Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 42


__ADS_3

Jihan keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap dan rapi. Wanita itu duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambut dan memoleskan make up tipis di wajahnya. Di sudut kamar, ada Shaka yang sesekali melirik ke arah Jihan. Pria yang sedang menyelesaikan pekerjaannya itu sudah kehilangan konsentrasi sejak Jihan menghindar dan tidak banyak bicara.


Shaka beranjak dari duduknya ketika melihat Jihan meraih tas selempangnya selesai make up.


"Mau kemana.?" Shaka berhenti di depan Jihan, sengaja menghalangi jalan.


"Menginap di rumah Mama. Saya sudah ijin Mama Sonia tadi pagi." Jawab Jihan seraya bergeser agar bisa keluar dari kamar. Sebab Shaka berdiri tepat di depannya.


"Kamu nggak ijin sama saya.?" Shaka menatap datar.


Jihan tersenyum samar.


"Sekarang Pak Shaka sudah tau saya mau ke rumah Mama, jadi nggak perlu ijin lagi kan.?" Ujar Jihan.


"Saya pergi dulu Pak, taksinya sudah menunggu di depan." Jihan berlalu ke arah pintu, namun langkahnya kalah cepat dari Shaka. Pria itu lebih dulu sampai di depan pintu dan langsung menguncinya.


"Tunggu sebentar, saya siap-siap dulu." Ujar Shaka sambil berlalu ke walk in closet. Tak lupa membawa kunci kamar hingga Jihan tidak bisa keluar.


"Ckk, menyebalkan sekali. Siapa juga yang mau ngajak gunung es.!" Gerutu Jihan kesal, tapi wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Shaka membuka pintu kamar.


...*****...


Dan saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil yang sama. Shaka benar-benar memaksa ikut walaupun sudah di tolak Jihan. Pria itu sampai memberi beberapa lembar uang pada taksi online yang sudah terlanjur di pesan Jihan, lalu menyuruh supir taksi itu untuk pergi.


"Mau mampir ke toko kue dulu.?" Tanya Shaka. Dia membuka obrolan pertama kali sejak mobil mewahnya meninggalkan rumah.


Jihan menggeleng cepat.


"Nggak usah Pak. Oleh-oleh yang kita beli juga banyak makannya. Kuenya lain kali kalau saya pulang lagi." Tolak Jihan.


Shaka hanya mengangguk kecil dan tidak mendebat. Tapi saat akan melewati toko kue langganan Jihan, Shaka malah membelokkan mobilnya dan parkir di depan toko kue yang terkenal itu.

__ADS_1


"Kok malah kesini Pak.? Saya kan sudah bilang nggak usah." Protes Jihan.


"Saya yang mau beli buat Juna sama Mama. Kamu mau tunggu disini atau ikut.?" Shaka melepaskan seatbelt dan bergegas membuka pintu mobil.


Kali ini Jihan membiarkan tanpa protes lagi. Dia tidak akan melarang Shaka peduli pada keluarganya. Justru kebaikan Shaka bisa membuat Juna dan Mama Dewi percaya bahwa pernikahan Jihan dengan Shaka benar-benar nyata. Bukan pernikahan semu yang dilandasi oleh kontrak perjanjian.


"Saya tunggu disini. Pak Shaka beli kue secukupnya saja ya, jangan terlalu banyak." Ujar Jihan mengingatkan. Sesuatu yang berlebihan juga tidak baik. Takutnya kekecewaan Juna dan Mama Dewi terlalu membekas ketika harus menerima kenyataan pahit.


Shaka mengangguk paham, dia kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam toko.


Selang 10 menit, Shaka kembali dengan 3 paper bag besar di tangannya. Jihan sudah menghela nafas saja melihat Shaka dari dalam mobil. Padahal sudah diingatkan Jihan, tapi tetap saja membeli banyak kue. Atau bisa jadi standar 'sedikit' menurut Shaka memang segitu.


"Mau buka toko kue ya Pak.?" Cerocos Jihan bercanda.


Shaka tersenyum tipis dan meletakkan semua paper bag di jok belakang dari kursi kemudi.


"Sekalian untuk amunisi tempur biar nggak kelaperan tengah malam." Ujarnya.


Seandainya Jihan bisa membaca pikiran Shaka, mungkin saat ini dia sedang mengomeli Shaka sambil berteriak mesum.


...******...


Jihan menyipitkan matanya dalam jarak sekitar 10 meter. Dia menajamkan pandangan untuk memastikan motor besar warna hijau itu benar-benar ada di depan teras rumah kontrakannya.


Jihan jelas penasaran dengan sosok pemilik motor mahal yang dibiarkan terparkir di halaman rumahnya. Dengan langkah cepat, Jihan buru-buru masuk ke dalam. rumahnya. Shaka sampai tertinggal jauh di belakang.


Mama Dewi keluar dari arah dapur menuju ruang tamu setelah mendengar suara cerewet putrinya memanggil Juna.


"kamu baru masuk rumah sudah teriak-teriak. Junanya lagi mandi." Tegur Mama Dewi.


"Bagaimana bulan madunya.? Semoga cucu Mama cepat jadi ya." Kata Mama Dewi seraya memeluk Jihan.

__ADS_1


Perkataan ibunya tidak bisa di jawab oleh Jihan. Sebab takut jika jawabannya akan menjadi harapan yang menyakiti di kemudian hari untuk orang tuanya. Jadi Jihan memilih diam saja.


"Do'a kan saja Mah. Saya sama Jihan sudah berusaha." Ujar Shaka yang baru masuk ke dalam rumah. Dia menyapa sopa Mama mertuanya dan mengabaikan Jihan yang menatapnya dengan sorot mata tajam karna kesal. Mulut Shaka terlalu bahaya. Jihan sampai di buat malu meski di depan Mamanya sendiri.


Jihan memilih mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan soal motor mahal yang terparkir di teras rumah mereka.


Mama Dewi sontak melirik menantunya, karna Shaka memang menyuruhnya untuk tidak memberi tau Jihan.


"Mama kenapa liatin mas Shaka.?" Jihan menatap curiga. "Jangan bilang motor itu dari kamu, Mas.?" Tebak Jihan yakin.


"Memangnya Mba Jihan mau apa kalau motor itu dari Bang Shaka.?" Seloroh Juna yang baru selesai memakai baju ganti. Juna lantas ke ruang tamu dan duduk di sebelah Shaka.


"Juna, kamu kenapa nggak bilang dulu sama Mba.? Jangan asal menerima pemberian dari orang." Nada bicara Jihan penuh penekanan, ada kekecewaan juga di dalam sorot matanya pada sang adik. Harga motor itu tidak murah, tapi Juna begitu mudah menerima pemberian Shaka tanpa meminta pendapatnya lebih dulu. Jelas Jihan kecewa karna.


"Bang Shaka suami Mba Jihan, sama saja seperti Kakak Juna sendiri kan.? Apa salahnya Juna menerima pemberian dari Kakak sendiri." Balas Juna.


"Tapi Juna,,,"


"Sudah jangan di permasalahkan, saya yang memaksa Juna menerima motor itu. Di rumah juga nggak di pakai, lebih baik di pakai Juna buat berangkat kuliah." Lerai Shaka memotong ucapan Jihan.


"Mama sudah bilang sama Juna buat mengembalikan motornya kalau nanti Juna sudah bisa beli motor sendiri." Ujar Mama Dewi.


"Kamu nggak usah khawatir." Lirihnya lembut pada Jihan. Mama Dewi seolah tau apa yang di khawatirkan putrinya. Mungkin tidak mau keluarganya di cap matre atau memanfaatkan Shaka.


Jihan menghela nafas berat, tapi tidak mendebat lagi. Tiga lawan satu, jelas Jihan kalah. Mau bicara seperti apapun pasti percuma.


"Ini oleh-oleh dari Mas Shaka." Jihan menyodorkan dua paper bag pada Mamanya. Dua lagi untuk Juna.


Dua orang beda generasi itu langsung berterimakasih pada Shaka. Menantu dan Kakak ipar mereka sangat baik dan pengertian. Siapa yang tidak bersyukur Jihan memiliki suami seperti Shaka.


"Semoga pernikahan kalian selalu bahagia dan cepat punya anak." Ucap Mama Dewi mendoakan.

__ADS_1


"Aamiin," Jawab Shaka seraya mengulas senyum. Jihan langsung melirik Shaka karna terdengar sangat bersemangat ketika meng'Aamiin'kan do'a dari Mama mertua.


__ADS_2