Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 60


__ADS_3

Shaka jadi tidak enak hati ketika Mama Dewi meminta maaf atas tindakan Jihan yang menghilang darinya selama 3 minggu. Padahal semua itu ide dari Mama Sonia. Shaka bahkan yakin Jihan dan Mama Dewi tidak akan berani bersembunyi jika tidak ada yang mendesak mereka. Dalam artian, Mama Sonia yang berperan penting atas tindakan yang lakukan Jihan.


"Mama juga minta maaf karna telat membujuk Jihan untuk menemui kamu lebih awal. Seharusnya ada jalan keluar yang lebih bijak selain bersembunyi seperti ini." Ujar Mama Dewi meyangkan. Rasanya terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Seandainya dibicarakan baik-baik, tentu waktu 3 minggu itu akan sangat bermanfaat untuk saling memperbaiki diri dan intropeksi kesalahan masing-masing.


"Ini bukan kesalahan Mama, jangan meminta maaf seperti ini dan membuat saya merasa gagal menjadi suami." Shaka menundukkan pandangan. Ada rasa bersalah yang menyelimuti. Untung saja tidak ada yang membocorkan soal pernikahan kontrak itu pada Mama Dewi. Entah akan sehancur apa perasaan Mama mertuanya itu.


Dan kemungkinan terparah, Mama mertuanya mungkin akan menyuruh mengakhiri pernikahan kontrak itu.


"Maaf sudah membuat Mama kurang nyaman dan mungkin terbebani dengan masalah ini." Ucap Shaka tulus.


"Kedepan, saya dan Jihan akan lebih bijak lagi dalam menyikapi masalah." Tuturnya meyakinkan.


Melihat kesedihan di mata Mama mertuanya, Shaka bisa memahami bahwa masalah ini cukup mengganggu pikirannya.


"Mama percaya sama Nak Shaka. Tolong titip Jihan, dia mungkin masih butuh banyak arahan dan bimbingan dari kamu. Jangan pernah bosan mengingatkan Jihan kalau melakukan kesalahan."


Shaka mengangguk paham, meski dalam hatinya semakin diliputi rasa bersalah. Dari sini, Shaka bisa melihat Mama mertuanya sama sekali tidak menyalahkannya. Padahal Mama Sonia sudah mengatakan pada Mama Dewi kalau Shaka yang bersalah, karna terlalu cuek dan kurang perhatian pada Jihan.


...******...


Shaka naik kembali ke lantai dua selesai bicara empat mata dengan Mama mertuanya. Banyak perkataan yang akhirnya menjadi renungan untuk Shaka dalam menjalani pernikahannya ke depan.


Shaka mengetuk pintu lebih dulu sebelum membuka pintu kamar Jihan. Jihan tampak sudah rapi dengan balutan dress panjang motif bunga. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Shaka sempat tertegun, menatap wajah ayu Jihan yang dipoles makeup tipis.


"Sudah bicara sama Mama.?" Tanya Jihan seraya menghampiri Shaka. Ekspresi wajahnya terlihat canggung dan memaksakan diri menghampiri Shaka. Mungkin karna merasa bersalah pada suaminya itu.


"Hemm. Aku ke kamar mandi sebentar." Shaka berlalu.


"Di dapur ada es krim strawberry kalau kamu mau makan." Ujarnya sebelum memasuk ke dalam kamar mandi.


Jihan mengulum senyum, lalu bergegas turun untuk memastikan ucapan Shaka. Jihan penasaran dengan perhatian kecil yang di berikan oleh Shaka. Padahal Shaka sedang kesal, tapi masih sempat membawa makanan untuknya.

__ADS_1


Begitu sampai di dapur, ada Juna yang sedang duduk di depan meja makan sambil menikmati kue dan beberapa cemilan lainnya yang berjejer di atas meja. Pemuda itu menyengir kuda melihat tatapan intimidasi dari Kakaknya.


"Juna minta ya Mba. Semua makanannya tadi Bang Shaka yang bawa. Ada banyak es krim juga, udah Juna taro di kulkas." Seloroh Juna dan kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Lain kali ijin dulu sama yang punya, jangan asal makan." Tegur Jihan sambil melewati Juna karna ingin mengambil es krim di kulkas.


"Iya, nanti Juna ijin sama Bang Shaka. Lagian tadi nyuruh Juna bawa makanannya ke dapur, berarti Bang Shaka emang sengaja bawa makanan buat kita makan." Celotehnya karna tidak mau terlihat salah di mata Kakaknya. Juna juga yakin Kakak iparnya tidak akan mempermasalahkan hal ini sekalipun dia makan tanpa ijin. Hanya perkara makanan, motor mahal saja bisa Shaka berikan cuma-cuma padanya. Juna merasa beruntung punya Kakak ipar sebaik itu.


Jihan bergabung di meja makan setelah mengambil satu cup es krim ukuran sedang. Wanita yang sedang hamil itu kelihatan lahap menyantap es krim di tangannya. Kehamilannya benar-benar tidak menyusahkan sama sekali, tidak ada mual atupun muntah. Bahkan tubuhnya masih segar bugar. Tanpa drama lemas atupun malas. Tidak heran kalau Mama Dewi dan Mama Sonia tidak menyadari kalau Jihan sedang hamil. Sebab tidak ada perubahan yang signifikan.


"Eh Bang Shaka,," Juna menyapa dan menyengir kuda ketika melihat Kakak iparnya masuk ke area dapur. Jihan reflek menoleh ke belakang, dilihatnya Shaka yang jauh lebih segar dan rambut bagian depannya sedikit basah. Mungkin habis mencuci muka.


"Maaf Bang, Juna makan ini nggak ijin Abang dulu." Kata Juna. Shaka mengangguk kecil.


"Makan saja, itu memang buat kamu sama Mama." Jawabnya dengan setelan wajah datar. Dia kemudian menarik kursi di sebelah Jihan dan duduk sana.


"Mau pergi sekarang.?" Tanya Jihan. Agaknya dia ingin menjalin kedekatan dengan Shaka setelah tau bagaimana rasanya di acuhkan. Mungkin karna hormon kehamilan, Jihan sama sekali tidak merasa malu kalau harus mengajak Shaka bicara duluan.


"Habiskan dulu es krimnya." Perintah Shaka, Dia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana dan sibuk memaikan ponselnya.


Shaka sempat mendongak dengan menatap lekat wajah Jihan yang baru saja menyodorkan minuman kaleng di depannya.


Tidak ada ucapan terimakasih, tapi Shaka langsung membuka dan meminumnya.


"Kamu sudah pernah nyoba menyetir mobil.?" Tanyanya pada Juna.


Juna menggeleng cepat. Walaupun dulu pernah terlintas di benaknya untuk belajar menyetir mobil, tapi Juna cukup sadar diri dengan kondisi finansial keluarganya. Mungkin nanti setelah mendapat pekerjaan yang bagus, akan dipertimbangkan lagi untuk khursus menyetir.


"Bang Shaka ngeledek ya. Kalaupun belajar, nggak ada yang bisa di setir." Jawab Juna sambil terkekeh santai.


"Disini kan ada mobil, kamu minta supir saja untuk mengajari kamu menyetir."

__ADS_1


"Nanti kalau sudah bbisa nyetir dan ada SIM, saya belikan mobilnya." Ujar Shaka dengan entengnya. Jihan langsung melirik tidak setuju. Bukankah itu sudah berlebihan.? Motor seharga hampir 50 juta saja sudah terlalu mewah untuk diberikan pada Juna yang masih kuliah. Sekarang malah mau dibelikan mobil. Jelas Jihan tidak setuju.


"Mas, jangan berlebihan seperti itu. Juna masih kuliah, nggak butuh mobil. Kalaupun suatu saat dia butuh, biarkan Juna beli sendiri dengan hasil kerja kerasnya nanti." Tentang Jihan. Apapun alasannya, dia tidak akan membiarkan Shaka memberikan fasilitas mobil untuk Juna. Terlalu di manja juga tidak baik. Bisa-bisa Juna jadi malas kuliah lagi karna semuanya serba ada.


Juna mengangguk setuju.


"Bener Bang, Juna pakai motor saja. Sekarang belum butuh mobil." Tolaknya halus.


Shaka tidak memaksa, dia menghargai keputusan Jihan dan Juna.


...*******...


Masuk ke dalam mobil, raut wajah Jihan tampak tidak bersahabat lagi. Shaka sudah menyadari sejak obrolan terakhir di meja makan.


"Makasih untuk kepedulian Mas Shaka pada Juna.,Aku tau niat Mas Shaka baik, tapi belum tentu hal itu baik untuk Juna." Ujarnya tanpa menatap Shaka, malah fokus menatap lurus Ke depan.


"Lain kali nggak perlu menawarkan sesuatu, pada Juna dan Mama."


"Untuk rumah ini, secepatnya Mama dan Juna akan pindah. Mama. menolak menempati rumah ini." Tuturnya.


Shaka sudah melajukan mobil dan keluar dari garasi. Dia belum memberikan tanggapan meski mencerna semua perkataan Jihan.


"Mas,,, Mas Shaka dengar aku ngomong kan.?" Tegur Jihan.


Barulah Shaka menoleh dan mengangguk kecil.


"Kamu atur saja bagaimana baiknya." Jawabnya datar. Bukan kesal ataupun tersinggung dengan perkataan Jihan yang menolak bantuannya, tapi Shaka sudah tidak fokus karna di pikirannya hanya ada satu tujuan. Apalagi kalau bukan pergi ke hotel untuk servis dan ganti oli.


"Mas Shaka marah.?" Jihan bertanya dengan hati-hati.


Shaka menggeleng cepat.

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan lagi kalau sudah di hotel, saya nggak bisa fokus." Ujarnya.


Jihan melongo tidak percaya. Tiba-tiba paham isi kepala Shaka.


__ADS_2