
Mama Sonia duduk santai di ruang keluarga sambil menonton film. Wanita paruh baya itu sesekali melirik jam dinding. Hampir 1 jam Mama Sonia duduk di sana, menunggu anak dan menantunya yang sedang dalam perjalanan pulang dari pantai. Tadi sudah menelpon Jihan, katanya sebentar lagi sampai rumah. Tapi sudah hampir 1 jam belum kelihatan batang hidungnya.
Di tengah-tengah rasa bosan yang menyelimuti Mama Sonia karna terlalu lama menunggu, Shaka malah sengaja memperlambat laju mobilnya dan berhenti di restoran untuk makan siang. Padahal kalau melajukan mobil dengan kecepatan normal, mereka bisa sampai di rumah sebelum jam makan siang. Sayangnya Shaka memang sengaja melakukannya supaya Mama Sonia kesal karna terlalu lama menunggu.
"Kenapa nggak di bawa pulang saja makanannya.? Mama sudah nungguin di rumah." Jihan sedikit memberi saran ketika Shaka memesan makanan untuk makan di tempat.
"Aku sudah lapar Jihan. Nggak sanggup kalau harus pulang dulu." Ujar Shaka.
Jihan memutar bola matanya malas. Dia paham kalau Shaka hanya mencari-cari alasan untuk mengulur waktu supaya lebih lama di jalan. Sejak ketahuan menyembunyikan kehamilan, Shaka dan Mama Sonia sering terlibat perang dingin. Jihan bahkan kehabisan kata-kata sekedar untuk mendeskripsikan suami dan Mama mertuanya itu.
"Nanti Mama marah bagaimana.?" Tanya Jihan dengan ekspresi malas. Bukan malas pada Mama mertuanya, tapi malas dengan perang mulut antara Shaka dan Mama Sonia. Kalau sudah seperti itu, Jihan bingung harus membela siapa. Sebab hanya melerai saja tidak akan membuat keduanya berhenti adu mulut.
"Bilang saja cucunya sudah nggak tahan mau makan siang." Sahut Shaka santai. Dia sudah menemukan kelemahan Mama Sonia. Apapun alasannya kalau berhubungan dengan anak yang ada di dalam kandungan Jihan, sudah pasti bisa di maklumi dan tidak akan marah-marah.
...******...
Juna memandang lekat wajah cantik Vierra di depannya. Gadis itu sedang menikmati makan siangnya di tempat makan sederhana. Tempat makan paling murah yang mungkin baru pertama kali di kunjungi oleh Vierra sejak kenal dekat dengan Juna.
Vierra mengangkat wajah ketika merasa sedang di perhatikan. Dia mengerutkan kening ketika mendapati Juna tertangkap basah memandanginya.
"Ada apa.?" Vierra menatap heran.
Juna menghela nafas berat dan mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Aku rasa kita nggak bisa seperti ini terus. Kamu seorang wanita, pasti butuh kepastian. Sedangkan kamu tau sendiri, aku nggak bisa menjanjikan apapun sebelum lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan." Lirih Juna dengan perasaan yang sudah tidak karuan, bahkan raut wajahnya tampak frustasi.
"Seandainya di luar sana ada pria baik yang lebih menjanjikan, kamu bisa mempertimbangkannya demi masa depan mu sendiri." Juna menelan ludah dengan susah payah ketika merasakan sesak di dadanya karna meminta Vierra bersama dengan pria lain.
Vierra tertegun, sendok di tangannya langsung dia letakan di piring dan menggeser piring yang belum habis makanannya. Nafsu makannya seketika hilang karna ucapan Juna.
"Aku nggak protes saat kamu meminta mengakhiri hubungan kita dan menjadi teman baik. Karna aku percaya kamu akan membuktikan ucapan kamu empat bulan yang lalu. Aku juga nggak keberatan menunggu sampai kamu lulus dan dapat kerjaan." Ujar Vierra dengan sorot mata berapi-api, antara marah dan kecewa.
"Kita sudah sepakat berteman baik dan melanjutkan hubungan setelah kamu punya pekerjaan. Kenapa sekarang kamu menyuruhku mempertimbangkan pria lain.?" Suara Vierra bergetar dan matanya memerah menahan tangis.
Hanya dengan Juna Vierra merasa di hargai sebagai wanita. Sekalipun tidak pernah Juna merendahkan apalagi melecehkannya. Juna benar-benar menjaganya tanpa ingin merusak meski sebenarnya punya banyak kesempatan untuk melakukannya. Hal itu membuat Vierra yakin bahwa Juna adalah sosok pria yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup. Vierra merasa sangat membutuhkan sosok seperti Juna ketika berumahtangga kelak.
"Vie,, sejujurnya situasinya sangat sulit untukku." Juna menatap iba, dia tidak tega melihat kesedihan di mata Vierra. Sebenarnya Juna juga ingin bertahan, tapi dia selalu mengkhawatirkan kondisi status sosialnya yang jauh berbeda dengan keluarga Vierra.
Juna mencekal pergelangan tangan Vierra saat wanita itu akan pergi.
"Ini bukan soal wanita lain. Tapi tentang kondisi ku." Ujar Juna cepat.
"Vierra, aku dan kamu sangat berbeda." Lirihnya dengan suara tercekat.
"Baik, aku mengerti.! Kita lupan saja semuanya dan berhenti menjadi teman." Vierra menepis tangan Juna dan pergi begitu saja. Juna bisa melihat Vierra meneteskan air mata saat berlalu. Gadis itu terlihat mengusap air matanya sebelum keluar dari tempat makan.
Juna tidak mencegah karna merasa yakin dengan keputusannya. Walaupun hatinya juga sakit dan tidak rela melepaskan Vierra begitu saja.
__ADS_1
"Maaf,,," Lirih Juna penuh sesal. Dia harusnya menurut ketika diperingati Kakaknya 4 bulan yang lalu. Tapi tetap saja masih berhubungan dengan Vierra meski berubah status menjadi teman.
...******...
"Kamu pasti sengaja kan pulangnya lama.! Padahal Mama sudah telfon Jihan." Omelin Mama Sonia pada Shaka.
Pria itu tampak acuh meski wajah Mama Sonia sudah tempak geram padanya.
"Perut Jihan bunyi, dia nggak boleh telat makan siang. Memangnya Mama tega lihat cucu Mama kelaparan."
"Ck,,! Alesan saja." Sahut Mama Sonia tidak percaya. Dia kemudian menggandeng lengan Jihan.
"Ayo kemaer anak, kamu harus liat Mama bawa apa." Ajaknya antusias. Jihan mengikuti langkah Mama Sonia ke lantai atas.
Shaka membuntuti Mama dan istrinya karna penasaran. Entah kali ini apalagi yang dibawakan Mama Sonia untuk cucunya. Shaka bahkan pusing melihat barang-barang di kamar anak yang hampir penuh gara-gara Mamanya selalu membawa perlengkapan bayi setiap kali berkunjung.
Shaka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat banyaknya perlengkapan yang baru di belikan oleh Mamanya. Kamar anak ukuran 6 x 4 meter itu sudah penuh dengan barang-barang dan baju bayi. Yang membuat Shaka semakin kesal, dia hanya bisa membeli baju-baju saja karna Mama Sonia sudah membelikan semua perlengkapan bayi sejak mengetahui Jihan hamil.
"Mama yang benar saja, kamarnya sudah penuh, jangan di tambah barang-bqrang lagi. Kalau kamar ini penuh dengan barang, nanti anak Shaka mau tidur dimana." Protes Shaka kesal.
"Rumah kamu masih cukup luas, menambah satu kamar lagi kan masih bisa." Mama Sonia tampak acuh dan tidak peduli, dia terlalu bersemangat menunjukkan barang-barang yang dia beli.
Jihan memberi kode pada Shaka supaya diam dan tidak meladeni ucapan zmama Sonia. Karna kalau salah satu tidak ada yang mau diam, pasti akan berujung perdebatan.
__ADS_1