
Memasuki bulan ke 9 pernikahan Jihan dan Shaka, pertengkaran di antara mereka sudah jarang terjadi. Mungkin karna Jihan memutuskan tidak keluar rumah lagi. Membiarkan dirinya terkurung dalama rumah mewah itu. Tanpa bersosialisasi dengan orang luar. Hanya keluarga yang bisa berkunjung ke rumah jika dia rindu. Dia terlalu lelah berdebat dengan persoalan yang sama. Sampai akhirnya mengalah meski sadar bahwa mentalnya tidak baik-baik saja.pertengkaran
Semangat hidupnya hilang entah kemana. Belum lagi Shaka yang di sibukan dengan segudang pekerjaan hingga sering pulang malam. Semakin tidak punya waktu untuk sekedar mengembalikan mood Jihan agar tetap waras yang menjalani kehamilan dalam keadaan tertekan. Namun Jihan memilih diam, membiarkan Shaka sibuk dengan dunianya sendiri. Sebab percuma saja bicara kalau berujung pertengkaran.
Malam semakin larut, ketika Jihan tidak bisa tidur dengan kemelut yang memenuhi pikirannya, tiba-tiba Shaka muncul dari balik pintu kamar. Jihan menoles sekilas, lalu beranjak turun dari ranjang untuk menyiapkan baju ganti Shaka.
Dalam kepala Jihan, seakan sudah tertanam bahwa kehadirannya di rumah ini hanya untuk menjadi pelengkap hidup Shaka, menjadi istri yang patuh, istri yang bisa memahami suami dan menyiapkan segala kebutuhnya.
Jihan meletakkan pakaian ganti Shaka di ujung ranjang. Dia kembali naik ke atas ranjang dan mengabaikan tatapan Shaka yang menatapnya lekat. Tubuh Jihan memang semakin menggendut dan kelihatan sehat secara fisik, namun sorot matanya redup. Tidak ada binar bahagia di dalamnya.
"Aku ingin bicara, tunggu aku mandi dulu sebentar." Kata Shaka sebelum berlalu ke kamar mandi.
nyatanya bukan Jihan saja yang frustasi dengan rumah tangganya. Shaka pun merasakan hal yang sama. Terlebih setelah Jihan berubah dan menjadi pendiam. Jihan hanya bicara ketika di tanya saja, selebihnya tampak seperti raga tanpa jiwa.
Jihan mengubah posisi dengan bersender di kepala ranjang sambil menunggu Shaka selesai mandi. Dia sebenarnya sudah jenuh dengan obrolan yang tidak pernah menemukan solusinya. Sama sekali tidak ada jalan keluar dari permasalahan ini. Terkadang Jihan merasa bingung kenapa rumah tangganya dengan Shaka semakin dingin dan monoton.
Shaka naik ke ranjang selesai memakai baju. Dia bergeser merapat pada Jihan.
"Tidak bisa tidur.?" Shaka mengusap lembut pucuk kepala Jihan. Yang di usap kepalanya hanya diam saja. Karna kalau sudah menempel seperti ini, biasanya ada maunya.
"Mau pergi ke pantai besok pagi.? Sudah lama kita nggak liburan." Shaka kembali mengajak Jihan bicara. Padahal sadar kalau respon Jihan sangat dingin.
"Ke pantai.?" Jihan menatap tidak percaya. Seumur pernikahannya dengan Shaka, baru dua kali dia pergi ke pantai bersama. Shaka memang sesibuk itu beberapa bulan belakangan. Janjinya yang pernah mengajak baby moon juga selalu batal.
"Hemm. Mau.?" Tawar Shaka sekali lagi.
"Tapi besok masih weekday. Bukannya Mas Shaka sibuk." Jihan tampak tidak bersemangat sama sekali. Mungkin karna terlalu sering batal pergi, jadi enggan berharap banyak pada ajakan Shaka kali ini.
"Beberapa proyek sudah selesai. Urusan yang lain masih bisa di handle Leon dan Diana."
"Besok kita berangkat pagi-pagi, sebaiknya kita istirahat sekarang." Shaka mengarahkan Jihan supaya berbaring.
__ADS_1
Jihan segera berbalik memunggungi Shaka karna itu posisi ternyamannya. Shaka ikut berbaring, lalu merapatkan tubuhnya ke punggung Jihan dan memeluknya dari belakang.
Shaka mengukir senyum sembari mengusap perut besar Jihan. sekitar 7 minggu lagi anak mereka akan segera lahir.
Tak berselang lama, Shaka merasakan ada pergerakan dalam perut Jihan.
"Jihan, dia menendang,," Ucapnya antusias.
"Kalau malam memang aktif." Komentar Jihan santai. Dia kemudian memejamkan mata dan membiarkan Shaka sibuk bicara sendiri dengan calon anaknya.
...******...
Tadi pukul 5 pagi Shaka sudah bangun dan menyiapkan beberapa pakaian mereka yang akan dibawa untuk menginap selama 3 hari. Selesai berkemas, Shaka baru membangunkan Jihan dan keduanya mandi bersama.
"Sini biar aku bantu." Shaka mengambil alih hairdryer dari tangan Jihan. Pria itu berdiri di belakangnya dan mulai mengeringkan rambut panjang istrinya itu. Keduanya sedang bersiap berangkat ke pantai.
"Kenapa bawa koper segala.?" Tanya Jihan. Dia baru menyadari ada koper di dekat pintu kamar saat akan keluar.
"Kita menginap tiga hari di resort." Jawabnya seraya melempar senyum.
"Baju ku bagaimana.?" Jihan menatap bingung. Dia tidak menyiapkan apa-apa, di tasnya hanya membawa make up ala kadarnya dan parfum.
"Sudah aku siapkan di dalam." Jawab Shaka.
"Ayo, nanti keburu panas." Shaka membuka pintu kamar dan mengajak Jihan keluar dengan menggandengnya. Tangan satunya dia gunakan untuk menarik koper.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, kini keduanya sudah sampai di sebuah resort mewah dekat tepi pantai. Shaka memasukkan lebih dulu barang bawaannya ke dalam resort, setelah itu baru mengajak Jihan ke pantai.
Pria itu menggandeng tangan Jihan sejak dari resort sampai ke tepi pantai.
"Mau duduk di sini.?" Tawar Shaka. Jihan tampak melihat situasi sekitar, sepi. Pantainya benar-benar sangat sepi tanpa pengunjung. Hanya ada penjaga pantai dan orang-orang yang berjualan di sana.
__ADS_1
"Sudah jam setengah tujuh, kenapa belum ada pengunjung." Komentar Jihan setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
"Mungkin karna weekday. Ayo duduk,," Shaka segera duduk di atas pasir yang lembab dan menarik tangan Jihan supaya ikut duduk di sebelahnya.
Dalam keadaan bingung karna merasa aneh melihat kondisi pantai sangat sepi, Jihan tetap duduk di sebelah Shaka dengan menekuk lututnya.
Shaka diam-diam melambaikan tangan panda penjual kelapa dan meminta 2 buah kelapa.
"Kita lebih banyak diam akhir-akhir ini. Aku juga sangat sibuk di perusahaan. Kamu pasti menderita dengan situasi rumit ini." Shaka meraih sebelah tangan Jihan untuk di genggam.
Keduanya saling menatap dengan hati yang bergemuruh.
"Mau memaafkanku.?" Ucap Shaka memohon. Dia cukup mengkhawatirkan kondisi rumah tangganya akhir-akhir ini. Sebab Jihan beberapa kali mengungkapkan keinginannya untuk berpisah setelah anak mereka lahir. Membayangkan harus berpisah dengan Jihan dan anak mereka, Shaka jadi gelisah belakangan ini. Dia sadar bahwa Jihan adalah perempuan yang mandiri. Meminta berpisah pasti bukan sekedar ancaman belaka. Karna Jihan mampu berdiri di kakinya sendiri.
Jihan terdiam cukup lama. Banyak pertimbangan yang membuatnya di lema. Shaka tidak mendesak ketika Jihan tak kunjung memberikan jawaban. Dia enggan memaksa, justru membiarkan Jihan mempertimbangkannya baik-baik.
Shaka menyadari selama ini dia terlalu membatasi ruang gerak Jihan. Sedangkan istrinya itu tak pernah menuntut apapun darinya. Jihan hanya meminta supaya diijinkan bertemu dengan teman-temannya, tentunya sesama perempuan. Namun Shaka terlalu negatif thinking sampai menyuruh orang untuk memata-matai Jihan.
Dan ketika mendapat kiriman foto ada seorang pria yang berada di samping Jihan, Shaka langsung menuduh Jihan hanya dengan sebuah foto yang belum tentu seperti itu kebenarannya. Padahal Shaka jelas-jelas tau bahwa Jihan hanya pergi dengan teman-temannya perempuan. Kebetulan mereka bertemu dengan teman laki-laki secara tidak sengaja. Tapi pikiran Shaka sudah negatif duluan.
"Ini kelapanya Mas,," Seorang pria baruh baya menyodorkan dua buah kelapa utuh yang sudah di buka dan beri sedotan.
"Makasih,," Shaka menerimanya dan penjual itu segera berlalu.
"Minum dulu,," Shaka menyodorkan satu buah kelapa pada Jihan.
Jihan menatap wajah Shaka beberapa saat sebelum akhirnya menerima kelapa itu dan meminumnya.
"Seandainya aku memaafkan, apa hal konyol itu nggak pernah terjadi lagi.?" Ucap Jihan dengan pandangan lurus ke depan. Hatinya cukup sakit ketika di tunduh dekat dengan pria lain. Jangankan dekat, berfikir untuk bertemu dengan pria lain saja tidak pernah terbesit dalam kepalanya.
Shaka bergeming, dia semakin diliputi rasa bersalah pada Jihan. Benar kata Jihan, hal seperti itu sangat konyol. Sikap posesif dan cemburu di jadikan satu. Sampai tidak bisa berfikir logis.
__ADS_1