Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 57


__ADS_3

Shaka kembali ke kamar setelah mengambil 1 cup es krim rasa vanila. Di kulkas kehabisan stok es krim strawberry, itupun masih bagus ada stok es krim di sana. Sebab di rumah itu jarang sekali ada yang suka makan es krim. Mama Sonia bisa menyimpan es krim di kulkas hanya untuk berjaga-jaga saja kalau sewaktu-waktu cucunya menginap. Azura sangat hobby makan es krim, jadi sang nenek harus sedia es krim di rumahnya.


"Nggak ada yang rasa strawberry." Kata Shaka sambil menyodorkan cup es krim beserta sendoknya. Wajah Jihan jadi cemberut, dia cuma ingin makan es krim strawberry, bukan es krim rasa vanila seperti yang dibawa Shaka.


Jihan menggeleng dan tidak mau menerima es krim itu.


"Aku mau es krim strawberry." Ucap Jihan menegaskan.


"Besok kita beli. Sekarang makan yang ada dulu." Shaka memaksa Jihan untuk mengambil es krim dari tangannya. Jihan menolak lagi, sebab dia hanya ingin makan es krim strawberry yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Hanya membayangkannya saja hampir membuat Jihan meneteskan air liur. Namanya juga ibu hamil, kalau di kepalanya sudah muncul sesuatu yang ingin di makan, pasti bisa meneteskan air liur walaupun sekedar membayangkan.


"Melihatnya saja nggak berselera." Kata Jihan sambil menjauhkan es krim itu dari hadapannya.


"Aku beli saja di supermarket depan." Jihan beranjak dari sofa, tapi Shaka tidak membiarkan Jihan pergi.


"Sudah jam 11, jangan keluar rumah. Disini saja, nanti saya belikan.!" Tegas Shaka kemudian keluar dari kamar dengan wajah masam. Sebab dia harus ke dapur lagi untuk menyimpan es krim tadi, setelah itu menyuruh security ke supermarket depan untuk membelikan es krim.


"Ini semuanya Den.?" Pak Hadi melebarkan beberapa uang seratus ribuan di tangannya. Totalnya ada lima ratus ribu untuk membeli semua es krim rasa strawberry.


"Hemm. Beli semua jenis es krim yang ada rasa strawberrynya. Pak Hadi boleh ambil kalau mau." Ujar Shaka. Pak Hardi menggeleng tidak mau. Dia bukan anak kecil yang fanatik pada es krim. Umurnya sudah kepala lima.


"Nanti bawa ke kamar saya dua cup, sisanya taro di freezer saja." Titahnya.


Pak Hadi mengangguk paham, dia kemudian bergegas ke supermarket setelah Shaka meninggalkan pos security.


Sampainya di kamar, Shaka tampak frustasi menghempaskan tubuhnya di sofa, tepat di samping Jihan yang sudah asik menonton film.


Dengan ekspresi wajah tanpa dosa dan tanpa rasa bersalah pada Shaka, Jihan begitu santai menyaksikan adegan demi adegan film di layar televisi. Bagaimana Shaka tidak jengkel, dia gagal ganti oli hanya karna perkara Jihan ingin makan es krim. Namun Shaka menahan diri untuk tidak meluapkan kekesalannya pada Jihan. Dia memilih diam menahan amarah dan rasa nyut-nyutan di kepala atas bawah karna hasrat yang gagal di salurkan.


"Siapa yang beli es krim.?" Tanya Jihan lantaran Shaka sudah kembali ke kamar lagi.

__ADS_1


"Pak Hadi." Shaka menjawab singkat, dia menyandarkan punggung pada sandaran sofa sambil memejamkan mata. Mencoba mengalihkan rasa pusingnya dengan tidur.


...******...


Di lantai bawah, Mama Sonia baru saja keluar dari area dapur dengan membawa satu botol air mineral di tangannya. Wanita paruh baya itu sudah hampir tidur, tapi tiba-tiba ingin minum dan harus mengambil di dapur karna stok minuman di kamarnya sudah habis.


Saat akan menaiki tangga, Mama Sonia malah gagal fokus pada Pak Hadi. Security di rumahnya itu tampak berjalan ke arah dapur sambil menenteng dua paper bag di tangannya.


Mama Sonia jadi urung menaiki tangga, dia malah menghampiri Pak Hadi karna penasaran dengan apa yang di bawa securitynya itu.


"Pak Hadi,," Panggilnya. Pria paruh baya itu menghentikan langkah, dia langsung menunduk sopan pada majikannya.


"Bawa apa Pak.? Siapa yang nyuruh Pak Hadi belanja malam-malam begini.?" Tanyanya penasaran. Mama Sonia melihat nama supermarket depan rumah yang tertera pada paper bag di tangan Pak Hadi, jadi dia tau kalau isi dalam paper bag itu adalah belanjaan.


"Eh ini Bu, es krim punya Pak Shaka."


"Sebanyak itu.?"


Kening wanita paruh baya itu seketika mengkerut, sejak kapan putranya suka makan es krim.? Sebagai Ibunya, Mama Sonia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melihat Shaka makan es krim. Kini di depan matanya malah melihat Pak Hadi membawa es krim sebanyak itu atas perintah Shaka.


"Tapi Shaka sudah lama nggak makan es krim, dia juga nggak terlalu suka." Ujar Mama Sonia.


"Mungkin untuk Non Jiha Bu. Ini saya diminta bawa dua cup es krim ke kamar Den Shaka." Tutur Pak Hadi kemudian iji ke dapur untuk menyimpan es krim ke dalam freezer supaya tidak mencair. Setelah ini Pak Hadi juga harus mengantarkan es krim ke kamar Shaka.


Sepeninggalan Pak Hadi ke dapur, Mama Sonia malah diam di tempat, tapi pikirannya entah kemana. Sampai akhirnya seulas senyum lebar mengembang di wajah paruh bayanya yang tampak masih muda.


"Jangan-jangan Jihan sedang mengandung cucuku." Gumamnya dengan wajah berbinar dan penuh keyakinan. Sebab Shaka pernah bilang padanya kalau dia dan Jihan sudah melakukan hubungan suami istri. Dan itu terjadi ketika mereka honeymoon ke Swiss. Kalau di hitung-hitung, sudah sekitar 5 minggu yang lalu.


Sebagai wanita yang sudah dua kali hamil, Mama Sonia cukup yakin kalau kegiatan suami istri itu sudah membuahkan hasil.

__ADS_1


Dengan langkah terburu-buru, Mama Sonia menaiki tangga menuju kamar Shaka. Dia ingin memastikan langsung bahwa dugaannya tidak meleset.


Tokk,,tokk, tokk,,,


"Shaka, buka pintunya.!" Serunya setelah mengetuk pintu. Tak berselang lama, Jihan muncul dari balik pintu.


"Iya Mah, ada apa.?" Jihan menyernyit bingung.


"Kamu sedang hamil ya.? Dimana Shaka.? Kalian sudah pergi ke dokter atau belum.?" Cerocosnya saking terlalu antusias.


Jihan membisu, dia cukup kaget karna Mama Sonia bisa bertanya seperti itu.


"Mas Shaka sudah tidur mah,," Jawab Jihan sembari menoleh ke dalam kamar. Dia atas ranjang king size itu, Shaka tampak tertidur dalam posisi tengkurap dengan wajah mengharap ke samping.


"Jawab dulu pertanyaan pertama Mama. Kamu hamil.? Kenapa Shaka malam-malam menyuruh Pak Hadi beli es krim.? Pasti karna kamu sedang ngidam kan.?" Mama Sonia kembali mencecar Jihan dan sedikit mendesak Jihan untuk membenarkan tebakannya.


Jihan tidak berani mengiyakan tebakan Mama mertuanya karna di larang Shaka agar tidak memberi tahu kabar kehamilannya.


"Jihan baru selesai datang bulan belum lama ini. Mama dapat gosip darimana."


Jihan terkejut mendengar suara maskulin Shaka di belakangnya. Rupanya Shaka bangun setelah memilih tidur untuk meredam rasa pusing di kepalanya.


Binar di wajah Mama Sonia sedikit meredup.


"Kamu menyuruh Pak Hadi belines krim malam-malam begini, Mama pikir karna Jihan mengidam." Ujarnya lesu.


"Itu es krim untuk variasi dalam membuat cucu. Mama tanyakan saja pada Papa, pasti Papa tau jawabannya." Ujar Shaka sambil menahan senyum jahil.


"Kalau nanti Papa ingin mencoba, Mama ambil saja stok es krim Shaka di freezer." Tambahnya.

__ADS_1


Mama Sonia menatap jengah, anak dan Papa tidak ada bedanya. Wanita paruh baya itu kemudian pergi begitu saja dengan wajah merona karna malu. Bukan malu pada Shaka, bukan.! Tapi malu karna mengingat kegiatan panasnya bersama sangat suami dengan menggunakan es krim.


Melihat Mama Sonia pergi begitu saja, Jihan tampak kebingungan. Dia juga tidak paham maksud obrolan Shaka. Tidak tau apa hubungannya es krim dengan membuat cucu.


__ADS_2