KISAH ACAK SUPER SENTAI

KISAH ACAK SUPER SENTAI
CHAPTER 55


__ADS_3

...***...


Pada saat itu mereka telah menganggap masalah King telah selesai, dan mereka tidak ingin melihat Ban dan Takeru memanas. Mereka hanya ingin curhat saja, dan tidak mungkin mereka malah melihat hal yang sangat mengerikan. Bagaimana jadinya jika seorang samurai sejati, dan seorang anggota satuan kepolisian mengamuk?. Jangan sampai itu terjadi.


"Selanjutnya?. Kakeru san?." Koh sedikit takut. "Kenapa kau tadi mengaum begitu keras tadi saat di kota?. Apakah terjadi suatu?." Kali ini Koh membuka sesi curhat pada Kakeru,,


"He?. Serius?." King, Takeru, Ban, Akashi, Yousuke, Arata dan Yamato tdiak percaya.


"Ahahaha!." Kakeru hanya tertawa aneh melihat reaksi terkejut mereka.


"Tidak biasanya senpai. Apakah masalah besar yang kau hadapi?." Akashi tidak percaya dengan apa yang ia dengar, seorang Kakeru mengaum?. Di kota?.


"Ada apa senpai?. Apakah ada masalah berat?. Katakan pada kami." Ban terlihat sangat serius.


"Jika ada masalah berat katakan pada kami." Arata juga.


"Jangan sungkan untuk mengatakan pada kami, senpai." Yousuke merasa prihatin. "Hidup ini memang sangat berat." Lanjutnya penuh dengan simpati.


"Tapi bagaimana itu bisa terjadi senpai?. Pasti masalahnya sangat berat." Takeru tidak bisa membayangkan masalah apa yang dilalui seniornya itu.


"Waktu itu kami tidak sengaja mendengarnya, karena begitu kuatnya auman kakeru senpai, ia kan koh?." Tambah king mengingat gimana kejadian tadi, ia dan koh sangat terkejut.


"Umm. Benar itu." Koh hanya mengangguk setuju, karena itu memang faktanya.


"Memangnya kenapa kakeru senpai?." Arata menanyakan hal yang sama, kenapa bisa terjadi?.


"Katakan saja senpai." Yamato juga.


"Haik." Kakeru sedikit keberatan. "Di sentaiku, aku merasa rida yang tidak berguna. Sangat kesal, marah, benci. Karena sesak aku mengaum sekuat mungkin dan tidak sadar melakukannya di kota." Ucap Kakeru dengan nada sad, membuat mereka ikutan sedih, ia membalikkan tubuhnya memunggungi mereka semua.


"Memangnya masalahnya apa ya?. Pasti ada masalahnya, kan?." Yamato semakin penasaran.

__ADS_1


Mereka semua sangat serius melihat ke arah Kakeru yang terlihat memiliki masalah yang sangat berat.


"Katakan saja senpai." Yousuke malah berdebar-debar menunggu apa yang dikatakan Kakeru.


"Kalau soal itu." Kakeru semakin terlihat sangat frustasi. "Mereka semua hanya bersantai-santai saja, si iero. Kadang dia keluyuran entah kemana, buru to burakku mereka kadang tidak mau mendengarkan aku." Keluhnya dengan perasaan yang sangat memuncak. "Si uaito gadis muda yang cepat sensitif. Terkadang mereka beralasan, di saat aku sedang waspada dengan serangan orgu. Aku tidak tau harus berkata apa lagi pada mereka, aku selalu mencemaskan kondisi seperti itu. Tapi mereka tidak mengerti sama sekali dengan apa yang aku cemaskan." Kakeru mengeluarkan unek-uneknya sebagai leader yang kadang tidak didengar ucapannya oleh Sentainya. "Padahal ini semua demi keselamatan bersama, tapi mereka?." Hampir saja ia menangis saat berjaya seperti itu. Sehingga membuat mereka merasa bersimpati.


"Huoh!. Seberat itukah?." Setidaknya itu yang ada di dalam hati mereka.


"Sangat keterlaluan sekali mereka itu senpai." Ban secara terang-terangan menunjukkan rasa simpatinya saat itu.


"Aku pikir hanya aku saja yang tidak dihargai. Pasti rasanya sakit sekali." Ban dengan alatnya berkata seperti itu.


"Ahaha!." Mereka semua malah merasa prihatin dengan nasib Kakeru dan Ban yang memiliki anggota yang sepertti itu.


"Aku sih tidak separah itu, kan ya?." Dalam hati Akashi sangat heran dengan itu.


"Untung saja ryuunosuke tidak seperti itu." Dalam hati Takeru merasa sangat bersyukur. "Untung saja aku sangat dihargai oleh mereka semua." Dalam hatinya merasa paling beruntung.


"Meskipun awalnya mereka selalu berbuat seenaknya. Setidaknya aku tidak separah itu." Dalam hati Yamato mulai merasa bersyukur.


"Bisa gawat jika seperti itu. Aku harus tegas pada mereka." Dalam hati Arata mulai cemas dengan apa yang dikatakan seniornya.


"Memang sulit jika seperti itu senpai." Dalam hati Yousuke merasa sangat simpati pada Kakeru.


"Aku harap asuna dan lainnya tidak seperti itu." Dalam hati Koh sangat berharap.


"Lantas bagaimana dengan kalian?. Apakah kalian mengalami nasib yang sama denganku?." Kakeru bertanya pada mereka. "Aku juga ingin mendengarkan cerita kalian." Ia mencoba untuk menghapus air matanya.


"Kadang sih ada masanya mereka tidak ingin diajak bekerjasama. Tapi aku lakukan sendiri, dan akhirnya mereka malah ikutan karena tidak tega melihat aku melakukan itu sendirian." Ban sedikit kesal sih sebenernya.


"Ahaha!." Mereka hanya bisa bereaksi mendengarkan ucapan Ban.

__ADS_1


"Aku juga seperti itu senpai kadang. Karena mereka merasa bisa, jadi mereka mengabaikan aku. Tapi pada akhirnya mereka akan meminta bantuan ku untuk menyelesaikan masalah itu." Ucap Takeru akhirnya bersuara, ia tadi hanya diam menyimak saja?. Ya, anggap saja sepertti itu.


"Tapi, si ryunosuke suka ikut campur dalam urusan orang lain. Mako yang mendadak jadi sosok kakak jika dalam masalah. Chiaki yang kelewat bebas dengan pemikirannya yang masih hijau, juga kotoha dengan segala kekurangannya." Ucapnya sambil mengingat apa yang terjadi pada sentainya. "Terkadang aku berpikir aku harus berbuat apa pada sentaiku itu. Saat latihan pertama kali menggunakan shinken oh sangat kacau sekali. Tidak ada kompak-kompak sama sekali. Sehingga kami kewalahan." Lanjutnya.


"Huoh!. Tumben panjang sekali ucapannya selain marah-marah." Setidaknya pikiran mereka beranggapan seperti itu menilai Shiba Takeru.


"Apa aku terlalu kaku sebagai rida?. Senpai?. Tolong katakan padaku." Ia bertanya dengan ekspresi sedih, ia jadi galau karena itu, memikirkannya sampai sekarang.


"Oh?!. Bisa galau juga dia?." Dalam hati mereka malah berpikiran seperti itu tentang Takeru?.


"Aku rasa tidak, kau sudah berusaha dengan keras." Yousuke menepuk pundak Takeru dengan dengan pelan, meski tidak tau seberapa kakunya Takeru di sentainya.


"Benar yang dikatakan yousuke senpai. Aku rasa kau hanya perlu ramah saja." Akashi sedikit memberi masukan.


"Yang penting adalah jiwa panas yang membuat kita semangat, senpai!." King dengan semangatnya berkata seperti itu.


"Ahaha!. Kalau kau sih memang paling semangat." Ucap Ban sambil menepuk kepala King.


Tentunya mereka tertawa mendengar ucapan Ban, sehingga suasana sedikit cair.


"Kalau semangat king senpai sih memang tidak ragukan lagi." Yamato memang pernah mendengarkan itu.


"Yang penting adalah perasaan cinta, kesungguhan, rasa semangat untuk bersama. Melindungi yang paling berharga bagi kita semua. Maka akan melahirkan kebaikan yang sangat luar biasa." Arata sedikit memberikan wejangan.


"Ya. Aku rasa memang sepertti itu." Koh sangat setuju.


"Semangat terus takeru." Akashi, Kakeru, Yousuke, dan Arata menentukan semangat.


"Um." Takeru hanya mengangguk saja.


Bagaimana kelanjutannya?. Siapa selanjutnya akan curhat?. Simak terus ceritanya.

__ADS_1


...***1...


__ADS_2