
"Mas,,," Jihan merengek sambil memegangi ujung jas Shaka ketika pria itu berdiri dari duduknya hendak meninggalkan meja makan. Jihan sebenarnya geli sendiri ketika merengek seperti itu sambil memasang wajah memelas pada Shaka. Baru kali ini dia merengek pada Shaka seperti anak yang sedang merengek pada Papanya.
"Boleh ya.?" Pinta Jihan memohon. Dia memperlihatkan puppy eyes yang sebenarnya tampak menggemaskan dan membuat Shaka tidak tega melihatnya. Namun apapun bentuk rayuan Jihan, tidak bisa membuat Shaka merubah keputusan.
"Nggak ada negosiasi Jihan. Sekalipun kamu merengek sambil menangis, jawabannya akan tetap sama.!" Shaka berucap tegas. Pria itu cukup kuat dengan pendiriannya. Terbiasa mempimpin perusahaan yang diharuskan bisa tagas dalam membuat keputusan, membuat Shaka akhirnya bersikap tegas dalam segala hal. Termasuk melarang Jihan untuk tidak ikut berlibur bersama rekan satu disivinya.
Jihan jadi cemberut, perlahan dia melepaskan jas Shaka dan tidak lagi menahannya. Dia sudah bicara baik-baik, bahkan berjanji akan berhati-hati selama liburan di villa. Sampai meyakinkan Shaka bahwa dia tidak akan melakukan kegiatan yang membahayakan. Namun hasilnya tetap nihil, Shaka dengan tegas tidak memberinya ijin.
Helaan nafas berat keluar dari mulut Jihan. Raut wajahnya bukan hanya memelas, tapi tampak murung dengan sorot mata kosong.
"Aku berangkat." Shaka berlalu, dia sempat mengusap perut Jihan yang tidak memberi respon apapun.
Ibu hamil itu tertunduk sendu. Tiba-tiba jadi melow, matanya tampak berair menahan tangis. Entah kenapa mendadak terbesit rasa nyeri di dadanya. Merasa terkurung dan hidupnya seakan dikendalikan oleh Shaka. Semua geraknya jadi terbatas karna harus meminta persetujuan dari Shaka. Sedangkan semua keputusan juga ada di tangan Shaka.
...******...
"Nanti kamu kirim saja foto-fotonya, sekalian harga rumahnya. Kalau kamu oke, besok kita kesana sekalian sama Mama." Kata Jihan yang bicara dengan Juna melalui sambungan telfon.
Seharusnya sore ini Jihan mengajak Juna dan Mama Dewi mencari rumah di dekat kampus. Tapi karna sejak pagi moodnya buruk, Jihan akhirnya hanya menghubungi Juna agar mencari rumah sendiri.
'Iya Mba, ini juga mau survei, tapi mau antar temen pulang dulu.'
'Siapa.? Kakak kamu.?'
Jihan mengerutkan kening ketika mendengar suara wanita yang terdengar jelas di ponselnya.
"Juna, kamu nganterin temen perempuan.?" Tanya Jihan mengintimidasi. Untuk urusan percintaan adiknya, Jihan benar-benar sangat ketat. Jadi ketika mendengar disebelah Juna ada suara wanita, Jihan langsung ketar-ketir.
'E,, i-iitu Mba, kebetulan rumahnya satu arah.' Jawab Juna gugup.
__ADS_1
Jelas Jihan tidak percaya begitu saja.
"Menjauh sedikit, Mba mau bicara empat mata sama kamu.!" Tegas Jihan penuh penekanan.
Di seberang sana, Juna mengikuti intruksi Kakaknya dengan meninggalkan perempuan itu di dekat motor gedenya.
"Sudah." Kata Juna setelah yakin perempuan itu tidak akan mendengar percakapannya dengan sang Kakak.
'Kamu nggak lupa kan pesan Mba.?' Kata Jihan mengingatkan. Juna mengangguk samar meski tau Jihan tidak akan melihatnya.
'Mba cuma minta kamu kuliah yang bener sampai lulus, setelah itu cari pekerjaan agar bisa menghidupi diri kamu sendiri. Ingat Juna, kita bukan siapa-siapa dan nggak punya apa-apa. Jadi sebaiknya jangan pernah berfikir menjalani hubungan dengan siapapun sebelum kamu berdiri di kaki sendiri. Tolong jangan membuat Mba dan Mama kecewa. Cuma kamu harapan kami.'
Nada bicara Jihan terdengar bergetar menahan tangis. Suasana hatinya masih cukup buruk sampai sekarang. Imbas dari di larang pergi oleh Shaka. Sekarang malah di tambah adiknya yang membuat ulah. Bumil semakin sensitif.
"Juna minta maaf. Juna mengaku salah." Lirih Juna. Matanya menatap nanar pada gadis cantik yang sedang menunggunya di samping motor.
Juna menghela nafas berat, lalu memasukkan ponsel ke saku celananya dan menghampiri gadis yang beberapa minggu terakhir intens berkomunikasi dengannya.
"Ada apa.? Kamu keliatan banyak beban."
Juna menggeleng dan berusaha memaksakan senyum.
"Aku langsung antar kamu pulang ya." Juna naik ke atas motornya, di susul gadis itu yang membonceng di belakang.
...******...
Di ambang pintu kamar, Shaka sudah berdiri cukup lama ketika Jihan bicara dengan Juna lewat telfon. Ada beberapa ucapan Jihan yang cukup mengusik pikirannya.
Kita bukan siapa-siapa dan nggak punya apa-apa.
__ADS_1
Shaka sampai mengulang kalimat itu dalam hati. Bagaimana bisa Jihan bicara seperti itu. Sahaka jadi berfikir kalau Jihan merasa tidak memiliki hak atas yang dia miliki saat ini.
"Ehemm,," Shaka berdehem, lalu mqsuk dan menutup pintu kamar. Jihan tampak tekejut, artinya dia memang tidak menyadari keberadaan Shaka sejak tadi.
Jihan meletakkan ponsel di atas nakas, kemudian menghilang di balik pintu walk in closet. Sementara itu, Shaka memilih duduk di sofa setelah melepas jas dan sepatunya. Dia menunggu Jihan kembali.
Tak berselang lama, Jihan keluar dengan membawa baju ganti milik Shaka, lalu diletakan di atas ranjang.
"Mas Shaka mau minum apa.?" Tanya Jihan di tempatnya. Dia tidak menghampiri Shaka dan terkesan menjaga jarak meski masih menyiapkan kebutuhannya.
"Kemari.!" Shaka menepuk sisi kosong di sebelahnya. Dia merasa perlu bicara lagi dengan Jihan, sebab raut wajah Jihan menunjukkan kekecewaan padanya.
"Nanti saja setelah aku buatkan minum. Aku ke dapur dulu." Jihan menyelonong keluar kamar dan tidak menghirukan Shaja yang memanggil untuk kembali.
10 menit berlalu, Jihan kembali dengan membawa beberapa minuman dingin dan hangat. Dia meletakkan nampan di depan Shaka dan duduk di seberangnya.
"Kamu marah.?" Tanya Shaka. Jihan mengangkat wajah untuk menatap Shaka.
"Orang sepertiku nggak berhak marah." Jawab Jihan. Bukan masalah yang fatal, tapi Jihan merasa hatinya sangat sakit. Merasa tidak bebas dan terkekang. Ingin berkumpul dengan teman-teman saja harus di larangan.
...*****...
Sepanjang perjalanan, Juna malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak begitu merespon gadis yang terus mengajaknya bicara. Dan tidak terasa motor yang dikendarai Juna sampai di depan rumah mewah dengan gerbang lebar yang menjulang tinggi.
Juna memejamkan mata sekejap, harusnya sejak awal dia tidak bertindak sejauh ini dengan merespon gadis cantik di kelasnya yang menjadi incaran banyak mahasiswa. Status mereka jelas berbeda. Namun ketika hati sudah menjatuhkan pilihannya, Juna bisa apa.?
Terlebih dia merasa hidupnya sudah terjamin setelah sang Kakak menikah dengan Shaka. Apalagi Kakak iparnya itu sangat royal. Juna jadi tidak khawatir sama sekali ketika mendekati seseorang yang memiliki status sosial tinggi.
"Sana masuk. Nanti malam aku telfon." Kata Juna. Dia mengusap pucuk kepala gadis itu, kemudian buru-buru pergi dengan perasaan yang tidak menentu. Sudah terlanjur menaruh hati dan memiliki perasaan yang sama. Baru memulai tapi harus di akhiri.
__ADS_1