
*Di tepi sungai
Satria terus mencari Rania sampai di tepi sungai dia melihat Rania di sana dan spontan membuatnya lari dan memeluk Rania...
Kakak, kau dimana, aku, aku menyesal...
"Hahaha, jadi kalian pernah menyukai wanita yang sama dan pada akhirnya tidak ada satupun diantara kalian yang mendapatkannya" ucap Rania sambil tertawa bersama yang lainnya
"Kakak!" teriak Satria sambil berlari ke arah Rania
"Eh, kau" ucap Rania terkejut
"Kakak, maafkan aku, huhuhu" ucap Satria sambil memeluk Rania dan menangis di bahunya
"Kau, kau memanggilku kakak" ucap Rania
"Iya, kakak maafkan aku, kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal kak, kenapa?" tanya Satria
"Jadi kau sudah tahu semuanya y, sebenarnya aku datang ke sini hanya untuk melihatmu saja, tapi saat aku bersamamu, aku jadi bersikap egois dan aku ingin kau memperlakukanku seperti kau memperlakukan Madit" ucap Rania
"Maafkan aku y Satria" ucap Rania
"Tidak kak, aku yang seharusnya minta maaf, maafkan aku karena telah menyakitimu, maafkan aku untuk segalanya, huhuhu" ucap Satria sambil menangis
"Sudahlah, jangan menagis lagi, kau ini seorang pria dan pria tidak boleh menangis apa lagi di depan orang banyak begini" ucap Rania sambil memeluk Satria
"Baiklah, ayo sekarang kita pulang, aku lapar" ucap Rania
"Kakak, kau tidak jadi pergi?" tanya Satria
"Eh, siapa yang mau pergi" jawab Rania
__ADS_1
"Tapi tadi Bening bilang kau sudah pergi" ucap Satria
"Hahaha, aku rasa Bening telah menipumu" ucap Rania
"Jadi, kakak apa sekarang kita bisa.. " ucap Satria
"Sejak dulu sampai saat ini kau tetaplah adikku, adik yang sangat aku sayangi dan tidak akan pernah berubah" ucap Rania
"Kakak, Terima kasih" ucap Satria sambil menundukkan kepalanya
"Hei, sudahlah ayo kita pulang sekarang" ucap Rania sambil menarik tangan Satria
"Tidak putri, kau tidak boleh memaafkannya begitu saja" ucap Kua sambil menghadang jalan Rania dan Satria
"Maafkan aku kak Kua, aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan selama ini, ku mohon maafkan aku karena telah mengecewamu" ucap Satria
"Cih, aku tidak akan termakan sandiwaramu" ucap Kua
"Hei, teman sudahlah, putri sudah setuju jadi sebaiknya kita sudahi saja, lagi pula aku juga lapar ayo pulang dan makan" ucap Amuto sambil memukul pelan bahu Kua
"Aku lapar, ayo pulang" ucap Krinton sambil jalan
"Dasar kalian semua" ucap Kua
"Sudahlah Kua, ayo kita pulang, apa kau akan membiarkanku kelaparan begini" ucap Rania
"Hemz, baiklah demi putri, tapi aku akan terus mengawasimu" ucap Kua
*Di desa Ranum
"Bening, kenapa Runi masih di kamarnya?" tanya Madit
__ADS_1
"Memang ia" jawab Bening
"Jadi kau... " ucap Madit
"Iya benar, aku membohongi tuan, itu juga karena kesalahannya, siapa suruh dia menyakiti seorang wanita, jadi dia pantas mendapatkannya" sahut Bening
"Heheh, kau memang sangat hebat" ucap Madit
"Itu sudah pasti" ucap Bening sambil tersenyum
*Di tengah jalan
"Sebelum kita akan membuat ikatan, aku bahkan tidak tau nama asli kalian siapa" ucap Rania
"Namaku memang Krinton putri" ucap Krinton
"Aku, sebenarnya Amuto itu adalah nama yang aku karang sendiri putri, karena aku memang tidak memiliki nama" ucap Amuto
"Kenapa kau tidak memiliki nama? " tanya Satria
"Itu karena sejak aku kecil aku terus ikut dengan majikan-majikan yang menganggapku sebagai hewan peliharaan saja" jawab Amuto
"Hemz, baiklah bagaimana kalau aku memberimu nama Tobi" ucap Rania
"Putri itu nama yang bagus" ucap Kua
"Iya putri, Terima kasih, aku akan menerimanya" ucap Amuto
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kau adalah Tobi" ucap Rania
"Iya, Tobi" sahut Satria
__ADS_1
"Sekali lagi Terima kasih putri, kau bukan hanya menerimaku tapi kau bahkan memperlakukanku dengan baik" ucap Tobi
"Jangan bicara seperti itu, mulai sekarang kita adalah keluarga dan keluarga tidak boleh sungkan begitu" ucap Rania