Raut wajah Rania membuat Eza terkejut saat melihatnya...
Tidak ada senyuman ataupun rasa bahagia sedikitpun di wajahnya, Rania hanya berdiri di hadapan Eza seperti mayat hidup yang siap membunuh siapa pun...
Eza sadar, bahwa cintanya selama ini tidak bisa meluluhkan gunung es yang telah membatu ini...
"Jangan khawatir, sampai akhir aku akan selalu mendukung semua keputusanmu" bisik Eza sambil memegang tangan Rania dengan kedua tangannya
Mendengar ucapan Eza membuat Rania terkejut, dia menjadi tidak ragu lagi dan langsung menebas tubuh Eza dengan pedang yang telah dia sembunyikan di balik bunga lily itu...
__ADS_1
SLASH
Bunga lily putih itu kini berubah menjadi merah karena percikan darah dari Pangeran Eza, semua sorak-sorai itu berubah menjadi jeritan...