
Malam kedua percintaan Jihan dan Shaka berlangsung cukup panas. Jihan juga lebih rileks, tidak kaku seperti pertama kali melakukannya. Jihan juga memilih pasrah dan mengikuti permainan Shaka, sebab sudah terlanjur menyepakati tawaran Shaka dengan 3 kali tidur bersama. Daripada merasa tidak nyaman selama ber cinta, memang lebih baik ikut menikmatinya.
Dalam posisi masih mengungkung tubuh Jihan, Shaka begitu gencar memberikan rangsangan di semua titik sensitif bagian atas tubuh Jihan. Bukan sesuatu yang sulit bagi Shaka untuk membuat Jihan menggeliat dan men des sah nikmat. Kemampuannya dalam menaklukkan lawan jenis di atas ranjang tidak perlu diragukan lagi. Terbukti dengan de sah han yang keluar dari mulut Jihan sejak awal di kungkung oleh Shaka.
"Bukain baju saya." Bisik Shaka. Bermain dengan pemula memang harus membimbing dan banyak memberi arahan. Sebab Jihan belum tau akan tugasnya. Juga tidak ada inisiatif karna memang belum pengalaman.
Jihan membuka mata dan sempat mengalihkan pandangan saat bertatapan dengan Shaka. Jelas Jihan malu, karna kondisinya sudah setengah telan njang. Kain yang menutupi bagian atas tubuhnya sudah terlepas entah kemana. Kemungkinan Shaka melemparnya ke lantai seperti kemarin.
Dengan sedikit malu-malu, Jihan mulai melepaskan kancing kemeja Shaka satu persatu. Percintaan panas mereka kembali berlanjut setelah keduanya sama-sama polos.
Shaka tidak berhenti mengeksplor dua bukit kembar milik Jihan. Bahkan ada beberapa tanda kepemilikan yang di tinggalkan Shaka di permukaan halus nan putih itu. Dengan pucuk bukit yang berwarna merah muda, Shaka jadi gemas sendiri dan betah berlama-lama menenggelamkan wajahnya di sana.
"Aww,, kenapa di gigit." Jihan reflek memukul kencang punggung Shaka. Bukannya marah karna Jihan merusak kegiatannya, Shaka malah tersenyum tipis dan menjadi bibir Jihan sebagai sasaran berikutnya. Dia membungkam mulut Jihan dengan ciuman, cukup lama me-lu-mat dan me-nye-sap bibir tipis Jihan sampai terlihat membengkak.
Hingga 20 menit berlalu, suara khas per cintaan itu semakin sering terdengar dan saling bersautan. Shaka selalu berhasil membawa Jihan terbang melayang menjemput kenikmatan. Sampai akhirnya Jihan mendapat pelepasan pertama. Shaka membiarkan Jihan beristirahat sejenak sebelum memulai kembali pertempuran mereka.
Ketika melihat nafas Jihan mulai teratur, Shaka langsung memberi rangsangan lagi dan kembali mengarahkan Jihan untuk bertukar posisi.
"Naik ke atas, Jihan." Titah Shaka dengan suara seraknya.
Susah patah Jihan menelan ludah karna harus membuang rasa malu di depan Shaka untuk mendominasi permainan.
__ADS_1
"Ayo bergerak, pelan-pelan saja." Perintahnya.
Tanpa menatap Shaka, Jihan mulai bergerak pelan sesuai perintah.
"Bukan begitu Jihan, tapi seperti ini." Shaka memegangi pinggul Jihan, lalu menggerakkannya untuk mengajari Jihan. Pria itu benar-benar ekstra sabar memberikan arahan pada Jihan.
Selang beberapa menit, akhirnya Jihan bisa menguasai gerakannya. Rasa tidak nyaman di awal, kini berubah menjadi rasa nik mat yang sulit di gambarkan dengan kata-kata. Apalagi ketika melihat ekspresi Shaka serta mendengar de sah han dan racauannya, Jihan jadi makin terbakar ga-irah.
Permainan itu di akhiri dengan pelepasan bersama. Shaka membuangnya di luar, namun sempat menyembur sedikit di dalam. Untungnya Jihan tidak sadari hal itu. Atau bisa jadi karna Jihan melihat sendiri saat Shaka memuntahkan laharnya di luar. Jadi Jihan mengira tidak ada benih Shaka yang di sebar di dalam.
"Kamu puas.?" Bisik Shaka meledek. Bibir Jihan mengerucut, tak lupa mencubit perut Shaka yang sudah menjadi hobinya akhir-akhir ini.
"Pak Shaka bisa nggak jangan terlalu vulgar kalau bicara. Aku malu.!!" Gerutu Jihan, dia berbalik memunggungi Shaka. Melihat wajah Shaka setelah percintaan panas tadi saja sudah membuat Jihan malu, apalagi kalau Shaka bicara vulgar padanya. Membuat Jihan ingin hilang dari hadapan Shaka.
"Stop Pak Shaka, jangan sampai saya habis kesabaran. Lebih baik kita tidur, saya sudah ngantuk." Jihan menutup rapat-rapat tubuhnya sampai sebatas leher. Dia tidak peduli ketika Shaka menempel dan memeluknya dari belakang.
Dua pasutri itu masih terlihat malu-malu untuk mengekspresikan perasaannya masing-masing. Bahkan ada yang masih berbalut gengsi terlalu tinggi.
...******...
Pagi ini selesai sarapan, Jihan dan Shaka keluar hotel setelah mengurung diri beberapa hari di dalam kamar. Itupun karna Jihan yang meminta. Sebab terlalu lama mengurung diri bersama Shaka hanya membuat pikiran polosnya ternodai. Ada saja kata-kata vulgar dari mulut Shaka yang membuat pikiran Jihan melayang kemana-mana.
__ADS_1
"Kamu yakin nggak mau beli oleh-oleh lagi.?" Tanya Shaka memastikan. Dia dan Jihan sudah membeli oleh-oleh beberapa hari yang lalu. Tapi seingat Shaka, Jihan hanya membeli masing-masing satu sebagai buah tangan untuk teman kerjanya. Mama Dewi dan Juna bahkan hanya dibelikan dua. Padahal Jihan tidak perlu mengeluarkan uang, karna semuanya di bayar oleh Shaka.
"Kopernya nggak muat kalau terlalu banyak barang. Itu saja cukup. Nanti sisanya saya traktir mereka makan siang saja." Jawab Jihan, lalu menyeruput coklat panas yang sejak tadi dia genggam untuk mengurangi rasa dingin.
"Kenapa harus memusingkan soal koper, kita bisa beli lagi disini. Cepat habiskan makananmu, kita pergi ke toko lagi setelah ini." Titahnya.
Jihan mengangguk tanpa protes. Kapan lagi bisa belanja gratis di luar negeri tanpa harus melihat harga dan tanpa khawatir kehabisan uang.
Keduanya baru kembali ke hotel pukul 6 sore. Shaka meletakkan koper baru di samping sofa yang sudah terisi penuh dengan buah tangan dan baju-baju milik Jihan. Tak terkecuali tas beserta sepatu mahal. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh Shaka untuk membayar belanjaan Jihan, namun pria itu sama sekali tidak mempermasalahkannya.
Jihan baru saja akan pergi ke kamar mandi, tapi ponsel dalam tasnya berdering. Dia mengambilnya di atas nakas. Shaka menoleh, saat itu juga Jihan juga bertatapan dengan Shaka.
"Mama Sonia." Kata Jihan, lalu mengangkat panggilan sambil menghampiri Shaka yang sedang duduk di sofa.
"Sedang apa sayang.? Sudah selesai belanjanya.?" Tanya Mama mertuanya di seberang sana. Jihan langsung menatap Shaka, pasti Shaka yang memberi tau Mama Sonia kalau tadi mereka sedang belanja.
"Iya Mah, kami baru sampai di hotel. Mama kenapa belum tidur.? Sudah jam 11 kan di sana." Ujar Jihan.
"Mama juga baru pulang, baru selesai menghadiri pesta pernikahan rekan kerja Papa."
"Apa kamu betah di Swiss.? Mama dengar, kamu masih ingin di sana. Mama akan senang kalau kamu dan Shaka memperpanjang waktu bulan madunya jadi 3 minggu. Kalian nikmati saja waktu di sana, jangan lupa pesanan Mama ya."
__ADS_1
Jihan melongo mendengar perkataan Mama mertuanya. Saat panggilan terputus, Jihan langsung menatap tajam pada Shaka. Bisa-bisanya Shaka menjadikannya kambing hitam. Padahal Shaka sendiri yang menambah waktu 3 hari.
"Pak Shaka,,,!!!" Teriak Jihan. Shaka langsung kabur ke kamar mandi sebelum di amuk oleh Jihan.