
"Baik, aku maafkan kali ini." Ucap Jihan setelah Shaka berjanji dan meyakinkan dirinya bahwa kedepan tidak akan lagi mengirimkan seseorang untuk memata-matai. Jihan sebenarnya tidak masalah kalau Shaka memberikan pengawalan secara terang-terangan. Yang membuat Jihan sakit dan tertekan adalah keputusan Shaka untuk mengimkan mata-mata setiap kali Jihan pergi. Bukan untuk melindunginya secara diam-diam, tapi lebih ke rasa curiga dan berfikir bahwa Jihan bisa berbuat macam-macam di belakangnya.
Walaupun sudah di kawal supir pribadi, sudah dikirimkan tempat lokasi pertemuan dan memberi tau nama-nama teman yang ingin Jihan temui, Shaka masih saja bersikap konyol dan mengecewakan Jihan.
Shaka meraih tangan Jihan untuk di kecup punggung tangannya.
"Aku janji ini yang terakhir. Maaf sudah membuatmu melewati masa-masa sulit." Shaka merangkul pundak Jihan dan membawanya bersandar di bahunya.
"Sangat sulit. Mas Shaka yang memberiku ijin dan jadwal kapan aku dibolehkan keluar rumah, tapi diam-diam di buntuti seolah aku punya pontensi berbuat kotor di luar sana." Jihan tersnyum miris. Rasanya sakit kalau di ingat-ingat.
Dia bahkan sangat percaya pada Shaka walaupun beberapa bulan belakangan ini Shaka sering pulang larut malam. Sedikitpun tidak pernah terbesit di benak Jihan bahwa Shaka mengkhianati. Sebab Jihan berfikir kalau Shaka juga percaya padanya dengan memberinya ijin keluar rumah. Tapi kenyatannya tidak seperti itu. Dengan uang dan kedudukannya, Shaka bisa membayar seseorang sebagai mata-mata. Sedangkan Jihan, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menaruh kepercayaan penuh pada suaminya sebagai bentuk rasa hormat.
"Aku hanya khawatir kamu dekat dengan pria lain, itu saja." Shaka semakin menarik bahu Jihan dan memeluknya.
"Kekhawatiran itu terbentuk dari rasa tidak percaya. Seandainya aku juga nggak percaya sama Mas, mungkin aku sudah curiga sejak menemukan noda lipstik di kemeja kamu." Tutur Jihan.
Shaka tampak terkejut dan melepaskan pelukannya supaya bisa menatap wajah Jihan.
"Noda lipstik.? Aku nggak pernah dekat-dekat dengan perempuan saat bekerja, mana mungkin ada noda lipstik." Shaka menyangkal keras, sebab dia juga tidak tau menau soal noda lipstik itu. Tidak pernah melihatnya juga.
"3 bulan yang lalu, saat Mas Shaka pulang larut malam dari kantor cabang di Bandung." Jawab Jihan. Ingatannya cukup kuat, dia belum lupa kejadian malam itu saat membereskan baju kerja Shaka di keranjang kotor yang berantakan karna Shaka asal melemparnya. Jihan melihat ada noda lipstik seperti bekas kecupan di bahu belakang. Saat itu Jihan berusaha berfikir positif, mungkin noda lipstik itu bukan karna kesengajaan.
"Kenapa kamu nggak bilang.? Aku bisa jelaskan kalau saat itu kamu menujukkan padaku." Ujar Shaka meskipun dia juga tidak tau menau bagaimana bisa ada noda lipstik di kemejanya.
"Mas Shaka keliahatan sangat lelah. Malam itu juga baru selesai menangani masalah di kantor cabang. Aku mana tega menuntut penjelasan. Bagaimana kalau berujung pertengkaran lagi. Bukankah lebih baik aku diam. Lagipula aku percaya Mas Shaka nggak akan macam-macam." Tutur Jihan.
Shaka menarik nafas dalam, lama-lama dia semakin terlihat jahat dan egois. Padahal selama ini Jihan selalu memenuhi dan menyiapkan kebutuhannya. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Ketika sedang bertengkar sekalipun, Jihan tidak pernah lupa pada kewajibannya.
"Kamu kenapa sangat pengertian." Ucap Shaka dan kembali membawa Jihan dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mas Shaka baru sadar.? Selama ini kemana saja." Ujar Jihan dengan nada bercanda.
Shaka terkekeh kecil dan menghujani wajah Jihan dengan ciuman. Jihan berusaha menyingkirkan wajah Shaka karna takut di lihat orang.
"Ini tempat umum." Jihan menahan wajah Shaka hingga tidak bisa menciumnya lagi.
"Disini sangat sepi," Kata Shaka dan berusaha untuk mencium Jihan lagi.
"Kita bisa viral kalau ada yang mengambil video diam-diam. Pasangan mesum di tepi pantai,,!" Jihan mendorong dada Shaka sekuat tenaga. Shaka justru terkekeh melihat wajah panik Jihan yang takut di viralkan.
...*******...
"Sudah terik, ayo kembali ke resort. Kita istirahat dulu sebelum makan siang." Shaka mengajak Jihan beranjak dari kedai yang ada di tepi pantai. Keduanya tadi sempat berjalan-jalan di sekitar pantai, bahkan sempat bermain air saat matahari belum terik.
Jihan tampak malas untuk beranjak. Angin di tepi pantai terlalu sejuk, Jihan sampai beberapa kali menguap. Kalau Shaka berhenti mengobrol, dipastikan Jihan akan tertidur saking enaknya diterpa angin pantai.
Mau tidak mau, Jihan akhirnya beranjak. Terlalu lama terkena angin juga tidak baik, apalagi sedang hamil seperti ini.
"Sudah sesiang ini tapi pantai masih sepi. Bukannya ini aneh.?" Gumamnya bicara pada Shaka. Pria itu hanya mengulum senyum tipis.
"Orang-orang sibuk bekerja dan sekolah, sekarang masih weekday kan." Ujar Shaka. Jihan hanya mengangguk-angguk saja walaupun rasa penasaran masih mengganjal di hatinya.
Sekitar 5 menit berjalan, keduanya tiba di resort. Shaka menyuruh Jihan untuk segera membersihkan diri karna terkena air dan pasir laut.
Mereka masuk ke kamar mandi yang ada di lantai bawah. Jihan sempat heran melihat Shaka ikut masuk, tapi dia langsung paham ketika Shaka menutup pintu dan menguncinya. Tugas negara sudah menanti di depan mata.
"Seeprti ini masih sakit.?" Bisik Shaka dengan suara parau. Dia memeluk Jihan dari belakang sambil berdiri.
Jihan menggeleng sambil mengggit bibir bawahnya. Shaka bisa melihat ekspresi wajah Jihan yang meng gair*hakan dari pantulan cermin wastafel.
__ADS_1
"Jangan di tahan Jihan,," Ujar Shaka ketika Jihan menahan de sa-h*n.
Siang itu setelah bicara dengan kepala dingin dan saling mengoreksi kesalahan masing-masing, keduanya malah terlibat percintaan panas di kamar mandi sebuah resort yang mereka sewa.
Dan usai sesi percintaan selesai, keduanya terlihat makin mencair. Jihan pun mulai kembali ke setelan pabrik, banyak bicara dan membuat suasana jadi lebih hidup.
Siang itu mereka memutuskan makan di dalam resort, lalu menghabiskan waktu sampai pukul 4 sore untuk istirahat. Bumil tak boleh ketinggalan tidur siang. Jadi keduanya tidur dari pukul 2 siang.
"Mau liat sunset.?" Tawar Shaka. Dia duduk di sebelah Jihan dan menyodorkan 1 cup es krim.
"Beli dimana.?" Jihan menerima es krim itu dari tangan Shaka.
"Hanya perlu menghubungi pekerja resort."
Jihan mengangguk paham.
"Sebentar, aku makan es krimnya dulu." Kata Jihan dan langsung melahap es krim di tangannya.
Shaka mengulum senyum tipis sembari mengacak gemas pucuk kepala Jihan.
"Mama masih memblokir nomor Mas Shaka.?" Tanya Jihan random. Disaat sedang menikmati es krim, tiba-tiba ingat dengan Mama Sonia yang memblokir nomor Shaka gara-gara menyembunyikan kabar kehamilan.
Tadinya malah berencana menghapus Shaka dari daftar ahli waris, tapi Shaka meminta Jihan untuk membujuk Mama Sonia agar tidak melakukan hal itu.
"Sepertinya. Tapi lebih baik begitu daripada ponselku berisik karna notif chat darinya." Sahut Shaka acuh. Dia sama sekali tidak peduli nomornya di blokir, sebab tidak berpengaruh pada keuangannya.
"Mama pasti gengsi kalau membuka blokirannya. Kenapa Mas Shaka nggak minta maaf saja dan minta di buka blokirannya." Tutur Jihan. Mungkin sudah ke sekian kalinya dia menasehati Shaka dengan perkataan yang sama, karna risih dengan perang dingin ibu dan anak itu. Kalau sedang berkumpul bersama, keduanya juga enggan mengobrol.
"Kamu pikir aku nggak gengsi minta maaf. Lagipula Mama mulai duluan." Ujar Shaka yang menolak minta maaf.
__ADS_1
Jihan hanya bisa membatin dalam hati, anak dan Ibu sama saja gengsinya.