Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 49


__ADS_3

Sudah lebih dari 1 minggu Shaka dibuat frustasi mencari keberadaan Jihan yang entah ada dimana. Rumah sewanya juga sudah kosong sejak 2 minggu lalu. Tepatnya di hari pertama Shaka terbang ke Surabaya.


Shaka menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Fisiknya tidak bisa berbohong kalau dia kelelahan. Lelah mencari tau dimana keberadaan Jihan, tanpa ada jejak, tanpa ada kabar. Kemungkinan Jihan mengganti nomor sekaligus ponselnya. Begitu juga dengan Juna. Bahkan adik iparnya itu diketahui sudah keluar dari kampus. Jadi tidak ada informasi apapun yang bisa di dapatkan Shaka tentang kepergian Jihan. Sekalipun Shaka sudah membayar orang suruh, tapi tidak ada hasilnya sampai sekarang.


Hal itu menimbulkan kecurigaan Shaka pada kedua orang tuanya. Dia sempat berfikir bahwa orang tuanya menyembunyikan Jihan. Namun kecurigaan itu lenyap saat Mama Sonia menyuruhnya mencari Jihan sampai ditemukan. Itupun setelah Shaka mengakui perasaannya terhadap Jihan di depan kedua orang tuanya. Sekitar itu, Shaka juga berjanji akan serius menjalani pernikahannya dengan Jihan.


"Wanita itu benar-benar.!" Gerutu Shaka. Dia kesal karna Jihan tidak bercerita apapun padanya mengenai surat perjanjian itu yang sudah diketahui Mama Sonia dan Papa Mahesa. Shaka sangat menyayangkan sikap Jihan yang mau pergi begitu saja tanpa membela diri ataupun mengakui bahwa mereka sudah tidur bersama. Seandainya hari itu Jihan mau bercerita, Shaka pasti akan menjelaskan semuanya dan menahan Jihan agar tidak pergi.


...******...


Pukul 6 pagi, Shaka sudah keluar dari kamarnya. Sekarang hari sabtu, seperti biasa Shaka akan berkeliling menyusuri pinggiran kota untuk mencari Jihan. Pergi tanpa tujuan, dia mencari ke tempat yang kemungkinan bisa menemukan Jihan di sana. Sedangkan orang suruhannya di tugaskan ke luar kota.


"Sarapan dulu kalau pergi." Ucap Mama Sonia. Wanita paruh baya itu baru keluar dari kamarnya dan melihat Shaka menuruni tangga.


"Nanti saja makan di luar." Jawabnya. Shaka hanya menoleh sebentar dan melanjutkan langkah.


"Kenapa dari awal nggak mengakui perasaan kamu sama Jihan. Coba kalau kamu jujur, Jihan pasti bertahan walaupun Mama juga menyuruhnya pergi." Mama Sonia mengikuti langkah putranya.


Pria berbadan tinggi itu tampak menarik nafas dalam.


"Shaka sudah berencana jujur setelah pulang dari Surabaya. Tapi Mama malah mendukung Jihan pergi dari rumah." Ujarnya lesu.


Padahal Shaka sudah mem booking hotel dan menyiapkan makan malam romantis untuk mengungkapkan perasaannya pada Jihan. Tapi rencananya hanya tinggal angan-angan, wanita yang ingin dia ajak mengarungi bahtera rumah tangga sesungguhnya, malah pergi entah kemana.


"Jihan sendiri yang bersedia pergi. Mungkin dia sadar diri bahwa di antara kalian tidak ada cinta. Mama lihat, sikap kamu juga sangat cuek pada Jihan." Jelas Mama Sonia. Kata-katanya terdengar menyudutkan Shaka, tapi kenyataannya memang seperti itu. Mama Sonia menyadari kesalahan putranya.


"Sudahlah, Shaka pusing." Ujar Pria berwajah datar itu. Dia kemudian pergi begitu saja. Karna kalau sudah membahas masalah ini dengan Mamanya, pasti akan berujung di salahkan.


Shaka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri pinggiran kota. Hampir 5 jam berkeliling tanpa tujuan, sampai kelewatan sarapan. Shaka baru berhenti lantaran merasa lapar dan lemas karna perutnya kosong. Pria itu datang ke salah satu restoran.


Begitu masuk, Shaka malah melihat Kakaknya sedang makan siang berdua bersama Azura.

__ADS_1


Pria itu lantas menghampiri Kakak dan ponakannya. Azura langsung berteriak ketika melihat Omnya yang tampan itu.


"Uncle Shaka. Mommy ada Uncle Shaka,,,!" Seru Azura. Bocah 5 tahun itu langsung turun dari sofa dan berlari kecil menghampiri Omnya. Tubuh mungil Azura langsung melayang karna di angkat oleh Shaka.


Tasya menoleh ke belakang.


"Kamu disini.? Ada janji sama seseorang.?" Tanyanya.


Shaka menggeleng, dia lantas duduk di depa Tasya dan mendudukkan Azura di pangkuannya.


"Kebetulan lewat sini." Jawabnya singkat. Shak mengangkat satu tangannya untuk memanggil pelayan, dia kemudian memesan makanan.


"Muka kamu kenapa kusut begitu.? Belum menemukan Jihan.?" Tasya menatap lekat wajah adiknya yang kelihatan kusut dan lesu. Seperti tidak ada gairah dan semangat.


"Belum." Sahutnya. Shaka malah menyibukkan diri bertanya pada Azura. Sebab Kakaknya juga sama saja seperti Mama Sonia, ujung-ujungnya pasti menyudutkannya.


"Mungkin Jihan sudah ke luar negeri dan menikah dengan pria asing." Seloroh Tasya. Detik itu juga Shaka langsung memberikan lirikan tajam pada Kakaknya.


"Nggak sudah sewot begitu, Kakak cuma menebak saja. Secara Jihan itu cantik, nggak banyak gaya. Cuma pria bodoh yang nggak tertarik sama dia." Ujar Tasya panjang lebar.


Raut wajah Shaka semakin tidak bersahabat karna ucapan Kakaknya. Tapi Shaka malah bungkam dan tidak meladeni perkataan Tasya yang hanya membuatnya semakin putus asa.


...*****...


"Aku duluan,," Shaka beranjak dari duduknya. Dia buru-buru karna harus mencari Jihan lagi.


"Zura mau ikut Uncle,," Rengek Azura, kedua tangan mungilnya memegangi pergelangan tangan Shaka.


"Zura disini saja sama Mommy, habiskan dulu makan siang, nanti kita beli es krim." Bujuk Tasya. Mata Azura langsung berbinar dan melepaskan tangan Shaka.


"Uncle boleh pulang, Zura nggak jadi ikut." Celotehnya. Shaka terlihat gemas mengacak pucuk kepala Azura meski wajahnya tetap datar.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan. Kamu sepertinya butuhkan istirahat. Cari Jihannya besok lagi saja." Ujar Tasya. Walaupun kesal dengan sikap adiknya, Tasya tetaplah seorang Kakak yang tidak akan tega melihat keadaan adiknya seperti itu.


"Hemm,,," Shaka tampak mengabaikan nasehat Tasya. Pria itu lantas keluar dari restoran.


...*****...


10 menit kemudian,,,


"Jihan,, disini.!" Seru Tasya sambil melambaikan tangan ke arah pintu restoran.


Wanita cantik yang baru masuk restoran itu tampak tersenyum lebar dan menghampiri meja Tasya.


"Hai Azura cantik,,," Sapa Jihan. Azura kelihatan senang melihat kedatangan Jihan.


"Untung kamu kejebak macet, coba kalau engga. Pasti udah ketemu Shaka disini." Ujar Tasya lega.


Dia tadi langsung mengirim pesan pada Jihan agar tidak buru-buru ke restoran karna ada Shaka. Tapi ternyata Jihan terjebak macet, jadi datang terlambat tanpa perlu sengaja menghindari Shaka.


"Kamu pesan makanan dulu gih." Titah Tasya. Jihan kemudian memesan makanan, dia duduk di sebelah Azura dan banyak berceloteh dengan keponakan Shaka itu.


"Kakak sebenarnya udah nggak tega lihat Shaka. Dia setiap hari keliling cariin kamu sebelum dan sesudah dari perusahaan. Kalau weekend seperti ini, malah seharian keliling kota Jakarta." Tutur Tasya.


Jihan hanya tersenyum tipis di balik masker yang dia pakai. Ini bukan keinginannya. Dia hanya mengikuti perintah dari mertuanya. Kalau belum di minta kembali ke rumah, artinya masih harus bersembunyi dari Shaka.


"Mama belum memintaku pulang." Sahut Jihan.


Tasya mengangguk paham. Mamanya memang sedang memberikan pelajaran pada Shaka agar kedepannya bisa berfikir panjang sebelum mengambil keputusan.


"Kakak lihat-lihat, sepertinya Shaka sangat mencintai kamu. Anak itu nggak pernah main-main kalau sudah jatuh cinta. Tulusnya melebihi apapun. Tapi kalau sudah dikecewakan, nggak akan ada kata maaf." Ujar Tasya menjelaskan.


Jihan hanya menjadi pendengar yang baik, sebab dia bingung harus memberikan respon seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2