
...***...
Saat itu cerita mereka masih berlanjut, dan mereka masih duduk di sana sambil mendengarkan keluhan Sentai yang lainnya.
"Um kau sudah berbuat sangat baik senpai, sedangkan aku?. Agri, Hyde, mine dan Eiri?." Arata mengingat bagaimana kelakuan mereka semua. "Mereka selalu mengandalkan aku jika ingin sesuatu."
"Misalnya?." Mereka malah penasaran dengan cerita yang dilalui Arata.
"Arata kau ada perlu keluarkan?. Jangan lupa titip ini sekalian. Arata kebetulan kau mau keluar, aku titip ini ya?. Arata, arata kau mau keluarkan?. Aku titip ini." Matanya sampai berputar-putar ketika ia menceritakan itu, membuat mereka semua merasa simpati padanya. "Mereka setiap harinya seperti itu, apakah aku terlalu lembek menghadapi mereka senpai?. Sehingga dengan sangat mudahnya ia dimanfaatkan oleh mereka semua." Arata juga mengeluarkan isi hatinya, ia seperti leader yang lemah.
"Hum." Ban nampak berpikir sejenak mendengarkan curhatan adek-adeknya alias juniornya, juga seniornya Kakeru. "Baik itu juga ada batasnya."
Mereka semua melihat ke arah Ban yang dengan sangat santainya berkata seperti itu. "Tapi memanfaatkan teman hingga jadi seperti budak itu tidak baik. Karena team sebenarnya bukan hanya sekedar saling membantu saja, tapi jangan sampai membebani leadernya!." Dengan penuh semangat.
"Dia ini polisi yang penuh semangat." Dalam mereka sedikit takut dengan semangat membara dari Akaza Banban.
"Lalu bagaimana solusi yang baik untuk mengatasi itu ban senpai?. Rasanya aku sangat takut sekali." Arata terlihat sangat frustasi.
"Bagaimana kalau memberikan pelatihan yang sangat keras?."
"Suara yang keras?."
"Tegas?."
"Bagaimana kalau memberikan ujian yang berat bagi mereka supaya bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang paling diandalkan?."
Mereka semua melihat ke arah Yamato yang terlihat terpukul dengan apa yang telah menimpa dirinya.
"Aku rasa kalian sudah tepat, hanya perlu semangat saja." Ucap Ban berusaha menghibur mereka.
__ADS_1
"Hahaha!. Kau ini semangat sekali ban chan." Kakeru hanya bisa tertawa saja.
"Tidak!. Semangat tidak cukup jika tidak dibarengi jiwa petualang." Akashi tak kalah semangatnya. "Bouken, kami menyebutnya, meski terkadang kepercayaan hilang di saat kau mengalami kesulitan bukan berarti semangat bouken hilang." Akashi juga mulai bersuara.
"Jiwa bouken?." Serentak mereka bertanya seperti itu. Bahkan Yousuke, King, Takeru, dan Kakeru pun heran dengan itu.
"Coba jelaskan sempai." Koh merasa sangat penasaran.
"Maksudku, jiwa adrenalin akan muncul saat menyelesaikan masalah dengan sentainya." Jawabnya dengan penuh percaya diri. "Misalnya saat aku tidak didengarkan oleh sentai ku, maka coba rasakan pada mereka dengan mengatakan-." Saat itu ia merasakan bara api yang sangat membara.
Sedangkan mereka semua dengan penuh kesabaran mendengarkan itu. Mereka juga merasakan bara api seorang bouken atau petualangan yang sedang bersemangat.
"Coba saja kau jadi aku?!. Maka kau tidak akan seperti itu!. Cobalah buka hatimu dengan seluas-luasnya!. Supaya kau dapat menjaga hal yang penting!. Yaitunya saling percaya dan memahami satu sama lain!." Lanjutnya lagi dengan penuh percaya diri seakan ia tidak punya masalah dengan sentainya.
Mereka semua benar-benar sangat kagum dengan apa yang telah dikatakan oleh Akashi. Mereka belum memikirkan itu.
"Apakah aku bisa menetapkan cara seperti itu pada mereka?." Arata merasa termotivasi.
"Aku rasa memang berat sih jika aku melakukan itu pada ammy dan yang lainnya." Dalam hati King juga ragu.
"Apapun caranya aku harus mencobanya." Dalam hati Yamato mencoba memikirkan cara yang tepat untuk menerapkan itu.
"Hwah!. Luar biasa sekali akashi." Kakeru, Youskue, dan Ban sangat kagum.
"Ternyata kuat juga hatimu akashi sebagai leader." Ban benar-benar memuji kehebatan Akashi. "Ini bukan Akashi yang di Kuroko No basket yang bisa mengendalikan teamnya lewat tatapan mata, kan?."
"Eh?."
Sejenak mereka semua malah terkejut dengan ucapan yang diluar nalar, dan tidak mereka ketahui sama sekali bagaimana Akashi yang itu.
__ADS_1
"Lupakan." Ban juga bingung dengan ucapannya.
"Jadi?. Dengan kata lain?. Senpai tidak ada keluhan sama sekali?." Tanya Koh penasaran, ia begitu kagum dengan sikap dewasa Akashi dalam menghadapi masalah sentainya.
"Sudah aku katakan bukan?. Sentai itu bouken, jadi?. Seberapa besar masalah sentai, kau akan merasakan sensasi petualangan saat itu juga." Jawab Akashi dengan tegas. "Bagiku sentai itu Bouken yang memacu adrenalin, seberapa kuatnya kau untuk bertahan dalam memimpin team mu. Seperti memberi perintah?. Apakah mereka akan menuruti perintahku sebagai ketua atau tidak. Itu adalah perintah dari ketua, jadi kalian tidak boleh menolaknya." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu. "Mere da (perintah)." Itulah yang ia katakan, dan ia ingat ketika ia membakar boneka milik Natsuki sebagai perintah. Natsuki sangat membencinya, namun dibalik itu ia memiliki rencana dan akhirnya kepercayaan kembali saat itu juga.
Entah kenapa pada saat itu mereka semua dapat melihat bayangan yang sedang dikhayalkan oleh Akashi saat itu.
"Jadi bagi akashi sentai itu bouken dalam perintah dan kepercayaan?." Dalam hati Yousuke malah berpikiran seperti itu.
"Sudah aku duga, itu adalah mata emperor yang dapat mengendalikan orang lain dengan kata perintah. Akashi ini wujud dari akashi yang itu dalam masalah lain." Ban malah berpikiran seperti itu?. "Jika anak kedua ku lahir nanti adalah laki-laki. Maka aku akan memberikan nama akaza akashi!. Biar anakku juga bisa menaklukkan dunia dengan kata perintah!." Dengan semangat yang membara ia berkata seperti itu.
"Wah!. Bukan seperti itu juga konsepnya ban chan." Kakeru sangat prihatin pada sikap Ban.
"Bukan seperti itu cara berpikirnya ban." Bahkan Akashi sendiri bingung dengan cara pemikiran Ban.
"Kau ini sangat aneh sekali ban. Bukan seperti itu juga." Dalam hati Yosuke sangat bingung. "Nama memang memiliki arti yang sangat dalam, tapi tidak semuanya akan seperti itu." Setidaknya itulah yang ia pikirkan saat itu.
"Abaikan saja. Kita lanjutkan." King mencoba mengabaikan sikap aneh Ban. "Rasanya aku malah pusing dengan ucapannya." Ia bahkan sampai menghela nafasnya saking lelahnya dengan apa yang telah dikatakan Ban.
"Jangan sembarangan menularkan pikiran sesat itu ban-san." Takeru menatap aneh.
"Tega sekali kalian berkata seperti itu." Ban sedikit kecewa. "Aku hanya menginginkan yang terbaik saja." Hanya itu harapannya.
"Baiklah. Kami mengerti maksudnya ban chan." Ucap Arata.
"Memangnya selanjutnya kita akan membahas apa?."
"Kita bahas yang berbeda sedikit."
__ADS_1
Mereka sedang memikirkan pembicaraan apa selanjutnya. Loh?. Apakah masih ada yang ingin mereka bahas?. Ya, namanya juga mencari referensi, mana tahu ada pengalaman baru saat mendengarkan curhatan senior dan juniornya tentang masalah sentai, jadi ia akan mudah mengatasinya.
...***...