Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 64


__ADS_3

Tepat pukul 4 sore, Shaka keluar dari ruangan kerjanya bersama Jihan. Keduanya berjalan menyusuri koridor dan masuk ke lift khusus untuk turun ke lobby.


6 jam di temani Jihan selama bekerja, kali ini Shaka tidak lagi membuat onar di perusahaannya sendiri. Suasana di perusahaan bener-benar tenang, tidak ada kegaduhan antara Bos dan bawahan yang biasa terjadi akibat emosinya sulit dikendalikan. Hari ini Shaka membawa pawangnya, jadi semuanya aman terkendali. Sekalipun ada karyawan yang membuat kesalahan kecil, itu tak lagi jadi masalah buat Shaka. Sebab di hatinya sedang banyak bunga yang bermekaran.


"Jangan cepat-cepat jalannya,," Jihan memegangi ujungnya jas Shaka supaya pria itu bisa melambatkan langkah.


Pria berbadan tinggi itu menoleh kebelakang, istrinya terlalu mungil sampai tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Sebenarnya bukan Jihan yang mungil, tapi postur tubuh Shaka yang terlalu tinggi dan besar. Dengan tinggi 185 cm, jelas Jihan yang hanya memiliki tinggi 160 terlihat mungil di samping Shaka.


"Cepat sedikit jalannya." Pinta Shaka. Jihan memutar bola matanya malas. Kalau di suruh cepat supaya bisa mengimbangi langkah Shaka, jatuhnya jadi setengah berlari. Jihan mana berani jalan cepat, khawatir dengan kehamilannya meski Dokter mengatakan kalau kandungannya sangat sehat dan baik-baik saja.


"Mas Shaka saja yang penalin jalannya. Lagian kita mau pulang, nggak sedang buru-buru." Protes Jihan.


Shaka berdecak dan memasang wajah masam. 'Tidak buru-buru apanya.!' Batin Shaka. Dia punya alasan kenapa terburu-buru, sebab ingin mengejar waktu supaya lebih lama mengajak Jihan ritual di kamar mandi. Sekalian mandi sore.


"Iya, tapi lebih cepat sedikit." Ujarnya sedikit memaksa.


Jihan tidak menggubris, dia melepaskan jas Shaka dan berjalan seperti biasa. Tidak santai, tapi tidak buru-buru juga seperti Shaka.


Beberapa karyawan terus menyapa ketika berpapasan. Jihan sesekali berhenti ketika bertemu dengan rekan satu divisinya. Lama tidak bertemu, apalagi Jihan berhenti bekerja mendadak tanpa pamit. Begitu berpapasan, tentu ada saja yang mereka obrolkan.


Dari kejauhan, Shaka sudah memasang wajah masam dengan kedua tangan disilangkan di atas dada. Dia berdiri beberapa meter dari tempat Jihan mengobrol dengan temannya. Raut wajah Shaka makin tidak bisa dikondisikan ketika ada pria yang menghampiri Jihan dengan memamerkan senyum lebar dan tatapan penuh kekaguman. Bagaikan air yang di masak di atas bara, darah Shaka seolah mendidih. Wajahnya sampai merah, antara cemburu dan emosi karna istrinya di dekati peia.


Tidak mau memberikan kesempatan pada keduanya untuk mengobrol, Shaka dengan cepat menghampiri Jihan. Kalau tadi Shaka masih bisa menahan diri ketika melihat Jihan mengobrol dengan perempuan, kini dia tidak bisa menahannya walau hanya satu menit sekalipun.


"Kamu apa kabar.?" Arda mengulurkan tangannya pada Jihan. Jihan tersenyum ramah, dia hampir membalas jabatan tangan Arda, tapi sebuah tangan dari arah belakang sudah lebih dulu menepis tangan Arda.


Jihan terkejut, begitupun dengan Arda. Lebih terkejut lagi ketika tau bahwa Shaka pelakunya.


Arda menjadi kikuk, sebab terlihat jelas kalau Shaka cemburu dan marah atas tindakannya yang ingin berjabat tangan dengan Jihan.

__ADS_1


"Mas.!" Lirih Jihan dan reflek mencubit pinggang Shaka. Sungguh Jihan sangat malu dan merasakan tidak enak pada Arda.


"Aku baik Mas. Maaf nggak bisa lama, aku harus pulang. Lain kali kita bicara lagi kalau ketemu." Jihan meraih tangan Shaka dan mengajaknya pergi, tapi Shaka tidak beranjak sedikitpun. Pria itu kasih menatap tajam ke arah Arda, seolah sedang mengibarkan bendera peperangan pada karyawannya.


"Ingat pada batasanmu.!" Geram Shaka penuh penekanan.


"Maaf Pak. Saya akan lebih hati-hati lain kali." Ucap Arda yang sadar akan kesalahannya. Dia benar-benar telah membangunkan singa yang sedang tidur.


"Mas Arda, aku minta maaf. Kami permisi dulu,," Jihan menarik tangan Shaka sekuat tenaga. Pria itu akhirnya mengikuti langkah Jihan walaupun masih sempat menatap tajam ke arah Arda.


"Mas Shaka kenapa sampai harus menepis tangan Mar Arda seperti itu. Dia cuma ingin berjabat tangan, bukan ingin macam-macam." Jihan menatap heran suaminya.


"Ingin menyentuh istri orang, jelas dia sedang macam-macam.!" Sahut Shaka tak mau kalah. Di mata Shaka, perbuatan Arda sangat salah. Salah karna sudah membuatnya cemburu.


"Tapi nggak harus menepis kasar tangannya. Aku jadi nggak enak sama dia. Dia pasti malu juga." Tutur Jihan. Shaka memutar malas bola matanya. Bukannya membela suaminya sendiri, jIhan malah mengkhawatirkan pria lain.


"Mas Shaka bilang apa tadi.?" Tanya Jihan.


"Nggak ada." Shaka mendahului Jihan karna sudah sampai di depan mobilnya. Pria itu kemudian membukakan pintu untuk Jihan dan menyuruhnya segera masuk.


...*******...


Minggu ke 3 setelah mengetahui kehamilan, berat badan Jihan naik 4kg. Hamilnya baru 8 minggu, tapi sudah naik 4kg. Tidak heran kalau sejak semalam Jihan gelisah karna memikirkan badannya yang pasti akan semakin membengkak seiring bertambahnya usia kehamilan. Bahkan sempat berhenti makan walaupun mulut masih ingin mengunyah.


Pagi ini Jihan hanya membuat salad buah untuk sarapannya. Sedangkan Shaka, suaminya itu sudah dibuatkan makanan favoritnya. Hasil masakan Jihan sendiri.


Soal memasak dan membuat makan, Jihan memang tidak menyuruh ART. Dua ART di rumah hanya di fokuskan untuk membersihkan rumah, mencuci dan melakukan segala aktifitas lainnya. Sebab Shaka tidak mengijinkan Jihan melakukan pekerjaan apapun, termasuk memasak. Jadi Jihan harus memohon dan merengek dulu supaya di ijinkan turun ke dapur.


Jihan pergi ke kamarnya selesai menata sarapan di meja makan. Dia mengetuk pintu sebelum membukanya. Di dalam kamar, Shaka tampak menoleh sembari memasang kancing kemejanya.

__ADS_1


Sambil menghampiri Shaka, Jihan mengukir senyum lebar tanpa menunjukkan giginya. Dia berhenti di depan Shaka, lalu membantu Shaka memasangkan kancing kemeja tanpa di suruh.


kening Shaka mengkerut. Pemilik alis tebal itu manatap heran. Tidak biasanya Jihan membatu memasangkan kancing kemejanya. Shaka jadi menebak-nebak.


"Nggak usah berlagak romantis, kamu ingin apa?" Todong Shaka dengan ekspresi datarnya.


Wajah Jihan mendadak jadi masam. Punya suami benar-benar kaku, tidak ada basa-basinya agar terlihat romantis. Walau pada kenyataannya memang ada udang di balik batu, tapi seharusnya respon Shaka tidak to the point seperti itu, langsung menuduh.


"Mas Shaka pernah liat wujud kanebo kering.?" Tanya Jihan menatap seirus.


Shaka tampak berfikir, Alisnya sampai terangkat sebelah. Seumur-umur, dia belum pernah melihat wujud kanebo kering. Pegang kanebo saja tidak. Paling cuma melihat saat supir mengelap kaca mobilnya dengan kanebo, itupun dalam keadaan setengah basah.


Beberapa saat berfikir, Shaka kemudian reflek menggeleng.


Jihan berdecak dan menatap malas.


"Ya seperti ini wujudnya,," Ujar Jihan.


"Persis seperti Mas Shaka, kaku.!" Lanjutnya dengan menekankankan kalimatnya.


Shaka hanya memutar malas bola matanya, dia kemudian melepaskan handuk di pinggang, tepat di depan Jihan. Perempuan itu sontak menutup mata menggunakan telapak tangan.


"Sembarangan sekali lepas haduk." Protesnya.


"Kamu liat sendiri saya sedang pakai baju di kamar. Kamu sendiri yang tiba-tiba datang." Jawabnya sambil meraih celana dlm dan memakainya di depan Jihan.


"Aku tunggu di meja makan. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan." Kata Jihan yang memilih keluar lagi dari kamar.


Shaka diam-diam tersenyum setelah Jihan keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2