
Shaka mendorong troli bandara berisi 4 koper. Di sampingnya Shaka ada Jihan yang berusaha mengimbangi langkah lebarnya. Keduanya sudah sampai di bandara internasional setelah menempuh perjalanan udara sekitar 17 jam.
"Kamu pulang sama Pak Kardi. Saya langsung ke perusahaan, ada urusan." Kata Shaka ketika sampai di tempat penjemputan. Mobil yang di bawa supir keluarga Shaka sudah terparkir di sana. Pak Kardi segera turun menyapa keduanya dan mengambil alih troli bandara dari tangan Shaka untuk memindahkan koper ke dalam mobil.
"Terus Pak Shaka naik apa.?" Tanya Jihan.
Shaka mengarahkan telunjuknya ke salah satu mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Di jemput Pak Leon.?" Ujar Jihan memastikan. Leon adalah asisten pribadi Shaka.
"Hemm. Sana masuk." Titah Shaka sambil menggerakkan alisnya, menyuruh Jihan agar segera masuk ke dalam mobil.
Jihan mengangguk patuh, dia kemudian masuk ke dalam mobil. Sementara itu, Shaka langsung menghampiri mobil asistennya dan menghilang di balik mobil warna hitam.
Jihan sempat menatap Shaka dari kaca spion. Sudut bibirnya mengulas senyum tipis tanpa disadari. Ada kekaguman dari sorot matanya. 3 minggu menghabiskan waktu 24 jam bersama, banyak hal yang baru Jihan ketahui dari sosok pria yang kelihatan cuek dan dingin di luar. Ternyata benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.
"Apa yang kamu pikirkan Jihan." Gumam Jihan lirih. Dia menggeleng kecil untuk menyingkirkan pikiran aneh yang melintas di pikirannya.
"Den Shaka ganteng ya Non.? Sampe senyum-senyum begitu liatnya." Ujar Pak Kardi sedikit bercanda.
"Ehh.?" Jihan tersenyum kikuk, dia kemudian mengangguk. Tidak mungkin Jihan menyangkal, selain bisa membuat Pak Kardi curiga, kenyataannya Shaka memang tampan.
"Biasanya Den Shaka sibuk kerja sampai lupa pulang. Sering sampai rumah sudah larut malam. Semenjak menikah, saya lihat Den Shaka pulang tepat waktu." Tutur Pak Ardi sambil melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
Jihan tersenyum samar sambil menatap Pak Kardi lewat spion, karna posisi Jihan duduk di kursi belakang.
"Mungkin akhir-akhir ini lagi nggak banyak pekerjaan, jadi bisa pulang cepat." Sahut Jihan. Dia tidak membenarkan asumsi Pak Kardi, sebab pemimpin perusahaan sebesar itu memang terkadang sangat sibuk.
...******...
"Non Jihan langsung masuk saja, kopernya biar saya sama Pak Rudi yang bawa." Ujar Pak Kardi saat Jihan ingin membantu mengeluarkan koper dari mobil.
__ADS_1
"Ya sudah, makasih Pak."
Jihan akhirnya masuk duluan ke dalam rumah. Mama dan Papa mertua langsung menyambutnya di ruang tamu. Senyum merekah dan cara Mama Sonia menatap membuat Jihan salah tingkah. Sebab Jihan bisa membaca arti senyum dan tatapan itu.
"Ayo ke dalam, kamu pasti lelah seharian di perjalanan." Mama Sonia merangkul sayang pundak menantunya.
"Mama sudah melarang Shaka ke perusahaan, tapi dia bersikeras ingin memimpin rapat. Anak itu memang totalitas kalau bekerja." Tuturnya. Ternyata Shaka sudah mengabari orang tuanya soal itu. Tadi Jihan sempat ingin memberitahu mertuanya kalau Shaka pergi ke perusahaan.
"Biarkan Jihan istirahat di kamarnya." Kata Mahesa karna melihat menantunya hanya senyum-senyum saja dan kelihatan kelelahan.
"Nggak usah Pah, tadi sudah tidur lama di pesawat." Tolak Jihan halus.
"Mama juga pengen ngobrol sama Jihan, kita di ruang keluarga saja sambil duduk santai." Kata Mama Sonia dan mengarahkan Jihan ke ruang keluarga.
"Papa ke atas dulu." Papa Mahesa memilih pergi, dia membiarkan istri dan menantunya bicara berdua. Karna dia tau apa yang akan dibicarakan istrinya, takutnya Jihan tidak nyaman kalau dia ada laki-laki di sana.
"Tolong bilangin Bik Susi buatkan minuman untuk Jihan, Pah." Ujar Mama Sonia. Suaminya mengangguk dan beranjak dari sana.
"Bagaimana bulan madunya.? Seru.?" Mama Sonia menatap antusias.
Jihan tersenyum kaku, sedikit malu dan tidak nyaman di cecar pertanyaan seperti itu oleh mertuanya.
"Kami jalan-jalan seharian setiap hari. Jarang menghabiskan waktu di hotel." Jawab Jihan. Walaupun kenyataannya tidak begitu. Shaka sempat sakit dan membuat mereka memilih berdiam diri di kamar selama 2 hari. Di tambah saat pertama kali malam pertama, mereka tidak keluar kamar sama sekali selama hampir 2 hari.
Jawaban Jihan seketika melunturkan senyum bahagia di wajah Mama Sonia. Dia khawatir bulan depan Jihan belum hamil karna waktu bulan madu mereka hanya di habiskan untuk berkeliling.
"Lain kali Mama kasih tiket ke Bali, kalian harus sering-sering quality time berdua." Kata Mama Sonia dan kembali tersenyum lebar. Masih banyak cara untuk membuat anak dan menantunya berduaan.
...******...
"Bukannya saya sudah bilang tidak menerima tamu, apalagi tidak membuat janji sebelumnya.!" Tegas Shaka penuh penekanan di seberang sana.
__ADS_1
Resepsionis yang sedang memegang telfon itu tampak ketakutan.
"Maaf Pak, tapi Nona itu tidak mau pergi sebelum diijinkan ke ruangan Pak Shaka." Tuturnya terbata.
"Suruh security mengusirnya.!" Titahnya dan langsung menutup sambungan telfon.
"Katanya panggil security buat ngusir Nona itu." Ujarnya pada teman satu profesinya.
"Ya sudah kita panggil security saja, jangan sampai kita kena masalah." Sahutnya.
Mereka berdua sepakat memanggil security, tapi di saat mereka baru akan menghubungi pos security, seorang wanita cantik masuk dan berjalan mendekat ke meja mereka. Keduanya mengurungkan niat untuk menelfon dan mendahulukan menyapa istri dari CEO tempat mereka bekerja.
"Selamat siang Bu,," Sapa keduanya ramah.
Jihan tersenyum lembut, dia ingin menjawab sapaan mereka, namun tidak sengaja melihat keberadaan Safira. Jihan sedikit penasaran dengan keberadaan Safira di perusahaan, namun memilih acuh.
"Siang juga Mba. Suami saya ada di ruangannya kan.?" Tanya Jihan dan sengaja menekankan kata suami saya.
"Ada Bu. Mari saya antar." Tawar salah satu resepsionis itu.
"Nggak perlu merepotkan Mba Novia, saya akan ke atas sendiri." Tolak Jihan lembut.
"Permisi." Pamitnya seraya berlalu dan melewati Safira yang sejak tadi duduk sambil menatap tajam ke arahnya.
"Tunggu.!" Serunya. Jihan menghentikan langkah dan menoleh. Wanita itu sengaja menatap Safira dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang mengingatnya. Padahal Jihan masih ingat wajah mantan kekasih Shaka tersebut.
"Mba ini mantannya suami saya.? Ada keperluan apa datang ke sini.?" Tanya Jihan basa-basi, padahal ingin membuat Safira jengkel dengan nada bicaranya yang terlihat mengejek.
"Baru di nikahi satu bulan, sepertinya kamu terlalu besar kepala. Apa kamu tidak tau bagaimana hubungan kami dulu.?" Safira tersenyum miring dan begitu bangga mengakui hubungannya dengan Shaka yang sudah lama berakhir.
"Tentu saja tau. Suami saya sudah menceritakan semuanya, termasuk kamu yang begitu mudah mau ditiduri sebelum menikah. Lihat sekarang, justru wanita lain yang dia nikahi." Jihan tersenyum mengejek. Dia kemudian berbalik badan memilih pergi dari hadapan Safira. Sebab menghadapi wanita seperti itu hanya buang-buang waktu.
__ADS_1
"Siapa yang tidak tergiur jika di janjikan akan dinikahi, bahkan di jatah sejumlah uang setiap bulannya. Aku rasa kamu juga akan tergiur.!" Seru Safira.
Seketika Jihan memaku di tempat, ternyata Shaka juga melakukan hal yang sama dengan Safira. Jihan pikir mereka hanya melakukan atas dasar nafsu dan suka sama suka. Saat itu juga Jihan merasa menyesal, ternyata dia telah merendahkan dirinya sendiri di depan Shaka.