Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 47


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Shaka sudah rapi dengan pakaian semi formal. Memakai celana bahan dan kemeja panjang yang lengannya di gulung sampai siku. Pria itu akan terbang ke Surabaya pukul 6 pagi karna terjadi kebakaran di anak perusahaan yang ada di sana. Shaka harus turun tangan dan ikut menyelidiki penyebab kebakaran. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, meski ada satu lantai yang ludes terbakar.


Shaka kemudian menghampiri Jihan yang masih terlelap. Sekarang masih pukul setengah 6 pagi, mungkin Jihan masih berada di alam mimpi. Jihan bahkan tidak bangun ketika Shaka menerima telfon dari manager perusahaan di Surabaya. Padahal suara Shaka cukup keras dalam keadaan panik.


Shaka berdiri di sisi ranjang, posisi badannya sedikit menunduk karna tangannya mengusap wajah damai Jihan yang terlelap.


"Jihan,,," Panggilnya lirih. Shaka terlihat tidak tega membangunkan Jihan, tapi ragu pergi begitu saja tanpa pamit. Apalagi kepergiannya mendadak.


"Bangun dulu sebentar,," Shaka mengusap sedikit keras pipi Jihan dan langsung membuat Jihan menggeliat.


"Hemm,, ada apa.?" Tanyanya setengah sadar. Kelopak mata Jihan baru terbuka sedikit, mulutnya masih menganga setelah bicara. Ekspresinya cukup menarik perhatian Shaka walaupun dalam keadaan baru bangun tidur. Cinta memang buta, seperti apapun dan dalam kondisi apapun, seseorang akan terlihat cantik di mata pria yang menaruh hati padanya.


"Saya mau pergi ke Surabaya. Terjadi kebakaran di anak perusahaan." Ujar Shaka.


Mata yang tadinya setengah terbuka, kini membulat sempurna. Jihan benar-benar syok mendengar kabar buruk itu.


"Bagaimana bisa.??" Seru Jihan. Saking kagetnya, Jihan sampai merubah posisi dengan duduk di tepi ranjang, padahal tadi masih tdiur.


"Belum tau penyebabnya. Saya pergi dulu, 1 jam lagi pesawatnya take-off." Shaka menunduk dan mendaratkan kecupan di kening Jihan. Dalam hitungan detik, kecupan itu sudah berpindah ke bibir Jihan.


Bagaimana Jihan tidak mematung di tempat, ketika melihat sikap Shaka tiba-tiba berubah 180 derajat.


"Jihan.?" Shaka menggerakkan tangan didepan wajah Jihan untuk membuyarkannya dari lamunan.


"ii,,iya, Hati-hati di jalan." Jawab Jihan gugup.

__ADS_1


"Kamu nggak mau mengantar saya ke depan.?" Shaka menatap dengan alis yang sedikit menukik kebawah, bisa-bisanya Jihan tidak peka. Padahal Shaka sudah ijin, tapi responnya malah biasa saja tanpa beranjak dari duduknya.


Jihan tersenyum kikuk, bingung juga harus menjawab apa. Mereka hanya menikah kontrak, apa harus totalitas seperti itu menjalani pernikahannya.? Rasanya adegan mengantar seorang suami sampai depan rumah hanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang romantis daja.


Tiba-tiba Jihan bergidik geli. Bahkan dia dan Shaka jauh dari kata romantis, yang ada malah berdebat terus. Benar-benar seperti musuh bebuyutan. Akur hanya pada saat ber cinta saja.


Shaka menghela nafas pelan karna reaksi Jihan diam saja.


"Saya pergi dulu." Shaka berlalu tanpa memaksa Jihan untuk mengantarnya. Pria itu membawa koper kecil dan bergegas keluar dari kamar.


Tidak ada adegan mengejar, Jihan tetap berada di kamar walaupun pada akhirnya dia pergi ke balkon kamar. Dari atas, Jihan menatap mobil mewah yang membawa Shaka keluar dari halaman rumah.


"Sebenarnya dia itu kenapa.?" Gumam Jihan bingung. Sikap Shaka benar-benar aneh akhir-akhir ini. Mau menebak Shaka jatuh cinta padanya, tapi Jihan tidak mau terlalu percaya diri. Kecuali kalau Shaka mengungkapkan perasaan langsung padanya.


...*******...


"Apa masalahnya sangat serius Mah.?" Jihan jadi ikutan cemas. Walaupun kekayaan keluarga Shaka tidak akan terkuras untuk menutupi kerugian.


"Jangan khawatir, Shaka pasti bisa mengatasinya." Mama Sonia mengusap pundak sang menantu untuk menangkan.


"Papa ke perusahaan dulu. Leon sama Gio sudah menunggu di sana." Papa Mahesa beranjak dari duduknya selesai sarapan. Ada beberapa berkas di perusahaan yang harus di bawa Leon ke anak perusahaan di Surabaya. Mereka berdua tidak berani mengacak-acak meja kerja Shaka, jadi meminta tolong Papa Mahesa untuk mengambilkannya.


Selepas kepergian Papa Mahesa, Mama Sonia mengajak Jihan mengobrol di taman belakang dekat kolam renang. Bukan obrolan seputar kebakaran perusahaan, tapi lebih ke obrolan dari hati ke hati. Banyak hal dan harapan yang di ungkapkan Mama Sonia pada menantunya.


"Kamu bahagia kan menikah dengan Shaka.?" Mama Sonia menatap serius.

__ADS_1


Jihan tertegun sejak, rasanya jarang sekali ada mertua yang bertanya pada menantunya apakah dia bahagia menikah dengan anaknya. Apalagi kondisi anaknya sangat mapan, pintar dan sempurna secara fisik. Namun kesempurnaan Shaka tidak membuat Mama Sonia berfikir kalau Jihan bahagia di samping putranya itu.


Tak mau membuat Mama Sonia berfikir macam-macam, Jihan akhirnya mengangguk dan mengaku bahagia.


"Syukurlah. Mama harap kalian selalu bahagia dan tetap mempertahankan rumah tangga apapun yang terjadi Ke depannya. Karna setiap pernikahan pasti akan di uji, dan kita nggak pernah tau ujian apa yang menunggu di depan mata." Tutur Mama Sonia.


Sebagai seorang Ibu, Sonia pasti tidak ingin melihat anaknya mengalami kegagalan dalam rumah tangganya.


"Mama percaya kamu bisa mempertahankan rumah tangga kalian. Mama harap, kamu bisa memaafkan Shaka jika suatu saat Shaka melakukan kesalahan."


Jihan mulai tegang, karna dia tidak bisa menjanjikan apapun pada Mama mertuanya. Jihan juga merasa terbebani dengan harapan seorang Ibu akan keutuhan rumah tangga putranya.


...******...


Papa Mahesa memberikan beberapa berkas penting pada Leon dari meja kerja Shaka. Pria paruh baya itu kemudian menyuruh Leon dan Gio agar segera terbang ke Surabaya.


Sementara itu, Papa Mahesa masih duduk termenung di kursi kebesaran Shaka. Tatapan matanya fokus pada selembar kertas di depannya yang di tandatangani di atas materai.


Papa Mahesa tampak membuang nafas berat seraya memijat pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri setelah membaca selembar kertas itu. Anak yang selama ini dia banggakan dengan segudang prestasi di Universitas dan di dalam dunia bisnis, ternyata bisa memiliki pemikiran bodoh dan mengecewakan seperti itu.


Mengambil ponsel dari saku celana, Papa Mahesa langsung menghubungi istrinya.


"Ada hal penting yang mau Papa bicarakan, ini mengenai pernikahan Shaka dan Jihan." Tutur Papa Mahesa.


"Tunggu di ruang kerja, Papa pulang sekarang." Dia menutup sambungan telfonnya begitu saja dan membuat Mama Sonia penasaran.

__ADS_1


...*******...


"Mama ke atas dulu, kamu jangan berfikir macam-macam. Shaka akan baik-baik saja." Ucap Mama Sonia. Melihat Jihan lebih banyak diam dan memasang ekspresi tegang, Mama Sonia mengira kalau Jihan memikirkan Shaka. Padahal Jihan sedang mengkhawatirkan perasaan banyak orang yang pasti akan kecewa jika mengetahui kebenarannya.


__ADS_2