Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 36


__ADS_3

Jihan menutup kedua telinganya menggunakan tangan. Dia takut tergiur jika terus mendengar bujuk rayu Shaka. Bisa-bisanya Shaka menawarkan uang 2 milyar untuk membeli keperawa'nannya dengan 3 kali tidur bersama. Sebagai wanita yang realistis, tentu saja Jihan hampir tergiur dengan uang sebanyak itu. Bayangkan jika memiliki uang 2 milyar, Jihan bisa membeli rumah dan membuka usaha dengan uang sebut. Dan impian Jihan yang ingin menjadi pengusaha muda bisa terwujud.


Tapi ada hal besar yang menjadi pertimbangan Jihan, dia tidak mau menjadi janda tidak pera'wan walaupun hasil perbuatan suaminya sendiri. Jadi dia memilih tutup telinga, uang bisa dicari, tapi keperawanan tidak akan kembali.


"Stop Pak Shaka, jangan jadi kompor." Tegas Jihan. Kalau bisa, dia ingin menendang Shaka hingga terguling ke lantai. Tapi Jihan tidak punya nyali, takut di pecat dari kerjaannya.


"Dengerin saya dulu." Shaka menarik tangan Jihan yang menutupi telinga.


"Kapan lagi dibayar 2 milyar cuma untuk 3 kali tidur sama saya. Ingat Jihan, saya itu suami kamu. Tidak akan berdosa ataupun terlihat rendah. Kamu yakin nggak mau.?" Shaka menaikan sebelah alisnya. Pria tampan itu cukup gigih membujuk Jihan. Pantang menyerah sebelum Jihan bilang Yes.


Jihan menggeleng cepat.


"Nggak, pokoknya saya nggak mau Pak. Nanti saya yang rugi." Jihan menggerutu.


"Pak Shaka sih enak, nggak ada bekasnya walaupun udah nggak perjaka." Jihan memberingsut, lalu mendorong dada Shaka supaya menjauh. Sejak tadi Shaka seperti cicak yang menempel padanya.


"Bukan saya saja yang enak, Jihan. Nanti kamu juga ngerasain enaknya." Kata Shaka ambigu. Jihan bergidik ngeri. Sekelebat bayangan dua sejoli yang sedang ber cinta, tiba-tiba muncul dalam bayangannya. Jihan pernah melihat vidio panas tanpa sengaja, jadi sudah punya bayangan seperti apa.


"Pak Shaka mending diam aja deh, lama-lama makin ngaco ngomongnya." Jihan menatap sebal. Dibalik sikap Shaka yang dingin dan kaku, rupanya ada otak mesum yang dominan.


"Saya kasih waktu 20 menit, sebaiknya kamu pikirkan baik-baik tawaran saya. Kesempatan nggak akan datang dua kali Jihan. Dengan 2 milyar, kamu bisa membeli apapun yang kamu butuhkan." Shaka terus mengompori Jihan.


"Bahkan kamu bisa bertahan hidup hingga 10 tahun menggunakan uang itu tanpa harus bekerja." Ujarnya. Shaka tidak mengatakan omong kosong, dia sudah memperhitungkannya sebelum bicara.


Jika uang 2 milyar untuk biaya hidup selama 10 tahun, maka ada jatah 15 juta untuk setiap bulannya. Gaji Jihan saja tidak sampai 15 juta perbulan. Tentu saja tawaran itu cukup menggiurkan bagi Jihan.


Jihan terdiam dan kembali di lema. Bisa punya uang 2 milyar adalah kesempatan langka. Bisa jadi kesempatan itu tidak akan pernah ada lagi.


Dan menjadi seorang janda yang sudah tidak per-awan bukanlah aib. Dia kehilangan kesuciannya dalam keadaan terhormat, sebab di ambil oleh suaminya sendiri. Sebenarnya tidak salah kalau Jihan ingin menyetujui tawaran Shaka.

__ADS_1


Semakin lama di pikirkan, Jihan malah tergiur. Kini wanita itu terdiam karna sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Tapi saya nggak mau hamil." Suara lirih Jihan memecah keheningan. Shaka langsung menatap antusias karna dia beri kode setuju oleh Jihan.


"Nanti saya keluarin di luar, di jamin aman." Jawab Shaka. Manik matanya menatap intens wajah Jihan, sekedar ingin memastikan keputusan Jihan.


"Tapi saya takut,," Kening Jihan mengkerut. Entah apa yang dipikirkan olehnya.


"Apa yang kamu takutkan.?" Shaka menatap heran.


"Tentu saja takut sakit, memangnya apa lagi.!" Jihan mencebik kesal. Begitu saja harus di jelaskan, pikir Jihan. Harusnya Shaka sudah paham, mengingat Jihan masih bersegel.


Shaka bergeser mendekat sambil menarik selimut Jihan dan melemparnya ke lantai. Sudah ada lampu hijau, Shaka harus gerak cepat sebelum Jihan berubah pikiran. Begitu yang ada di benak Shaka.


"Saya janji akan pelan-pelan." Ucapnya dengan suara lirih.


Wajah Jihan kelihatan tegang saat kedua tangan Shaka meraih bahu dan sebelah pipinya. Jihan reflek memejamkan mata begitu wajah Shaka makin dekat. Hanya selang beberapa detik, Jihan bisa merasakan bibir hangat Shaka menempel di bibirnya.


Mungkin keputusan Jihan bisa di bilang salah, tapi perbuatannya dengan Shaka tidak berdosa. Keduanya sudah sah menjadi suami istri, bebas melakukan apapun yang berhubungan dengan kontak fisik. Hanya saja terhalang surat perjanjian.


Jihan tak akan menjadi rendah hanya karna melepaskan kesuciannya. Justru dia melepaskan untuk orang yang berhak atas dirinya.


Shaka mulai mengabsen setiap jengkal tubuh Jihan dengan tangan dan bibirnya. Keadaan Jihan sudah setengah tanpa busana. Beberapa kali Jihan menutupi aset kembarnya menggunakan tangan karna malu. Sebab untuk pertama kalinya dia membiarkan orang lain melihat dan menyentuhnya. Bahkan lebih dari itu. Shaka mirip bayi yang sedang kehausan.


"Kamu terlalu tegang, rileks saja." Bisikan Shaka.


Jihan ingin menjawab, tapi memilih bicara dalam hati.


"Bagaimana tidak tegang, saya harus menahan des sahan." Batinnya.

__ADS_1


Shaka terlalu lihai membawa lawan mainnya hanyut dalam permainan yang memabukkan. Untuk seorang Jihan yang belum berpengalaman, permainan Shaka akan menjadi kenangan indah yang sulit untuk dilupakan.


15 menit berlalu, pertahanan Jihan akhirnya runtuh. Suara khas per cintaan itu akhirnya keluar dari mulut Jihan. Shaka jadi makin semangat membawa Jihan ke permainan yang sesungguhnya.


Kini keduanya sudah sama-sama polos. Cuaca yang dingin tidak membuatnya beku dalam keadaan tanpa sehelai benang.


"Jangan tegang kalau nggak mau sakit, saya akan pelan-pelan." Bisiknya sambil menuntun asetnya memasuki tempat seharusnya.


Jihan kelihatan pasrah, sudah terlanjur jauh seperti ini, mau mundur juga tidak mungkin. Yang ada malah malu kalau sampai batal.


Lebih dari 30 menit, sampai akhirnya suara teriakan kesakitan Jihan menjadi teriakan ke nik matan. Sebab, rasa tidak bisa pernah berbohong. Jihan benar-benar dibuat menikmati permainan pertamanya.


Menit berikutnya, Jihan mele nguh panjang untuk kedua kalinya. Disusul Shaka yang baru mendapatkan pelepasan pertama. Pria itu menekan dalam-dalam, menyiram benih ke lahan milik Jihan. Katanya keluar di luar, nyatanya keluar di dalam.


Jihan tampak belum menyadari hal itu. Dia sibuk meraih selimut untuk menutupi tubuhnya setelah Shaka melepaskan diri.


Nafas keduanya memburu, mereka masih menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Shaka berbaring di samping Jihan sambil memeluknya dari samping.


"Pak,,," Panggil Jihan lirih.


"Hemm,," Jawab Shaka dalam keadaan mata terpejam sejak tadi.


"Tadi di luar kan.?" Tanya Jihan memastikan.


"Di dalam. Maaf Jihan, saya lupa." Shaka menjawab tanpa rasa bersalah, bahkan seperti tidak ada beban.


Sementara itu, Jihan langsung panik bukan main. Pasalnya dia baru selesai haid 3 hari yang lalu. Khawatir benih Shaka tumbuh di rahimnya.


"Awas.!!" Jihan menyingkirkan tangan Shaka yang memeluknya. Wanita itu ingin ke kamar mandi untuk membersihkan benih Shaka yang kemungkinan belum masuk ke jalan rahimnya.

__ADS_1


Namun Jihan harus mengurungkan niat saat merasakan perih. Dia kesulitan bergerak, apalagi berjalan.


__ADS_2