Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 62


__ADS_3

Perkataan Shaka bukan sekedar ucapan belaka. Usai memberikan jeda 20 menit untuk istirahat, Shaka kembali melancarkan aksinya. Serangan demi serangan mulai menghujani bagian sensitif tubuh Jihan.


Tanpa ada perlawanan ataupun penolakan, Jihan benar-benar pasrah ketika dirinya dikuasai penuh oleh Shaka. Mungkin dia juga merasa bersalah karna sempat membuat Shaka marah beberapa hari lalu. Jadi ketika Shaka ingin mengulanginya lagi, Jihan tampak sudah siap dan membiarkan Shaka melakukan apapun padanya.


Kali ini Shaka lebih santai dan tidak tergesa-gesa. Lebih pada menikmati momen dan membuat Jihan senyaman mungkin agar lebih rileks.


Ciuman Shaka semakin turun, dari yang awalnya berada di leher, kini berhenti di perut Jihan. Pria itu mendaratkan kecupan berkali-kali di permukaan perut Jihan yang mulai sedikit buncit karna banyak makan.


Jihan tanpa sadar mengulum senyum melihat Shaka mengecupi perutnya. Perasaan hangat dan haru seketika menyelimuti hatinya. Perlakuan Shaka membuat Jihan yakin bahwa suaminya itu benar-benar menginginkan anak darinya.


Konsentrasi Jihan buyar ketika ciuman Shaka semakin turun kebawah dan menimbulkan sensasi luar biasa yang membuat seluruh tubuhnya menegang. Sempat diliputi rasa malu, namun gelombang ke nik matan yang diberikan Shaka cukup besar hingga mampu menggulung rasa malu yang menyelimuti.


...******...


Pukul 8 pagi, Shaka dan Jihan meninggalkan hotel. Shaka memutuskan menginap karna tidak tega membangunkan Jihan yang tampak kelelahan pasca melanjutkan babak ketiga. Kebetulan pagi ini Shaka bisa berangkat siang, sebab pagi ini pekerjaannya masih di bisa di handle oleh Diana dan Leon.


Shaka melajukan mobil mewahnya meninggalkan basement hotel. Disebelahnya ada Jihan yang lahap menyantap sandwich.


"Kita langsung ke rumah baru." Ujar shaka memberi tau.


Jihan berhenti mengunyah dan menatap Shaka.


"Sekarang.?" Tanyanya yang dibalas anggukan oleh Shaka.


"Tapi baju-bajuku masih di rafless." Ujar Jihan.


"Sudah di pindahkan ke rumah baru sejak tadi malam. Semua baju dan barang kamu tanpa terkecuali. Nanti kamu cek ulang saja."


Jihan mengangguk-anggukan kepala. Dia percaya saja dengan perkataan Shaka, sebab suaminya itu bisa melakukan apapun.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa lagi.?" Tawar Shaka saat melihat sandwich di tangan Jihan sudah habis tak tersisa. Mendadak Shaka jadi lebih peka dan selalu memperhatikan gerak gerik Jihan. Bahkan sedang makan saja sampai di perhatiankan.


"Perutku masih kenyang, nanti saja kalau sudah lapar." Tolak Jihan. Shak manggut-manggut Shaka tanpa intruksi. Padahal dalam hati ingin mengatakan sesuatu, namun memilih di tahan demi menjaga suasa yang tenang di dalam mobil.


Bayangkan saja, Jihan sudah menghabiskan sarapan dan dessert sebelum checkout dari hotel. Belum cukup sarapan dengan makanan berat dan di tambah dessert, Jihan masih ingin pesan sandwich untuk di makan saat di mobil.


Tidak heran kalau Jihan bilang masih kenyang. Shaka pun ikut merasakan kenyangnya hanya dengan melihat nafsu makan Jihan yang naik signifikan. Meski begitu, Shaka merasa beruntung karna kehamilan Jihan tidak merepotkan dirinya.


...******...


Jihan tidak kaget saat di bawa ke rumah mewah milik Shaka yang berada di kawasan perumahan elite. Otaknya sudah terdoktrin bahwa suaminya adalah seorang Sultan. Uang dan fasilitas serba mewah saling berkaitan erat dengan suaminya. Jihan menyadari kalau dirinya harus bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup Shaka yang terbilang serba mewah menurutnya. Tak hanya itu saja, Jihan juga merasa perlu menyiapkan mental dan hati sebagai istri seorang CEO tampan yang digilai banyak wanita di luar sana.


"Jangan bengong,," Tegur Shaka ketika Jihan berhenti di ruang tamu.


"Kita ke kamar dulu." Ajaknya seraya menggandeng pergelangan tangan Jihan. Shaka menuntun langkah Jihan ke lift yang ada di sudut rumah.


"Siapa bilang.? Di bawah ada dua pekerja yang akan mengurus rumah. Ada security dan supir juga." Jawab Shaka. Keduanya sudah sampai di lantai dua, Shaka menggandeng Jihan keluar dari lift begitu pintu terbuka.


"Apa aku boleh kerja lagi.?" Pertanyaan Jihan membuat Shaka berhenti melangkah. Pria itu menoleh dengan tatapan dingin. Jihan menyengir kaku. Melihat raut wajah tak bersahabat dari Shaka, Jihan menyadari sepertinya dia sudah salah bicara.


"Apa kamu pikir saya nggak bisa menghidupi kamu.?" Ujarnya penuh penekanan. Jihan menggeleng cepat.


"Jangankan menghidupi, aku tau Mas Shaka bisa membelikan apapun yang aku mau. Hanya saja,, aku punya Mama dan Juna." Jihan memasang wajah serius. Dua orang yang berarti dalam hidupnya itu masih menjadi tanggungjawabnya. Paling tidak sampai Juna bisa menghasilkan uang sendiri.


"Itu bukan masalah besar, saya yang akan menjamin mereka tanpa kamu harus bekerja. Cukup dengan kamu tinggal disini, mendengar dan menuruti semua perkataan saya." Tutur Shaka penuh ketegasan.


"Satu lagi, melayani saya dengan baik.!" Katanya kemudian menggandeng tangan Jihan lagi dan masuk ke dalam kamar.


...******...

__ADS_1


Entah apa yang ada di pikiran Shaka. Padahal selama sudah melewati malam panjang dengan Jihan sampai pada babak ketiga. Seolah belum puas, pagi ini Shaka memintanya lagi. Atau lebih tepatnya memaksa, sebab Jihan sempat menolak, tapi tidak di hiraukan.


Shaka menutup tubuh polos Jihan dengan selimut hingga sebatas leher. Pria itu melu mat sekilas bibir Jihan, membuat bibir Jihan mengerucut dengan kemesuman dan kegilaan suaminya itu.


"Kamu istirahat saja, saya harus ke perusahaan sekarang." Kata Shaka sambil memunguti bajunya yang berserakan di lantai.


Baru pertama kali memasuki kamar di rumah barunya, Shaka sudah test drive. Mungkin sekalian ingin menguji ketahan ranjang mahalnya, apakah tahan guncangan atau tidak. Ternyata aman dan cukup leluasa untuk ganti berbagai macam gaya.


"Boleh ikut.? Aku sudah lama nggak ketemu Mbak Diana." Jihan menatap memohon.


Shaka tidak mengiyakan, tapi dia mengulurkan tangan pada Jihan supaya turun dari ranjang.


Jihan mengulum senyum dan turun dengan hati-hati. Keduanya beranjak dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


...******...


Memasuki perusahaan, pasangan suami istri itu menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka. Terlebih Shaka. Jika belakangan ini wajahnya tampak diselimuti amarah dan tatapan tajam, pagi ini justru terlihat teduh dengan aura positif. Bukan awur-awuran seperti biasanya.


Beberapa diantaranya saling berbisik, membicarakan perubahan mood Shaka yang terlihat jauh lebih baik. Mereka mengaitkan hal itu dengan kehadiran Jihan. Mereka cukup yakin kalau Jihan sangat berperan penting dalam menjaga mood Bos mereka yang terkenal dingin dan kaku.


"Aku langsung, ke ruangan Mba Diana ya." Kata Jihan ketika keluar dari lift. Kedua sudah sampai di lantai tempat ruangan kerja Shaka berada.


"Hem, tapi jangan sampai menganggu pekerjaannya." Ujar Shaka mengingatkan.


"Kalau butuh sesuatu, telfon saya saja."


Jihan mengangguk paham. Dia melepaskan gandengan tangannya dan berbelok ke ruangan Diana.


Shala berdecak kesal melihat Jihan pergi begitu saja. Dia mengharapkan ada adegan cium tangan atau cium pipi. Tapi istrinya itu sudah menyelonong ke ruangan Diana.

__ADS_1


__ADS_2