Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 78


__ADS_3

Kedatangan banyak orang asing di depan pintu apartemen membuat penghuninya menatap heran. Sebab dia tidak mengenali di antara keempat orang dewasa dan bayi mungil yang ada di hadapannya.


"Ada yang bisa saya bantu.?" Wanita muda berambut panjang itu bertanya dalam bahasa Inggris. Dia tidak bicara bahasa Jepang karna orang-orang di depannya tidak terlihat seperti warga lokal.


Jihan sejak tadi memperhatikan wanita itu dengan dahi berkerut. Dalam hati banyak pertanyaan muncul tentang sosok wanita muda di yang membukakan pintu apartemen Omnya. Sebab menurut informasi dari Shaka, Om Galih tinggal sendirian di apartemen itu sekitar 1 tahun yang lalu. Setelah sebelumnya tinggal di negara lain sekitar 4 tahun.


"Maaf, kami sedang mencari anggota keluarga yang tinggal di apartemen ini." Kata Jihan dengan nada bicara yang sopan.


"Anggota keluarga.? Apa yang kalian maksud David.?" Tanyanya sedikit ragu.


Jihan menoleh pada Shaka, suaminya itu mengangguk kecil. Setelah kecelakaan 5 tahun lalu yang menyebabkan Om Galih amnesia, pria itu di ketahui mengganti seluruh identitasnya termasuk merubah keseluruhan namanya. Shaka juga tidak tau pasti bagaimana kronologinya. Dia hanya mendapatkan informasi kalau Om Galih mengalami kecelakaan tragis yang mengakibatkan seluruh ingatannya hilang dan tidak mengenali dirinya sendiri.


"Ya, kami ingin bertemu dengan David. Tolong panggilkan dia." Ujar Shaka.


Wanita itu tampak kebingungan. Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia masuk lagi kedalam apartemen dengan menutup pintunya.


Mereka tidak tersinggung ketika wanita itu menutup pintu apartemen dan membiarkan mereka menunggu di luar. Sadar bahwa mereka memang orang asing, jadi sudah seharusnya wanita tadi menutup pintu sebagai bentuk kewaspadaan terhadap orang yang tidak dia kenal.


"Nak Shaka, siapa David.? Bukannya kita mau bertemu Galih.?" Mama Dewi menatap bingung pada menantunya.


Jihan ikut menatap Shaka dengan perasaan yang rumit. Dia dan Shaka memang belum memberi tau Mama Dewi serta Juna tentang kondisi Om Galih yang sebenarnya.


"Kamu jelaskan saja pelan-pelan. Cukup intinya saja, selebihnya kita bahas lagi kalau sudah di ijinkan masuk." Lirih Shaka pada Jihan. Dia seolah bisa membaca arti tatapan istrinya itu yang penuh kekhawatiran.


Jihan mengangguk paham, dia lantas mengajak Mama Dewi dan Juna untuk bicara. Sedikit bergeser dari pintu apartemen.


"Ada yang perlu Mama dan Juna ketahui tentang Om Galih. Maaf kalau Jihan baru bisa bicara sekarang." Lirihnya sambil menatap Mama Dewi dan Juna bergantian.

__ADS_1


"Om Galih sempat mengalami kecelakaan dan mengakibatkan seluruh ingatannya hilang. Itu sebabnya sampai detik ini Om Galih nggak pernah kembali karna lupa identitasnya." Jihan tampak tidak tega saat mengungkap kebenaran yang terjadi.


Penuturan Jihan membuat Mama Dewi dan Juna sangat syok. Mama Dewi terlihat menahan tangis dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mama Dewi sempat bertanya lebih jauh tentang kronologi dan bagaimana Galih bisa bertahan di luar negeri seorang diri.


"Nanti kita bicara lagi di dalam. Mas Shaka juga belum tau pasti seperti apa kehidupan Om Galih selama ini." Ujar Jihan.


"Mama merasa gagal menjadi Kakak. Om kalian sampai melewati masa sulit sendirian." Lirih Mama Dewi dengan perasaan sedih yang bercampur aduk.


"Mah,, itu Om Galih." Seru Juna ketika melihat Om Galih membuka pintu apartemen. Perhatian semua orang berpusat pada pria dewasa yang memiliki postur tubuh tinggi seperti Shaka. Penampilannya jauh lebih rapi dan semakin tampan di banding 5 tahun yang lalu.


Mama Dewi tak kuasa membendung air matanya. Dia menangis dan setengah berlari memeluk satu-satunya saudara yang dia miliki.


Galih yang kini berganti nama sebagai David itu terlihat kebingungan karna tiba-tiba di peluk wanita paruh baya.


"Galih,, ini Mbak Dewi,," Ucap Mama Dewi sembari melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Galih.


"Mah,, sepertinya Om Galih juga upa bahasa kita. Biar Jihan saja yang bicara" Jihan merangkul Mamanya dan sedikit menarik mundur.


"Kalian mencari saya.? Saya rasa kita tidak ada urusan." Ujar Galih datar.


"Om, katanya mereka adalah keluarga mu. Bukannya kamu tidak punya keluarga.?" Wanita muda tadi muncul dari dalam dan berdiri di samping David. Dia menyengir kuda ketika mendapat lirikan peringatan dari David.


"Sudah aku bilang tunggu di dalam." Titahnya pelan.


Wanita yang tampak seumuran dengan Juna itu hanya bisa pasrah dan kembali masuk ke dalam sambil mengerucutkan bibir. Walaupun sangat penasaran, tapi dia tidak membantah ketika di perintah untuk menunggu di dalam.


"Ada yang ingin kami bicarakan. Boleh kami masuk.?" Shaka meminta ijin baik-baik. Pria itu tidak tega melihat Mama mertuanya yang terus menangis. Jadi sebisa mungkin ingin buru-buru menjelaskan pada Galih tentang asal usulnya.

__ADS_1


David memindai satu persatu wajah yang menurutnya asing itu. Setelah memastikan bahwa mereka tidak berpotensi membahayakan, David kemudian mempersilahkan mereka masuk ke apartemennya.


Pria berusia 32 tahun itu sesekali melirik Juna. Mungkin dia heran karna melihat ada kemiripan dengan wajahnya meski hanya beberapa persen.


Wajah Juna memang sedikit mirip dengan Om nya. Postur tubuhnya juga sama tinggi. Namun tubuh Juna tidak segagah Galih yang sepertinya rajin olahraga.


"Kami kehilangan anggota keluarga sekitar 5 tahun yang lalu. Selama ini kami sudah berusaha mencari, tapi tidak mendapat petunjuk apapun." Ujar Jihan. Dia menceritakan detail kejadian sampai akhirnya bisa menemukan anggota keluarganya yang hilang berkat bantuan dari suaminya.


"Intinya saja." Kata David yang terlihat enggan basa-basi.


Jihan mengangguk pelan dan segera mengeluarkan beberapa bukti identitas dan foto milik Galih. Dia menyodorkan bukti-bukti itu di atas meja agar di lihat oleh Galih.


David mengambil beberapa berkas dan foto-foto itu dengan rasa tidak percaya. Orang yang ada di dalam foto itu benar-benar dia, tapi versi lama. Sebelum badannya jadi lebih gagah karna rutin olahraga untuk membentuk dan memperbesar masa otot. Dan baru sekitar 4 tahun terakhir badannya terbentuk dengan gagah.


"Anda adalah keluarga istri saya yang menghilang 5 tahun lalu." Ujar Shaka mempertegas.


David tidak menyangkalnya, sebab dia masih ingat ketika dirawat di rumah sakit karna kecelakaan di Amerika 5 tahun lalu. Kecelakaan itu membuatnya tidak mengingat apapun, bahkan lupa namanya sendiri. Sampai akhirnya ada keluarga yang mau menampungnya, bahkan mengangkatnya sebagai anak dan menjadi anggota keluarganya sampai detik ini.


"Apa Om benar-benar lupa siapa kami.?" Tanya Juna sendu. Dia sudah terbawa suasana sejak tadi karna Mamanya tidak berhenti menangis.


"Maaf, saya tidak bisa mengingatnya. Tapi saya percaya kalian adalah keluargaku." Ujarnya sambil menatap Juna dan Mama Dewi yang memang duduk bersebelahan. David semakin yakin kalau mereka adalah keluarganya karna ada kemiripan wajah.


Pertemuan itu berakhir dengan air mata bahagia karna Galih mau menerima kehadiran mereka sebagai keluarga. Walaupun Galih tetap meminta tes DNA dengan Mama Dewi supaya dia benar-benar yakin dan tidak ada keraguan lagi. Mama Dewi dengan senang hati menyetujui permintaan Adik kandungnya itu.


"Sayang,, terimakasih. Aku sangat bahagia bisa dipertemukan lagi dengan Om Galih." Lirih Jihan seraya memeluk Shaka serta Flora yang duduk di pangkuan Shaka.


"Sudah tugasku membuat kamu bahagia." Jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2