KISAH ACAK SUPER SENTAI

KISAH ACAK SUPER SENTAI
CURHAT SIH?.


__ADS_3

...***...


Lanjut terus ceritanya sampai mereka semua bosan dengan apa yang menjadi keluhan mereka selama ini.


"Enaknya, kalau aku sih pernah bertengkar terus dengan kouta karena menentukan siapa leadernya." Kini Yousuke yang mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan kala itu.


"Bertengkar siapa yang menjadi ketua?." Mereka semua menyimak dengan baik ucapan Yousuke.


"Untung saja aku tidak seperti itu." Takeru masih ingat bagaimana Ryuunosuke yang selalu memanggilnya tuan, tuan, dan tuan setiap harinya.


"Kalau aku sih?. Gak bakalan deh. Sebab sudah jelas bahwa mereka tidak ingin repot karena menjadi ketua." Arata merasa miris dengan kenyataan pahit itu.


"Banyaklah bersabar senpai. Sebab aku dapat merasakannya." Yamato menguatkan hati Arata.


"Ya. Memang sulit sih jika itu sampai terjadi." Kakeru masih ingat bagaimana caranya menghadapi mereka yang sangat sulit untuk diajak bekerjasama. "Tugas sebagai ketua itu memang sangat berat. Tapi kenapa kau malah sampai berebut posisi sebagai ketua yousuke?." Kakeru penasaran.


"Benar itu yousuke senpai. Apakah kau merasa menjadi ketua itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa?." King yang biasanya memiliki segudang semangat membara?. Hari ini malah bertanya?.


"Menjadi ketua itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa." Ia mengacungkan jempolnya. "Hanya saja, aku jadi seperti orang bodoh karena itu." Hatinya sedikit sedih. "Kouta, dia memang kuat tapi dia juga baik, begitu juga dengan dua saudara kasumi. Namun mereka sulit untuk berteman, butuh waktu lama akhirnya kami berteman." Suasana hatinya sendiri murung mengingat apa saja yang telah ia lalui saat itu.


"Apakah separah itu?." Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran mereka ketika mendengarkan cerita itu.


"Saat itu aku hampir putus asa. Apalagi identitas shurikenja tidak diketahui sama sekali, membuatku makin pusing senpai, kouhai sekalian." Youskue mengingat gimana sulitnya ia selama ini menjadi leader di Sentainya.


"He?. Malah ngegas?." King, Arata, Koh, dan Yamato malah terkejut melihat itu.


"Tenangkan dirimu yousuke-san. Jiwa ninja mu sangat lemah jika kau kehilangan kendali."


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika seperti itu sikap mereka padaku?. Rasanya aku hampir saja menyerah."


"Ayolah yousuke. Tenang sedikit, jangan sampai kau kehilangan ketenangan." Bahkan Kakeru memberikan ucapan seperti itu.


"Hufh!. Aku rasa itu masih ringan youskue-san." Yamato juga ikut bersuara, bahkan ia terlihat paling menderita di sana.


"Ringan?. Katanya?. Apa dia mengalami masalah yang berat?." Begitulah dalam benak mereka semua.


"Memangnya ada apa yamato?. Apakah kau mengalami masalah yang sangat berat?. Bahkan lebih berat dari masalah yousuke senpai?." Tanya King kepo, soalnya raut wajah Yamato kusut gitu.


"Soal itu." Yamato melihat ke arah mereka semua yang menunggu jawaban darinya.


"Um. Kau terlihat sangat lelah, dan bahkan sangat kurus." Sambut Ban, ia merasa prihatin saat melihat ekspresi sedih Yamato, apakah ia melewati masa-masa sulit di sentainya?.


"Diam lah sebentar ban chan. Jangan membuat suasana hatinya semakin sedih." Kakeru menasihati Ban

__ADS_1


"Eh?." Ban terkejut dengan ucapan itu.


"Benar itu ban senpai. Jangan buat suasana menjadi semakin sedih." Arata juga ikutan.


"Eh?."


"Ban. Lihat situasi juga sangat penting." Akashi juga?.


"Baiklah." Ban mencoba untuk mengalah.


"Sip!." Mereka semua mengacungkan jempol ke arah Ban.


"Rasanya harga diriku sebagai seorang pak polisi telah hilang." Dalam hati Ban merasa sangat terpukul.


"Lalu bagaimana dengan lanjutannya?." Koh sangat penasaran.


...


"Seperti yang diketahui, diantara lima pahlawan yang melindungi bumi aku satu-satunya manusia yang bergabung dengan zyuman." Yamato memulai sesi curhat, ada jeda sedikit karena ia bingung mau menjelaskan dari mana....


"Zyuman?." Koh terkejut.


"Kok bisa seperti itu ya?. Apa karena itulah sentai mereka bernama Doubutsu Sentai Juuoja?. Bisa jadi begitu?. Tapi jika doubutsu." Dalam hati mereka mencerna apa yang dikatakan oleh Yamato.


"Ke-kenapa kalian malah melihat aku seperti itu?." Kakeru merasa tidak enak sama sekali dengan tatapan mereka yang melihat seperti itu padanya. "Apakah aku terlihat aneh?." Ia sangat gugup di tatap serpti itu oleh mereka.


"Seperti apa yang kau maksudkan ban?. Jangan berpikiran yang aneh-aneh!." Kakeru hampir saja emosi. "Aku ini memang manusia, dan anggota sentai ku yang lainnya juga manusia!. Kami hanya meminjam kekuatan hewan untuk membunuh org yang jahat!." Ia sampai emosi seperti itu, dan bahkan menggeplak kepala Ban dengan sangat kuat.


"Sakit!. Berani sekali kau menganiaya seorang polisi!. Senpai singa yang jahat!." Ban tidak terima begitu saja jika kepalanya dihajar seseorang. Hingga terjadi pertengkaran kecil antara mereka.


"Aku akan mencopot kepalamu dengan kepala banteng jika perlu!. Supaya kau mengerti!."


"Mana mungkin kau bisa melakukan itu!."


"Tentu saja aku bisa melakukan itu dengan bantuan hyakujuu hewan yang memiliki spirit earth yang membenci polisi bego seperti kau!."


"Sepertinya mereka berdebat habis-habisan. Jadi abaikan saja." Akashi seolah-olah tidak peduli dengan perdebatan Kakeru dan Ban yang sama-sama ngotot.


"Baiklah. Kalau begitu lanjutkan yamato. Kami masih penasaran dengan lanjutnya." King juga tidak mau ambil pusing.


"Um." Yamato menganggukkan kepalanya tanda setuju akan melanjutkan ceritanya.


..."Shela, dia gadis yang baik. Tapi kadang dia selalu menjaga harga dirinya. Tapi kadang bisa seriusan, kadang bisa bandel, suka main air." Yamato melanjutkan ceritanya. "Leo, suaranya keras. Sekeras kepalanya." Rasanya ia hampir saja menangis ketika menceritakan itu. "Dia tidak mau mendengarkan orang lain, karena dia merasa bisa. Tasku, dia suka membaca buku, dan kaku, sukar diberi peringatan." Perlahan-lahan air matanya menetes. "Sedangkan amu, dia sangat boros. Aku harus membelanjakannya tiap hari. Mengeluarkan uang setiap hari hanya demi memuaskan hasrat belanjanya yang berlebihan." Yamato mengingat gimana perangai Sentainya satu persatu....

__ADS_1


Mereka masih mendengarkan ucapan Yamato, mungkin masih ada yang ingin ia sampaikan. Mereka mencoba meresapi setiap kata yang diucapkan Yamato tentang sentainya.


"Saat itu aku benar-benar kesal karena mereka selalu saja bermain-main, bahkan saat bertarung mereka begitu meremehkan lawan." Ia ingin menangis. "Saking kesalnya bukan deathgalien yang aku pecut dengan iguru suwordo, tetapi sentaiku aku pecut dengan egle sword." Lanjut Yamato mengigat itu, kejadian yang membuatnya kesal tingkat dewa. Bahkan ia sampai menangis sambil mengatakan kekesalannya.


"He?. Ternyata kau ini menyeramkan juga." Dalam benak mereka merinding bagaimana membayangkan Yamato melakukan itu.


"Karena itulah aku terbang meninggalkan mereka, juga pertarungannya. Aku sudah tidak peduli lagi pada mereka." Ia mencoba menghapus air matanya.


"Yamato." Mereka benar-benar sangat simpati.


"Tapi saat itu aku tidak sengaja melihat benda merah melayang, aku tidak menyangka kalau itu adalah kishiryu." Yamato melihat ke arah Koh.


"Oh?. Itu tyramigo yang diterbangkan oleh yousuke senpai." Koh malah melihat ke arah Yousuke.


"Eh?. Aku yang menerbangkannya?." Yousuke sangat gugup karena mereka semua melihat ke arahnya.


"Jika bukan senpai yang datang dengan angin kencang?. Maka tyrami-chan tidak akan terbang senpai." King masih ingat dengan itu.


"Hooh. Benar itu. Kau ini jahat juta senpai."


"Eh?. Maaf kalau begitu." Yousuke merasa sangat bersalah.


"Tapi kau seram juga bisa melakukan itu yamato. Kalau aku sih malah dikeroyok balik sama mereka." Akashi juga bersuara.


"Tadi kau bilang semangat bouken dengan perintah!. Tapi kenapa sekarang malah berkata yang berbeda!." Ban dan Kakeru juga ikutan?.


"Eh?. Mungkin kalian salah dengar." Akashi malah menghindari itu.


"Dasar tidak punya pendirian!." Ban dan Kakeru malah kesal.


"Eh?." Yang lainnya hanya menghela nafas saja.


"Baiklah. Lanjutkan saja. Abaikan mereka." Kali ini Arata yang berkata seperti itu.


"Oke. Lanjutkan saja." Lanjut King sambil mengacungkan jempolnya.


"Lupakan saja perdebatan mereka senpai. Mari lanjut." Koh juga setuju dengan ucapan itu."


"Aku rasa hanya seperti itu saja sih masalahnya."


"Hanya serpti itu?." Mereka secara bersamaan bertanya.


"Ya." Yamato menatap mereka dengan perasaan yang sangat aneh.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2