
Rencana honeymoon 2 minggu akhirnya di tambah menjadi 3 minggu. Rencananya Shaka ingin menambah 3 hari, tapi ketika di telfon Mama Sonia dan mengatakan kalau Jihan masih ingin jalan-jalan di Swiss, sang Mama tiba-tiba sangat antusias menyuruh Shaka memperpanjang masa honeymoon menjadi 3 minggu. Asal bulan depan harus memberinya kabar baik. Padahal tanpa di minta sekalipun, Shaka sudah terlanjur menyebar benihnya. Kemungkinan bulan depan benar-benar akan ada kabar baik untuk Mama Sonia.
Hari ini adalah hari ke 19, masih ada waktu 2 hari untuk menikmati keindahan kota Swiss sebelum kembali ke Jakarta. Selama 19 hari belakangan, banyak hal yang terjadi antara Shaka dan Jihan. Ada ributnya, ada akurnya, ada sharing pengalaman hidup, ada berbagi peluh dan cairan lainnya. Mulai dari kesal, marah, lucu dan,,, entah lah,, hanya mereka berdua saja yang tau.
Shaka yang kaku dan dingin disatukan dengan Jihan yang berani dan cerewet, menjadi paket komplit. Hari-hari mereka jadi berwarna selama berada di Swiss.
Seperti pagi ini, suara kegaduhan sudah memenuhi kamar hotel mereka disaat sebagian penghuninya masih terlelap. Sebab Jihan dibuat bangun sangat awal gara-gara ada tragedi di atas ranjang. Jihan berteriak karna kaget dan langsung mengomeli Shaka. Bagaimana tidak kaget kalau merasakan tubuhnya di gerayangi.
Saat tersadar dan melihat pelakunya, Jihan langsung menyerocos. Sesekali memukul tangan Shaka yang terlampau jahil. Bisa-bisanya berbuat mesum ketika lawannya masih tidur pulas.
'Pak Shaka minta ditendang bu rungnya ya.?!" Sewot Jihan. Shaka hanya tersenyum miring mendengar ocehan Jihan.
"Kamu nggak lupa kan perjanjiannya.? Masih ada kesempatan satu kali lagi, jadi terserah saya mau minta kapan saja." Shaka menggenggam kedua tangan Jihan dengan satu tangan, membuat Jihan kesulitan berkutik.
"Tapi bukan berarti bisa menggerayangi saya saat masih tidur. Saya jadi kaget.!" Bibir Jihan mencebik.
"Oke, saya minta maaf. Lain kali saya akan bangunkan kamu dulu." Jawabnya enteng. Jihan sempat terdiam, sampai akhirnya melotot tajam.
"Lain kali apanya.?! Ini kan yang terakhir.!" Pekiknya ketika menyadari ada yang aneh dengan perkataan Shaka.
"Ya siapa tau nanti kamu ketagihan dan ingin melakukannya lagi, saya siap memuaskan kamu kapanpun dan dimanapun." Jawabnya menggoda.
Kalau sudah mode mesum, perkataan apapun bisa keluar dari mulut Shaka.
__ADS_1
"Itu sih Pak Shaka yang ketagihan, bukan saya.!" Sangkal Jihan tegas.
"Yakin kamu nggak ketagihan.?" Shaka menaikan sebelah alis sambil menyeringai. Ekspresinya membuat Jihan curiga.
Benar saja, detik berikutnya Shaka menyerang titik sensitif Jihan dengan bibirnya. Pria itu mengecup dan menyusuri bagian leher hingga telinga Jihan dan berakhir keluar suara de sah han dari mulut Jihan. Tubuhnya menegang, terkadang menggeliat dalam kungkungan Shaka. Apalagi Jihan tidak bisa berkutik, karna kedua tangannya masih di tahan oleh Shaka dengan menekannya ke ranjang.
"Berhenti Pak, saya mau buang air kecil dulu." Jihan menghentikan aksi Shaka yang mulai menurunkan celana panjangnya menggunakan satu tangan.
Shaka berdecak dan melepas Jihan. Dia membiarkan Jihan menaikan celananya lagi sebelum turun dari ranjang. Saat memperhatikan punggung Jihan yang berjalan ke arah kamar mandi, sebuah khayalan liar tiba-tiba muncul dibenak Shaka. Pria itu melompat turun dari ranjang dan mengikuti langkah Jihan ke kamar mandi.
"Pak Shaka mau apa.?" Protes Jihan ketika Shaka ingin ikut masuk ke kamar mandi.
"Kita coba sensasi ber cinta di kamar mandi." Jawabnya datar. Dia menyelonong masuk sembari menarik tangan Jihan ke dalam kamar mandi.
Jihan sampai kehabisan kata-kata untuk mengomeli Shaka, dia juga tidak bisa menolak kemauan Shaka. Sebab semua kuasa ada di tangan Shaka. Jihan hanya bisa pasrah menuruti permintaan Shaka karna sudah menyetujui tawarannya di awal.
Hingga 1 jam keduanya baru keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah wangi dan segar. Sama-sama membalut tubuh menggunakan bath robe warna putih, mereka beranjak ke walk in closet untuk mengambil baju ganti.
"Mau sarapan di luar.? Masih banyak restoran rekomendasi yang belum kita kunjungi." Tawar Shaka. Dia cuek saja memakai kaos putih bertuliskan brand ternama di depan Jihan. Berbeda dengan Jihan, dia memilih mendekap baju gantinya dan menunggu sampai Shaka keluar dari sana.
"Boleh, tapi berikan dulu 2 milyarnya. Kesepakatan kita sudah selesai kan.?" Tagih Jihan sembari menyodorkan tangan kanannya pada Shaka.
Shaka berdecih pelan. Sepertinya di dalam otak Jihan hanya ada uang, uang dan uang. Atau semua wanita memang seperti itu.
__ADS_1
"Kamu nggak mau tambah satu kali lagi.? Saya tambah jadi 3 milyar." Seloroh Shaka. Sebenarnya dia hanya iseng saja, tapi kalaupun Jihan setuju, Shaka dengan senang hati akan memberikan 3 milyar untuk 4 kali tidur bersama.
"Pak Shaka jangan coba-coba menghasut saya lagi. Saya nggak gila uang." Jawab Jihan tegas. Sontak jawaban Jihan membuat Shaka terkekeh.
"Tidak gila uang katanya, tapi langsung tergiur begitu mendengar nominal 2 milyar. Dasar wanita". Batin Shaka tak habis pikir.
"Saya juga nggak bilang kamu gila uang. Tapi bukannya kamu realistis.? Uang itu bisa kamu pakai untuk buka usaha. Kamu yakin nggak tertarik.?" Shaka mengangkat sebelah alisnya, dia masih bernegosiasi dengan Jihan. Siapa tau Jihan berubah pikiran dan mau mengulangi percintaan panas mereka, meski Shaka harus mengeluarkan uang lagi. Tapi itu bukan masalah bagi CEO kaya raya seperti Shaka.
Jihan menggeleng. Sudah cukup dia menyerahkan tubuhnya pada Shaka. Lagipula uang 2 milyar sudah sangat banyak bagi Jihan. Jika kebanyakan uang, Jihan takut pusing. Sebab seumur hidupnya belum pernah memiliki uang hingga milyaran.
"Pokoknya ini yang pertama dan terakhir, saya nggak mau gitu-gituan lagi.!" Tegasnya.
Shaka mengerutkan kening mendengar istilah aneh dari Jihan.
"Gitu-gituan apa maksudnya.?" Tanyanya.
"Ya begitu, dibayar untuk tidur dengan Bapak." Jelas Jihan. Dia kemudian mendorong tubuh Shaka ke arah pintu.
"Saya juga mau pakai baju, jadi Pak Shaka silahkan keluar dulu." Usirnya. Shaka memutar malas bola matanya.
"Saya sudah lihat semua tubuh kamu dari ujung kaki sampai kepala. Bahkan saya masih hapal letak tahi lalat di paha atas sebelah kanan. Di da- da sebe,,,"
"Stop.!!" Jihan langsung membungkam mulut Shaka.
__ADS_1
"Tolong jangan memancing emosi saya, Pak Shaka yang terhormat.!" Tegas Jihan, dia mendorong kuat bahu Shaka sampai keluar walk in closet, kemudian menutup dan mengunci pintunya.
"Bisa-bisanya bicara begitu.!" Gerutu Jihan kesal.