
...***...
Pertarungan mereka saat itu masih panas, apa lagi saat Abare Blue sangat setuju dengan apa yang dikatakan Gokaiger yang telah menggunakan kekuatan sentainya.
"Aba red!." Aba Red rolling seperti Raiga, Aba Red yang sungguhan.
"Abare blue!." Abare Blue yang sungguhan, yaitunya Yukito seperti biasanya.
"Abare yellow!." Abare Yellow juga ikutan seperti Ranru yang asli.
"Abare black!." Ini agak lain ya pembaca tercinta. Hase atau Gokai Green ini dengan gaya uniknya.
"Daino guts!. Bakuryuu sentai!. Abarenja!."
Dengan semangat yang membara mereka melakukannya, seakan-akan mereka adalah sentai yang sungguhan.
"Oke, sepertinya ini menarik. Dan aku merasa seperti nostalgia bersama sentai ku." Abare Blue sepertinya tidak keberatan, setelah berucap demikian ia memasuki mode liar.
"Terima kasih karena telah memberikan kami kesempatan untuk merasakan ini, senpai." Abare Yellow menepuk pundak Abare Blue.
Setelah itu mereka benar-benar menyerang gangler dan zankyack yang ikut bergabung dalam pertarungan itu.
"Keren juga seperti itu ya." Deka Break yang melihat itu mau tak mau mengakui kekaguman apa yang dilihatnya, sungguh kompak untuk sebuah Sentai dari beda aliran. Asalkan jangan aliran sesat aja sih sebenernya, ya kan?.
"Gokaija kah?. Jadi mereka menggunakan renja ki seperti itu?" Ucap Deka Red sambil melawan Gangler yang lumayan kuat. Rasanya ia enggan mengakui kalau Gokaiger itu sentai yang unik.
"Meraka benar-benar sangat keren red." Yellow malah kagum melihat bagaimana mereka bertarung.
__ADS_1
"Fokuslah pada musuhmu yellow." Yang merespon malah Lupin Blue.
Lupin Yellow mencoba mendekati Abare Yellow yang sedang menyerang, ia sangat penasaran sekali dengan Gokai Yellow?. Abare Yellow?. Yang mana sebenarnya?.
"Apa kami juga bisa menggunakan renja ki milik senpai?." Lupin Yellow penasaran bagaimana rasanya menggunakan Renja ki dan bertarung menggunakan kekuatan Renja yang lain.
"Hemm." Abare Yellow mengusap sayang kepala Lupin Yellow. "Kalau kau ingin menggunakan renja ki, kau harus menjadi kru gokaiger, dan menggunakan gokai seluler untuk chienji." Balas Abare Yellow dengan nada bersahabat sambil menunjukkan Gokai selulernya. "Jika kau tidak memiliki ini, dan ini, maka kau tidak akan bisa. Sayang sekali, iero." Setelah berkata seperti itu ia terbang menyerang salah satu Gangler.
"He?. Jadi aku harus menjadi kru gokaiger dulu?. Lalu bagaimana dengan Red dan blue?. Mereka akan kesepian jika tidak ada kau nantinya." Ucapnya dengan sedihnya. "Apa jadinya jika aku bergabung dengan gokaiger?." Dalam hatinya sedang membayangkan itu terjadi. "Tapi kalau aku berubah jadi gokaija?. Aku pakai warna apa?. Kuning sudah ada." Ia malah terduduk sambil memikirkan iru?. Memikirkan itu membuatnya pusing sendiri, sementara ia harus pokus melawan Gangler yang mengganas.
Apakah yang akan terjadi saat itu?. Kita tinggalkan mereka dulu. Mari kita lihat bagaimana kapten kita Captain Marvelous.
Galleon.
Marvelous tertatih memasuki Galleon, rasanya ia sedikit kelelahan akibat pertarungan tadi. Dengan langkah yang tegar Marvelous memasuki kamar Ahim. Marvelous masih melihat Ahim yang masih terbujur kaku di tempat tidurnya, tetapi mengenakan pakaian yang indah. Marvelous sengaja menggunakan gaun Pink yang cantik, agar ketika Ahim bangun nanti, ia terlihat mempesona, dan mata Marvelous bersumpah tidak akan melirik wanita lain, meski Luka sekalipun.
"Kau sudah menunggu terlalu lama ya?. Ahim?." Ia elus tangan Ahim dengan lembut, dan ia kecup dengan kecupan ringan tangan Ahim yang terasa dingin. "Tanganmu sangat dingin sekali." Ucapnya dengan bibir bergetar sambil menahan perasaan sakit, sesak, dan pedih. "Kau akan segera kembali di sisiku hime." Ucapnya dengan lembut, ia tersenyum bahagia saat membayangkan sebentar lagi Ahim kembali untuknya. Perasaannya saat itu benar-benar bercampur aduk tidak menentu.
Ya!. Ahim akan segera kembali padanya. Tak mau membuang waktu Marvelous menggendong Ahim yang saat ini menjadi mayat, ia membawa Ahim menuju kamarnya yang terdapat jendela yang dapat dimasuki oleh sinar bulan Purnama.
Mayat?. Rasanya sangat miris menyebutnya, hatinya semakin sakit membayangkan itu semua. Marvelous meletakkan Red Diamond digenggaman Ahim. Marvelous mundur beberapa langkah, ia melihat tubuh Ahim disirami oleh cahaya Bulan Purnama yang indah. Apakah hanya dengan itu saja?. Ya, tidak. Ia meletakkan beberapa Renja ki sentai pink terdahulu agar memberikan kekuatan pada Ahim.
Akan tetapi saat itu matanya menatap Ahim dengan tatapan penuh kekagamun. Sangat indah untuk dilihat, dimandikan cahaya dengan penuh cinta. Ia beruntung karena hanya dirinya yang melihat keindahan Ahim malam ini yang disinari cahaya purnama.
"Hime, cepatlah bangun." Dalam hatinya sangat berharap jika Ahim akan segera bangun dengan bantuan Red Diamond yang bercahaya merah, dan pink dari renja ki. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
Beberapa menit berlalu cahaya itu mulai memudar, seakan-akan masuk ke dalam tubuh Ahim, membawa kembali roh yang telah hilang, dan beberapa detik kemudian mata Ahim berkedip.
__ADS_1
Deg!.
Marvelous terpaku sesaat, saat itu ia seperti sedang dipaksa terbangun dari mimpi buruknya, dan kini berganti dengan mimpi yang sangat indah. Marvelous memeluk tubuh Ahim dengan eratnya.
"Hime!." Marvelous hampir saja tidak bisa menahan dirinya saat itu.
"Marvelous san?." Ahim merasa sulit bernapas karena begitu eratnya pelukan Marvelous padanya. "Ada apa marvelous san?." Ia merasa heran kenapa Marvelous memeluknya begitu erat, tidak biasanya Marvelous bersikap seperti ini padanya.
"Okaeri nasai (selamat datang kembali). Hime." Bisik Marvelous dengan lembut dari hatinya yang paling dalam. Ia masih memeluk Ahim, seakan ia tidak ingin kehilangan Ahim untuk yang kedua kalinya. "Kenapa kau pergi meninggalkan aku tanpa seizinku?. Hime?." Pertanyaan itu seakan-akan sedang tercekat di tenggorokannya. "Cukup sekali saja kau pergi dariku. Aku tidak akan membiarkan kau pergi dariku dengan cara seperti itu lagi." Dalam hatinya berjanji pada dirinya, Berjanji tidak akan membiarkan Ahim pergi meninggalkannya. Ia bersumpah akan selalu menjaga Ahim dengan tangannya meski ia tau Ahim adalah wanita yang kuat, tapi tetap saja, ia akan melindungi Ahim dengan cara apapun.
"Marvelous san?. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau lakuakn." Ahim merasa hangat dengan ucapan Marvelous meski ia tidak tau apa yang terjadi, ia hanya diam dalam pelukan Marvelous. "Apa yang terjadi padamu marvelous san?. Kenapa tiba-tiba saja-." Ahim dapat merasakan detak jantung Marvelous yang berdebar-debar seperti habis berlari.
"Biarkan seperti ini sebentar saja." Bisik Marvelous dengan lembut, ia ingin memeluk Ahim saat ini. "Biarkan aku merasakan kehadiranmu kembali, hime." Rasanya ia tidak ingin melepaskan Ahim dari pelukannya walau sebentar saja, rasa kehilangan walaupun sebentar ternyata itu menyakitkan. "Kau baru saja kembali. Aku tahu kau akan kebingungan dengan apa yang aku lakukan." Ucapnya, apalagi jika Ahim pergi untuk selama-lamanya, ia tidak bisa membayangkan jika Ahim tidak berdiri disampingnya lagi.
"Em. Baiklah." Ahim memahami apa yang dikatakan Marvelous. Saat itu ingatannya kembali ketika bagaimana ia dibunuh saat itu. "Tapi arigatou marvelous san. Karena kau telah membangunkan aku." Dengan suara yang ramah ia berkata seperti itu.
"Um." Marvelous hanya merespon seperti itu sambil memeluk erat Ahim dalam pelukannya.
"Maafkan aku, jika aku telah membuatmu terluka." Ia dapat merasakan ada bau amis yang mungkin itu adalah luka yang diterima Marvelous.
"Tidak apa-apa, asalkan itu dapat membangunkan mu dari mimpi panjang." Balas Marvelous. Saat itu ia sedang menahan dirinya agar tidak terlihat lemah.
"Marvelous san." Ahim tidak menyangka akan mendengarkan ucapan seperti itu dari Marvelous.
Perasaan sungguh tidak bisa dibohongi begitu saja pada orang yang sangat kau cintai. Kau akan melakukan apapun demi bersama dirinya, bahkan jika melawan takdir. Mungkin saja itu adalah ujian untukmu, menguji seberapa besar rasa cintamu padanya.
Next.
__ADS_1
...***...