Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 41


__ADS_3

Sepanjang menuju ruangan Shaka, beberapa kali Jihan membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Terlihat santai dan bahagia ketika membalas sapaan dengan senyuman, padahal pikirannya sedang berkecambuk. Perkataan Safira begitu melekat dalam ingatan. Jihan merasa telah menjatuhkan harga dirinya di depan Shaka. Hanya karna uang, akhirnya menyerahkan kesuciannya. Jihan merasa sangat malu jika harus bertemu Shaka, malu di pandang rendah oleh pria itu.


Gara-gara terlalu over thinking, Jihan sampai tidak berani ke ruangan Shaka. Wanita yang memakai baju tanpa lengan itu malah berhenti di depan ruangan Diana. Ruangan itu hanya berdinding kaca transparan, membuat Diana bisa melihat keberadaan Jihan dan langsung melambaikan tangan pada sahabatnya itu. Diana juga memberi isyarat supaya Jihan masuk ke ruangannya.


"Ya ampun Jihan, kamu dan Pak Shaka bukannya baru pulang tadi pagi." Ujar Diana seraya memeluk Jihan yang sudah berdiri di depannya.


Jihan mengangguk membenarkan.


"Aku nggak habis pikir sama suami kamu, baru pulang honeymoon malah langsung mampir ke perusahaan. Kamu juga, apa nggak cape.?" Cecar Diana. Dia mengajak Jihan duduk setelah melepaskan pelukannya.


"Untungnya aku pulang naik pesawat, kalau jalan kaki mungkin cape." Jihan malah menjawab dengan candaan dan sedikit senyum yang tampak di paksakan. Pasti sulit ketika harus tersenyum disaat hati sedang gelisah dan pikiran berkecambuk.


"Kamu ini.! Di tanya serius, jawabnya bercanda.$ Diana menepuk pelan lengan Jihan, Jihan meringis pelan sambil mengusap bekas tepukan Diana.


"Iih,, sakit tau Mba." Keluh Jihan protes. "Sepertinya tangan Mba Diana sudah terlatih dalam hal pukul memukul. Curiga tubuh Mas Sean babak belur karena dijadiin samsak tinju sama istrinya." Seloroh Jihan seraya menghindari gerakan tangan Diana yang sudah siap memukulnya.


"Kamu tuh lama-lama jadi mirip Pak Shaka, ngeselinnya sama.!" Diana memutar malas bola matanya. Jihan hanya terkekeh, dia tidak meneruskan perdebatan agar obrolan tidak semakin melebar.


"Aku bawaain parfum pesanan kamu Mba." Ucap Jihan sambil meletakkan beberapa paper bag di meja kerja Diana dan mengeluarkan kotak kecil warna putih berisi parfum brand ternama.


Diana menerimanya dengan senyum merekah, sebab parfum mahal itu diberi oleh Jihan sebagai oleh-oleh. Kini keduanya malah larut dalam obrolan seru sampai lebih dari 30 menit. Banyak hal yang Jihan ceritakan selama berada di Swiss. Namun, Jihan menutup rapat-rapat soal apapun yang berhubungan dengan pernikahan kontraknya dengan Shaka. Termasuk soal ke pera wanan seharga 2 milyar. Jihan bertekad untuk tidak membagi kisahnya pada siapapun. Cukup dia dan Shaka saja yang tau.


...******...


Jihan keluar dari ruangan Diana dan kini beralih ke ruangan Shaka. Dia tidak punya pilihan lain, sebab diberi amanah oleh Mama mertuanya agar membawakan makan siang untuk Shaka ke perusahaan.

__ADS_1


Jihan membuka pintu ruangan Shaka ketika di ijinkan masuk. Begitu masuk, Jihan segera menutup pintu dan berjalan ke arah Shaka yang tampak fokus dengan setumpuk berkas di atas meja.


"Maaf kalau menganggu." Ucap Jihan.


"Mama nyuruh saya bawain makan siang buat Bapak." Jihan berhenti di depan meja kerja Shaka sambil meletakkan paper bag berisi 2 porsi makan siang. Mama Sonia sengaja menyiapkan makan siang itu untuk Jihan dan Shaka.Tapi sepertinya Jihan akan memilih untuk langsung pulang.


Shaka mengangkat wajah, tatapan keduanya sempat beradu. Namun Jihan langsung menundukkan pandangan, terlihat jelas menghindari tatapan Shaka.


Kening Shaka mengkerut, nada bicara dan sikap Jihan ketika berhadapan dengannya seperti bukan Jihan yang dia kenal. Jelas menimbulkan tanda tanya di benak Shaka.


"Kamu kenapa.? Sakit.?" Cecar Shaka.


Jihan menggeleng tanpa ada niat menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya. Pertemuannya dengan Safira mampu membuat Jihan kehilangan kepercayaan dirinya di depan Shaka.


"Saya mau mengembalikan ini." Jihan menyodorkan kartu atm dari tangannya. Kartu atm itu sudah dia genggam sebelum masuk ke ruangan Shaka.


"Uang ini saya kembalikan lagi, saya nggak jadi menjual diri." Ujarnya tercekat. Penyesalan itu terlihat sangat menyiksa. Jihan mungkin tidak berfikir panjang saat menyetujui tawaran menggiurkan dari Shaka. Sampai akhirnya tertampar oleh perkataan Safira.


Shaka mengabaikan kartu atm di depannya. Dia beranjak dari duduknya untuk menggandeng tangan Jihan dan membawanya duduk di sofa.


"Kenapa tiba-tiba berfikir seperti itu.?" Cecar Shaka penasaran. Sebab sikap Jihan berbanding terbalik saat menerima uang itu ketika mereka masih di Swiss.


"Karna sekarang saya sudah sadar, kesepakatan itu salah." Jawab Jihan cepat.


"Pak Shaka nggak usah khawatir, tanpa menerima uang sepeserpun, saya nggak akan mempermasalahkan apa yang sudah terjadi. Aku yang bersalah disini."

__ADS_1


Bukannya menjawab rasa penasaran Shaka, perkataan Jihan malah membuat Shaka kebingungan.


Shaka yang tidak suka bertele-tele ketika ada masalah, akhirnya memutuskan pulang dengan mengajak serata Jihan pulang bersamanya. Keduanya turun ke lantai bawah tanpa saling bicara.


"Aku pikir Bu Jihan akan marah dengan ucapan Nona Safira." Suara itu menghentikan langkah Shaka. Berbeda dengan Jihan yang terlihat ingin berlari menghampiri meja resepsionis. Saat itu juga pergelangan tangan Jihan berhasil di cekal Shaka.


"Wanita itu terlalu berani bicara blak-blakan dengan Bu Jihan. Sepertinya sengaja ingin membuat Bu Jihan emosi." Sambung salah satu dari mereka.


Total ada 3 orang yang sedang asik bergosip, sampai akhirnya Shaka menemukan jawaban atas rasa penasarannya pada perubahan sikap Jihan.


...******...


"Safira bicara apa sama kamu.?" Cecar Shaka setelah masuk ke dalam kamar. Dia sudah menahan diri untuk tidak bertanya apapun sepanjang perjalanan menuju rumah.


"Pak Shaka jangan salah paham dulu, sebenarnya mantan Pak Shaka nggak salah. Dia cuma mengatakan pengalamannya, tapi saya malah merasa tertampar sama ucapannya." Jawab Jihan.


Shaka bukan tipe orang yang puas dengan jawaban ambigu seperti itu, jadi dia terus mencecar Jihan sampai akhirnya Jihan menceritakan semuanya.


"Kamu itu bodoh atau apa.?" Shaka mengetuk kening Jihan menggunakan telunjuknya. Reaksi Shaka membuat Jihan mengerucutkan bibir.


"Terlepas dari ucapannya yang sebagian memang benar, tapi posisi dan status kamu sudah jelas. Lagipula bukan hal yang aneh ketika seorang pacar memberi uang. Saya nggak pernah membujuk dia dengan uang untuk melakukannya. Kamu pasti tau seperti apa kisah cinta seseorang yang sudah sama-sama dewasa." Jelas Shaka panjang lebar. Entah apa maksudnya memberikan penjelasan sepanjang itu pada Jihan.


"Apapun itu, saya nggak mau terima uangnya. Anggap saja kejadian di Swiss karna kewajiban seorang istri pada suaminya."


"Pak Shaka jangan paksa saya Terima uangnya lagi." Ujar Jihan mengingatkan. Dia buru-buru membuka pintu kamar dan meninggalkan Shaka di kamarnya. Jihan memilih mengakhiri perdebatan daripada merusak moodnya jika terlalu lama berdebat.

__ADS_1


...*****...



__ADS_2