Keturunan Raja

Keturunan Raja
Takdir Satria


__ADS_3

Anak panah itu terus menghujani mereka bertiga, Madit yang dengan sigap mengambil pedang kini sedang menangkis semua anak panah tersebut, sementara Bening dia terus melindungi Satria...


"Kakak!" teriak Satria


"Sial! sepertinya kita sudah terjebak!" ucap Madit sambil menangkis anak panah dengan pedangnya



Arperia


Bening mengeluarkan kekuatan pelindungnya, dengan cepat air-air itu menjadi perisai yang menyelimuti tubuh Satria dan Bening...


Melihat situasi yang begitu mencekam membuat Madit pun tak tahan dan akhirnya berubah wujud...


SWOSH


Madit berubah menjadi seeokor burung Raja dan menghempas seluruh anak panah itu keluar, kedai yang tadinya bagus kini hancur oleh kibasan sayap Madit...


Seluruh anak panah itu berhenti dan keadaanpun menjadi sunyi...


Melihat keadaan yang sudah aman membuat Madit kembali ke wujud manusianya, Bening pun melepaskan perisai pelindungnya...


"Apakah sudah berakhir" batin Madit


"Mereka berhenti" ucap Bening


"Kakak! Apa kau terluka?" tanya Satria sambil berjalan ke arah Madit


"Aku baik-baik saja" jawab Madit


"Keluar kalian, jangan jadi pengecut" teriak Satria


TOK


Madit memukul kepala Satria dan mulai memarahinya...


"Aarggh!"

__ADS_1


"Dasar bodoh, kenapa kau berteriak begitu?" tanya Madit


"Kakak, aku hanya ingin melihat musuh kita saja, lagi pula siapa suruh mereka main petak umpet begini, jika mereka ingin menghabisi kita setidaknya mereka harus melawan sambil menatap mata kita" jawab Satria sambil mengelus-elus kepalanya


"Apa yang dikatakan tuan itu benar kak, seharusnya mereka menampakan diri mereka dan bukan jadi pengecut begini" sahut Bening


"Hey, siapa yang kau sebut kakak? aku bukan kakak mu" ucap Madit


"Cih, dasar orang jahat" gumam Bening


Mendengar perkataan Bening membuat Madit marah, wajahnya memerah dan matanya menatap Bening dengan agresif...


Mereka berdua saling beradu argumen, dan Satria berusaha untuk mendamaikan mereka...


"Apa yang kau katakan?" tanya Madit


"Kenapa? Kau tidak suka?" sahut Bening


"Cih, dasar wanita tidak tahu aturan" ucap Madit


"Apa?"


"Cukup!" teriak Satria "Kita itu satu tim, kita satu hati dan satu jiwa saat ini, jika kalian seperti ini bagaimana kita bisa menyakutan kekuatan kita" ucap Satria


Mendengar ucapan Satria membuat Madit dan Bening berhenti bertengkar, mereka langsung terdiam dan merasa bersalah, seharusnya mereka tidak bertengkar, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur...


Suasana seketika menjadi hening, Satria yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan langsung membuka pembicaraan...


"Sudahlah, sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan" ucap Satria sambil menarik tangan Madit dan Bening


Saat Satria, Bening dan Madit ingin melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seorang pria paruh baya menghentikan langkah mereka...


"Tuan! Nona! Jangan pergi! ucap pria itu


"Ini! Tuan tidak aman kita harus pergi!" ucap Bening


"Tunggu Bening! Aku rasa mereka tidak punya niat jahat!" ucap Satria sambil melepaskan genggamannya

__ADS_1


Bening sedikit kesal dengan prilaku Satria yang lebih memilih orang lain dari pada dirinya...


"Tapi tuan ini...!" ucap Bening sambil mengerutkan alis


Satria lalu berjalan mendekati pria paruh baya itu...


"Kau siapa? kenapa tiba-tiba muncul dan apa kau juga yang menyerang kami?" tanya Satria


SREK


Tiba-tiba datang beberapa orang yang keluar dari balik semak dan pepohonan di sekitar tempat itu. Satria terkejut, sementara Madit dan Bening yang melihat mereka langsung lompat ke depan Satria untuk melindunginya...


"Maafkan kami tuan, kami pikir kalian adalah para pemburu itu, tapi saat melihat burung raja dan sang dewi kami sadar bahwa kalian adalah para kesatria dalam ramalan yang di kirimkan dewa untuk melindungi kami semua" ucap warga desa


"Ramalan? Sepertinya kalian salah orang" tegas Madit


"Tapi, tuan kau adalah hewan suci dalam ramalan dan nona ini dia adalah sang dewi Bening dan pria ini dia pasti sang Kesatria yang akan menjadi Raja dari semua raja" ucap kepala desa


Mendengar ucapan para warga membuat Satria merasa bingung dan terdiam...


"Maaf mengecewakanmu Pak, tapi kami bukan orang yang kau maksud, menyingkirlah" ucap Madit sambil menarik Satria pergi


"Tunggu, saya mohon tuan tolong lindungi semua warga desa ini, kami sudah cukup menderita dengan semua siksaan yang di berikan oleh para pemburu kejam itu" ucap kepala desa sambil memegang kaki Madit


Madit yang tidak bisa menerima permintaan kepala desa langsung mendorongnya hingga terjatuh ke tanah. Sementara Satria yang melihat perlakuan kakaknya langsung marah...


"Aku sudah bilang kami bukan orang yang kau maksud jadi enyahlah" ucap Madit dengan nada marah


"Cukup! Aku selalu menghormatimu bahkan aku selalu mengikuti semua perintahmu, tapi hari ini kau sungguh keterlaluan Kakak, kau mengecewakanku" ucap Satria sambil melepaskan tangannya dari genggaman Madit


"Kita tidak bisa terlibat, itu terlalu berbahaya dan lagi pula kekuatan kita bertiga belum stabil" ucap Madit


"Kakak selalu bilang padaku, sebelum menjadi seorang raja yang harus kau lakukan lebih terlebih dahulu adalah membuat rakyatmu merasa terlindungi. Jadi apakah tindakanku saat ini salah kakak?" tanya Satria


Madit langsung terdiam mendengar perkataan Satria, dia hanya bisa mengikuti apa yang Satria inginkan saat ini...


"Mungkin ini memang takdirku kakak" ucap Satria

__ADS_1


__ADS_2