
Shaka mengunci pintu begitu masuk ke dalam kamar.
"Jangan bilang pada mereka kalau kamu sedang hamil. Terutama Mama." Ujarnya memperingati Jihan. Sontak Jihan melirik tajam, pikirannya sudah negatif duluan pada Shaka. Seperti ada hal besar yang sedang di rencanakan oleh pria berwajah tampan itu.
"Mas Shaka sedang merencanakan apa.?" Tuduh Jihan seraya menatap curiga.
"Cuma ingin memberi balasan pada mereka, siapa suruh mereka menyembunyikan kamu dari saya.!" Jawabnya penuh kekesalan dan dendam.
Jihan mengernyit heran. Rupanya seorang pemimpin perusahaan besar seperti Shaka bisa memiliki sifat yang kekanak-kanakan. Apalagi tujuannya untuk balas dendam pada orang tuanya sendiri. Apa tidak kurang ajar namanya.
"Ya ampun, kenapa bisa punya pikiran seperti itu." Ujar Jihan tak habis pikir.
"Mama bisa marah kalau tau." Jihan sudah pusing duluan membayangkan kemarahan Mama mertuanya seandainya tau kalau Shaka sengaja menyembunyikan kabar kehamilan ini. Apa lagi Mama Sonia paling antusias menantikan cucu dari Shaka.
"Memang itu tujuan saya.!" Jawab Shaka.
"Kamu pikir saya nggak marah di bohongi Mama selama 3 minggu." Ekspresi wajah Shaka semakin sewot. Tingkat sensitivitasnya kelihatan tinggi. Lebih dari biasanya. Sepertinya efek dari di pisahkan selama 3 minggu dari Jihan, jadi uring-uringan tidak jelas. Sampai nekat menutupi kabar kehamilan Jihan untuk balas dendam pada Mamanya sendiri.
"Terserah Mas saja.! Tapi jangan bawa-bawa saya kalau sampai Mama marah. Ini bukan kemauan saya." Kata Jihan acuh.
"Hemm,, saya yang akan tanggung jawab." Kata Shaka sembari berdiri di belakang Jihan dan memeluknya. Kalau sudah dekat-dekat dengan Jihan, jelas ada udang di balik batu. Apalagi tadi tidak jadi melepas rindu di hotel.
"Mas Shaka mau apa." Jihan menahan tangan Shaka yang mulai bergerak ke atas.
"Kenapa harus tanya saya mau apa.?" Protes Shaka. Dia menepis pelan tangan Jihan dan kembali melancarkan aksinya untuk merangsang Jihan agar tidak menolak lagi.
"Saya belum ganti oli hampir 1 bulan, Jihan. Jangan menahan saya lagi." Bisik Shaka dengan suara serak karna mulai berkabut gairah.
"Kata Dokter nggak masalah, asal pelan dan hati-hati." Shaka mulai mengecup pundak Jihan yang terbuka. Sontak tubuh Jihan langsung meremang.
"Tapi bagi saya ini jadi masalah karna belum ada kepastian." Jihan melepaskan diri dari dekapan Shaka.
__ADS_1
"Kita perlu bicara. Saya sudah bilang sejak datang ke perusahaan, tapi malah di abaikan." Jihan menatap malas. Pasalnya Shaka belum mengungkapkan perasaannya dan belum memberikan kepastian akan dibawa kemana rumah tangga mereka. Kalau sekedar mengatakan ingin memiliki anak bersama, Jihan belum bisa yakin kalau rumah tangganya dengan Shaka akan selamanya.
Jihan berjalan ke arah sofa dan duduk di sana dengan santainya. Wajah frustasi Shaka tidak membuat Jihan luluh. Sebab untuk saat ini kepastian jauh lebih penting dari pada ber cinta.
Shaka terpaksa menyusul Jihan dan duduk di sebelahnya dengan lesu.
"Kamu ingin kepastian yang seperti apa.? Dengan saya ingin memiliki anak dari kamu, apa itu belum cukup untuk membuat kamu yakin.?" Tanya Shaka tak habis pikir dengan sikap Jihan. Shaka mungkin tidak sadar, padahal jelas-jelas cara berfikirnya yang aneh. Jaman sekarang wanita tidak hanya butuh janji, tapi butuh ungkapan yang akan memperjelas status.
Lalu bagaimana bisa Shaka menginginkan anak pada wanita yang bahkan belum dia nyatakan cinta, belum di perlakuan istimewa dan belum ada kepastian akan seperti apa rumah tangga mereka ke depan.
"Hubungan kita mau seperti apa, mau dibawa kemana.? Harus jelas dan ada komitmen. Masalahnya pernikahan ini berasal dari kontrak perjanjian." Tutur Jihan. Wanita itu gemas sendiri pada Shaka, hal semacam itu saja harus di arahkan.
"Jihan, saya,,," Shaka menghentikan ucapannya ketika ponsel di dalam saku jasnya berdering. Pria itu sempat berdecak kesal karna ada panggilan masuk di waktu yang tidak tepat.
Walaupun kesal, tapi Shaka tetap menerima panggilan dari asisten pribadinya itu.
"Ada apa.?!" Ketusnya.
"Maaf sudah mengganggu waktu Anda, Pak." Ucap Leon terdengar takut-takut.
"Jadi begini,,," Leon menjelaskan dengan hati-hati mengenai situasi yang sedang terjadi di perusahaan.
Rahang Shaka tampak mengeras, wajahnya mulai merah padam dengan sorot mata tajam penuh amarah.
"Kumpulkan semua bukti dan orang-orang yang kemungkinan terlibat.! Saya akan kembali 30 menit lagi.!" Tegas Shaka kemudian memutuskan sambungan telfonnya.
"Nanti kita bicara lagi, saya harus pergi ke perusahaan." Shaka beranjak dari duduknya dan hendak pergi begitu saja tanpa memberikan kejelasan tentang apa yang sedang mereka obrolkan tadi.
"Bahkan kita baru memulai obrolan. Menyebalkan.!" Gerutu Jihan, dia juga ikut beranjak dan mengambil tasnya di atas meja. Jelas dia kesal karna selalu saja ada gangguan saat ingin memastikan kelanjutan hubungan mereka.
"Kamu mau kemana.?" Cegah Shaka ketika Jihan berjalan mendahuluinya untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
"Pulang. Lain kali saja kita bahas lagi." Jawab Jihan tanpa menoleh, dia bahkan membuka pintu kamar dan keluar begitu saja.
Shaka langsung mengejar dan menahan Jihan dengan memeluknya dari belakang. Jihan langsung memberontak, bukan karna tidak mau di peluk Shaka, tapi malu kalau di lihat orang lain. Sebab posisi mereka sudah di luar kamar.
"Tunggu disini dulu, saya akan kembali 2 jam lagi. Ada beberapa tikus berdasi yang ingin main-main sama saya." Bujuk Shaka tanpa ada romantis-romantisnya. Jangankan romantis, nada bicaranya saja sangat datar.
"Lepas, nanti ada lihat." Jihan melepaskan dekapan Shaka dan langsung menjaga jarak.
"Selesaikan dulu urusan Mas Shaka. Nanti kalau sudah selesai, jemput saya di rumah itu." Ujarnya.
Shaka menggeleng keras. Mana mau dia membiarkan Jihan pergi. Khawatir menghilang lagi dan sulit menemukannya.
"Baik kita bicara lagi, tapi jangan pergi kemana-mana saat aku kembali ke perusahaan." Shaka akhirnya mengalah, menurunkan ego dan mengesampingkan urusan perusahaan demi membuat Jihan tetap berada di rumah.
Shaka menggandeng tangan Jihan, keduanya masuk kembali ke dalam kamar. Shaka sempat menghubungi Leon dan memintanya agar menghandle masalah di perusahaan sampai dia datang ke sana.
"Sudah ada Shaka junior di sini," Shaka mengusap pelan perut Jihan yang masih rata.
"Apa lagi yang harus di perjelas.? Kita akan hidup bersama dengan anak-anak." Ucap Shaka seraya memberikan tatapan dalam.
Jihan mengulum senyum, mendadak perasaannya jadi berbunga-bunga mendengar ucapan Shaka.
"Dalam arti apa.?" Pancing Jihan. Shaka tampak memutar malas bola matanya. Jihan seperti sengaja menguji kesabaran.
"Kamu minta dimakan ya.?" Bisikan Shaka dan dengan jahilnya menggerayangi tubuh belakang Jihan.
"Mesum.!" Jihan menepuk tangan Shaka dan mendorong bahunya agar menjauh.
"Sudah sana pergi,," Usirnya. Jihan jadi malu dan salah tingkah sendiri.
Jihan menyadari ada perasaan yang mulai tumbuh sejak di pisahkan dari Shaka, apalagi setelah tau bahwa di rahimnya ada darah daging Shaka. Itu sebabnya Jihan bisa salah tingkah.
__ADS_1
Shaka hanya geleng-geleng kepala saat di usir. Dia lantas pamit pada Jihan dan mengingatkan Jihan agar tidak pergi dari rumah.