KISAH ACAK SUPER SENTAI

KISAH ACAK SUPER SENTAI
CURHAT TERAKHIR


__ADS_3

...***...


Teruskan cerita kalian anak muda, karena kalian adalah pendongeng yang sangat handal. Karena begitu banyak cerita mereka yang ingin disampaikan dalam pertemuan itu.


"Lalu bagaimana denganmu ban?. Apakah kau memiliki keluhan juga sebagai seorang polisi?." Tanya Youskue penasaran dengan Ban. "Apalagi kami tadi melihatmu yang dipenuhi dengan amarah, kenapa dia bisa mengejar bouken retto, juga shinken retto tadi?."


"Iya juga ya?." Mereka malah melihat ke arah Akashi dan Takeru yang menghindari tatapan mereka padanya.


"Kalau soal itu?. Mereka telah merusak fasilitas umum, mereka ini tidak menggambarkan sentai yang sebenarnya pada masyarakat."


"Berani sekali kau berkata seperti itu!." Akashi dan Takeru tidak terima.


"Eh?."


Mereka terkejut juga dengan sikap yang mereka tunjukkan saat itu.


"Baiklah. Abaikan saja." King mencoba mengalihkan suasana tidak enak itu. "Lalu masalah sentai yang kau hadapi bagaimana pak polisi?."


"Hm. Kalau aku sih." Ban mencoba memikirkan bagaimana nasib dan kelakuan para anggotanya. "Si houji orangnya aneh bin gaib, ngomongnya pake bahasa amburadul, terkadang pake bahasa jepang, dan inggris bersamaan." Ia ingat betul bagaimana itu. "Jasmine dia seorang esper, jadi jangan coba-coba menyembunyikan sesuatu jika tidak ingin di kepo in sama dia. Bahkan aku sangat trauma padanya."


"Memangnya dia tahu rahasia apa tentangmu ban?." Kakeru penasaran.


"Po-pokoknya ada deh." Ban tampak sangat gugup.


"Lalu bagaimana dengan lainnya?." King masih penasaran.


"Sen-chan dia pintar, mikir sambil jungkir balik pun bisa."


"Mikir sambil jungkir balik?. Dia kelalawar kah?." Secara bersamaan mereka malah terkejut dengan apa yang telah mereka dengar saat itu.


"Ya memang seperti itu yang terjadi." Balas Ban.


"Benaran dah, pak pol emang beda."


"Hahaha!. Agak lain emang." King saja sampai melongo mendengarnya.


"Lalu bagaimana dengan si pingki?. Apakah dia aneh juga?." Kakeru malah bertanya seperti itu.


"Aku harap si pingki di sentai mu tidak aneh." Akashi sedikit merinding.


"Aku harap tidak seperti itu." Takeru juga berharap seperti itu. "Hanya saja si pingki merasa dirinya seperti seorang kakak. Aku malah diberi nasihat juga sama dia." Takeru masih ingat itu.


"Pingki ku agak lain sih." Dalam hati Arata sedikit cemas.


"Untung saja aku tidak memiliki pingki, melainkan putih dan biru yang sama-sama sulit dikendalikan." Dalam hati Yamato merasa bersyukur sih.

__ADS_1


"Ammy sih semangat aja, untung saja dia tidak aneh-aneh." Dalam hati King masih ingat dengan sikap Ammy.


"Asuna sih dia paling kuat. Bahkan nepuk orang aja gak ngotak. Dia mah paling kuat diantara kami." Dalam hati Koh masih ingat bagaimana Meruto yang terbang karena Asuna yang terlampau kuat. "Bagaimana dengan si pingki senpai?." Koh memberanikan diri untuk kuat.


"Umeko sih dia, kadang yang menganggap dirinya itu leader di sentai dekarenja."


"Si pingki mulai berulah." Dalam hati


"Bahkan aku tidak tau harus berbuat apa, memberi perintah jadi serba salah. Terutama si houji yang selalu berkata jangan memerintah ku!." Ban meniru gaya Houji. "Gitu katanya." keluh Ban, ia juga niat curhat setelah mendengarkan keluhan-keluhan junior dan seniornya, jadi tidak ada alasan berpura-pura baik mengenai sentainya. "Kadang aku merasa tertekan dengan mereka semua. Mereka itu seenaknya saja, tidak menghargai aku sebagai ketua sentai." Ban sampai pundung menceritakan itu.


"Bahkan polisipun punya keluhan ya?. Apalagi aku seorang ninja yang juga memiliki keluhan yang sangat luar biasa." Youskue merasakan nasib yang sama dengan Ban adeknya.


"Aku mengerti perasaanmu senpai." Takeru ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Ban.


"Kau memang polisi yang kuat senpai." King, ia tidak tau seberapa besar dan benarnya perintah polisi pada teman-temannya, tapi ia kagum Ban bisa bertahan sejauh itu.


"Begitu ya?. Berat juga ya, senpai?." Arata mengerti perasaan Ban, ia juga hampir sama dengan posisi Ban.


"Aku pikir aku saja yang memiliki keluhan terhadap masalah sentai." Kakeru hampir saja menyerah.


"Aku juga begitu. Tadinya aku yang memiliki masalah yang berat." Akashi juga mengeluh.


"Diam kau akashi senpai!. Tadi kau yang menunjukkan semangat bouken pada kami!." Protes Yamato dengan kesalnya.


"Diam kau akashi senpai!. Bouken mu tidak berpengaruh sama sekali padaku!." Ban kesal pada Akashi.


"Jangan mulai lagi." Mereka malah bosan mendengarkan pertengkaran mereka.


"Mereka malah bertengkar." Yosuke hanya menghela nafasnya merasa lelah dengan sikap mereka.


"Lalu bagaimana  bagaimana denganmu koh?." Arata mencoba mengabaikan Ban, Akashi, dan Yamato yang sedang berdebat. "Apakah kau memiliki masalah yang cukup berat untuk kau hadapi?." Pertanyaan Arata membuat Koh menjadi pusat perhatian yang lainnya.


"Ah!. Benar juga, bagaimana dengan sentai mu koh?." Kakeru, Arata, Takeru juga penasaran pendapat koh tentang sentai.


"Kami semua ingin mendengar pendapatmu koh chan." Ucap Kakeru tersenyum kecil, ia ingin mendengar keluhan dari Sentai muda ini.


"Katakan saja koh, mungkin kami bisa membantumu." Tambah Youskue dengan nada ramah, mungkin Sentai merah yang muda ini ada masalah juga demgan Sentainya,,,,


Entah kenapa ia merasa terharu dengan ucapan senior merahnya ini. Koh nampak berpikir sejenak, melirik ke arah tempat dimana teman-temannya menguping


"Ya ampun ternyata mereka malah curhat." Towa langsung ngumpet dibalik punggung kakaknya Bamba, ia tidak mau jadi bahan gosipan Koh.


"Yah?. Tadi aku kira tadi ada masalah serius. Siapa yang menduga malah mendengarkan curhatan mereka." Meruto tidak menyangka mereka malah curhat, dan koh dapat pertanyaan seperti itu?.


"Ini pertemuan macam apaan?. Malah mengadu masih." Asuna juga ikutan ngempet karena tidak ingin ketahuan menguping, begitu juga dengan Ui.

__ADS_1


"Awas saja kau koh, kalau kau berani menjelekkan kami. Akan kami hajar kau." Ucap Bamba dengan nafa berat sambil mengepal tinjunya. Aura hitam menyelimuti tubuhnya, ia tidak terima jika ia dijelekkan oleh Koh dihadapan Sentai merahnya.


"Nii-san, kau menyeramkan sekali." Towa merinding melihat ekspresi kakaknya saat ini, apa segitu takutnya perangainya disebut oleh Koh dihadapan seniornya. Entahlah, ia juga takut sebenarnya, bisa jadi senior merah marah sama mereka karena tidak patuh pada perintah leader?. "Tapi koh selama ini tidak pernah begitu, tidak memberi perintah, atau diperintah, bahkan dia sangat ceroboh, jika aku boleh jujur." Dalam hati Towa masih ingat bagaimana kebersamaannya dengan Koh.


Kembali ke TKP sesi curhat.


"Sepertinya aku bisa mengambil pelajaran dari senpai semua. Seperti king senpai, cinta adalah perasaan yang benar. Sebab cinta dapat membuatmu kuat untuk melindungi orang-orang yang kau sayangi." Jawab koh dengan semangatnya.


"Hah?." Mereka sedikit bingung.


"Seperti kata kakeru senpai, yousuke senpai, juga akashi senpai. Meski mereka tidak mau mendengarkan apa yang kita harus tegas, karena sentai tidak perlu mengeraskan suara, ataupun cepat seperti angin, ataupun tegar seperti bouken." Lanjutnya lagi


"Koh?." Mereka makin bingung.


"Kemudian, seperti kata ban senpai. Memberi perintah itu tidak mudah, pasti ada yang membantah. Tapi kata takeru senpai kekompakan itu sangat perlu, sehingga kita saling memahami seperti kata arata senpai dan yamato senpai." Ia dapat mengambil kesimpulan dari curhatan seniornya.


"Jadi masalahnya?." Ucap mereka serentak.


"Meski meruto orangnya seriusan, asuna yang ganas, towa yang bangga dengan kecepatannya, bamba dengan sifat coolnya." Ucap koh mengingat perangai masing-masing Sentainya.


"Koh!. Kau jangan ember!." Dalam hati Meruto, Asuna, Towa dan Bamba ingin mengutuk Koh. "Kenapa kau terlihat bersemangat sekali mengucapkan nama kami!."


"Tapi, bagiku. Meruto, asuna, towa, bamba mereka adalah lebih dari segalanya.


Deg!.


Mereka semua sangat terkejut dengan ucapan Koh, termasuk mereka yang menguping pembicaraan itu.


"Dengan mereka aku dapat belajar dengan baik, menjadi kuat berkat mereka. Ini sangat menyenangkan, dengan mereka aku mengerti siapa yang harus aku lindungi, itulah sentai ku." Ucap koh dengan senyuman tulus, mereka semua memahami apa yang dikatakan oleh koh,


"Koh!. Kau yang terbaik!." Meruto, Asuna, Towa, Bamba merasa terharu dengan apa yang apa yang dikatakan oleh koh, meski tadi mereka sempat berpikir Koh akan menjelekkan mereka dihadapan senior merahnya. Tapi sayangnya mereka sangat salah, dan tidak benar sama sekali.


Tidak!. Tidak!. Tidak!. Ucapan koh sangat murni tentang sentainya, jadi itu bukan sandiwara koh untuk mengatakan bahwa Sentainya baik-baik saja, Koh itu polos!. Karena itu ia berkata sesuai dengan apa yang ada dipikirannya.


"Beruntung sekali kau koh!."


"Ya, kau beruntung sekali."


"Pertahankan itu koh."


"Kami akan selalu mendukungmu."


Ya, begitulah ending dari curhat yang panjang.


...****...

__ADS_1


__ADS_2