
Shaka bejalan mendekat ke arah Jihan yang sudah berbalik badan. Kini keduanya saling beradu pandang. Menatap dalam perasaan yang berkecamuk. Berbagai perasaan bercampur jadi satu setelah 3 minggu tidak bertemu.
"Kamu pikir kamu siapa hah.? Beraninya datang dan pergi tanpa ijin dari saya.!" Tegas Shaka geram. Meski begitu, Shaka tidak bisa menyembunyikan binatang kerinduan di matanya. Kalau tidak memikirkan kekesalannya pada Jihan, mungkin dia sudah membawa tubuh Jihan dalam dekapannya.
"Saya Jihan, istri yang di nikahi dengan perjanjian kontrak. Pak Shaka masih ingat kan.?" Sahut Jihan santai.
"Kamu ini benar-benar.!"
Shaka memutar bola matanya malas. Pertemuan pertama kali setelah 3 minggu tanpa kabar, Jihan malah merusak suasana. Bukannya dramatis, yang ada malah membuatnya jengkel.
"Ikut saya.!" Shaka menggandeng pergelangan tangan Jihan dan membawanya ke sudut ruangan yang terdapat beberapa rak buku tinggi berwarna coklat.
"Lepasin, saya kesini bukan mau baca buku. Tapi,,,"
Ucapan Jihan terhenti ketika melihat pintu di balik rak buku. Wanita itu semakin terkejut ketika Shaka berhasil membuka pintu setelah menekan kode akses. Di balik pintu warna coklat yang senada dengan rak buku, rupanya ada kamar di dalamnya. Lengkap dengan ranjang dan lemari.
"Ruangan ini punya kamar.?" Tanya Jihan reflek.
Shaka tidak menjawab, malah menutup pintu dan menguncinya. Raut wajah Jihan berubah panik, pikirannya sudah macam-macam, khawatir mendapat kekerasan dari Shaka. Sebab sorot mata Shaka mengandung amarah.
"Setelah menghilang tanpa kabar selama 3 minggu, beraninya kamu masih memanggil saya dengan sebutan Pak.!" Gerutu Shaka.
"Kamu minta dihukum rupanya.!" Shaka mendorong pelan bahu Jihan ketika sampai di dekat ranjang. Tubuh Jihan terjerembab di sana dan langsung di kungkung oleh Shaka. Kedua tangan Jihan di tekan ke ranjang hingga tidak. bisa berkutik.
"Katakan, kenapa pergi begitu saja tanpa minta ijin dariku.?!" Shaka menatap penuh kekecewaan. Walaupun semua ini bukan salah Jihan, tapi tidak seharusnya Jihan pergi begitu saja setelah surat perjanjian itu di ketahui orang tua Shaka. Itu yang membuat Shaka kecewa. Jihan tidak mengatakan apapun dan memilih pergi tanpa kabar.
Jihan memalingkan wajah saat merasakan hembusan nafas Shaka semakin menerpa permukaan wajahnya. Jaraknya hanya beberapa senti saja.
"Jihan.! Lihat saya.!" Shaka melepaskan sebelah tangan Jihan, lalu memegangi pipi Jihan supaya menatapnya.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, saya nggak nyaman." Ujar Jihan lantaran tubuhnya benar-benar di kunci rapat oleh Shaka sampai kesulitan bergerak.
Shaka menatap sebal karna Jihan mengaku tidak nyaman. Pria itu salah mengira, dikiranya Jihan sudah tidak nyaman lagi membuat adegan intim seperti itu.
"Saya kesulitan bergerak, sesak nafas juga. Tolong bangun dulu,," Jihan menatap memohon. Tidak tega melihat raut wajah Jihan, Shaka kemudian menyingkir dari atas tubuh istrinya itu. Tapi Shaka tidak menyingkir begitu saja, sebab sebelah tangan Jihan masih dia pegang. Shaka terlihat takut Jihan akan pergi lagi kalau tangannya dilepas.
Jihan tidak berkutik lagi ketika melihat Shaka enggan melepaskan tangannya. Daripada ujungnya berdebat lagi, akhirnya memilih diam saja walaupun tangannya masih di genggam.
"Kenapa diam saja.?" Tegur Shaka. Dia sudah antusias ingin mendengar penjelasan Jihan, tapi istrinya itu masih diam saja.
"Tanyakan saja sama Mama Sonia. Saya cuma menjalankan perintah." Kata Jihan jujur.
"Bicara yang jelas, jangan buat saya bingung." Cecar Shaka penasaran.
Jihan menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutup-tutupi. Dia sadar dengan menemui Shaka dan menjelaskan semuanya, Mama Sonia pasti akan kecewa karna tidak mematuhi ucapannya. Namun Jihan lebih memikirkan perasaan Mamanya sendiri. Jihan enggan membuat Mama Dewi lebih kecewa lagi.
Shaka mendengus kesal. Penuturan Jihan membuat Shaka geram dengan keputusan Mamanya. Kalau saja Mamanya tidak menyuruh Jihan sembunyi, pasti sejak 2 minggu yang lalu dia sudah mengutarakan perasaannya pada Jihan di salah satu hotel mewah.
...******...
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Shaka melajukan mobilnya keluar dari area perusahaan. Pria itu sesekali melirik Jihan. Shaka sedikit heran karna Jihan jadi pendiam. Cara bicaranya juga lebih santai, tidak bar-bar seperti sebelumnya.
"Kenapa kamu mau menuruti perkataan Mama. Bahkan Juna sampai keluar dari kampus. Apa kamu nggak berfikir dua kali sebelum melakukannya." Ujar Shaka membuka obrolan. Lama-lama tidak tahan juga hanya diam saja.
"Juna masih kuliah, bukan berhenti. Itu hanya akal-akalan Mama Sonia saja supaya Mas mengira kami benar-benar pergi." Jawab Jihan.
Shaka dibuat speechless dengan ulah Mamanya. Terlalu totalitas memberikan hukuman padanya. Padahal melihat sendiri bagaimana putranya frustasi mencari keberadaan Jihan, tapi tidak ada niat untuk mempertemukannya dengan Jihan.
"Setelah ini,," Ucap Jihan terjeda. Dia melirik Shaka dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pernikahan kita.?" Lirih Jihan. Dia membuang ego dan gengsinya demi meminta kejelasan pada Shaka. Bukan karna Jihan berharap menjadi istri Shaka sungguhan tanpa ada kontrak, tapi dia lebih memikirkan perasaan Mama Dewi seandainya pernikahannya dengan Shaka berkahir sesuai kontrak.
"Sebelum membahas kelanjutan hubungan kita, saya akan menghukum kamu lebih dulu karna berani sembunyi dari saya.!" Jawab Shaka tegas.
Bibir Jihan mengerucut. Dia juga terpaksa menuruti perintah mertuanya, jadi bukan sepenuhnya kesalahan ada padanya.
"Saya cuma menjalankan perintah Mama Sonia, kenapa juga harus di hukum." Protes Jihan tidak terima.
"Seorang istri itu hanya boleh menurut sama suami.!"
"Sekarang saya tanya, siapa suami kamu.?!" Ujar Shaka tegas.
Jihan makin mengerucutkan bibirnya. Pertanyaan Shaka membuatnya malas untuk menjawab. Untuk apa juga mengajukan pertanyaan yang jawabnya sudah jelas.
"Jihan.!" Tegur Shaka karna Jihan tidak menjawab.
"Arshaka Mahesa Samudra suami saya, puas.?" Ujar Jihan sebal, dengan bola mata sedikit melotot ke arah Shaka.
Shaka mengulum senyum, pria itu terlihat bangga mendengar jawaban Jihan.
Setelah hampir 15 menit perjalanan, Shaka membelokkan mobilnya ke hotel bintang 5. Jihan langsung melirik curiga ke arah Shaka.
"Kenapa kesini.?" Tanyanya dengan nada protes.
"Kamu bukan anak kecil, Jihan. Apa perlu saya jawab.?" Shaka malah balik bertanya.
"Hukuman kamu ada di dalam." Jelasnya.
"Dasar mesum.! Ternyata selama ini mencari saya karna ingin ber cinta saja.!" Jihan melirik sebal. Shaka benar-benar mesum, di otaknya hanya ada urusan ranjang.
__ADS_1
"Bukan soal mesum. Kamu nggak tau saja bagaimana rasanya tersiksa selama 3 minggu." Jawab Shaka membela diri.
"Nikmati saja hukumannya," Sambungnya dengan nada menggoda. Jihan memilih diam dan memalingkan wajah.