Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 50


__ADS_3

Shaka mungkin terlalu frustasi karna hampir 3 minggu belum juga menemukan keberadaan Jihan. Hampir setiap hari ada saja kesalahan karyawan yang sepertinya sengaja di cari-cari oleh Shaka agar bisa melupakan emosinya dengan memarahi orang lain. Kata Diana, sang sekretaris sekaligus sahabat Jihan, Bosnya itu sedang uring-uringan. Moodnya cepat berubah dan gampang marah.


Seperti pagi ini, Diana sudah di interogasi oleh Shaka di ruangan Bosnya itu. Ini adalah interogasi ke 10 yang di alami Diana. Hanya karna Diana satu-satunya sahabat dekat Jihan, Shaka menuduh Diana menyembunyikan keberadaan Jihan. Walaupun Diana sudah bersumpah bahwa dia tidak mengetahui kemana perginya Jihan, Shaka tetap tidak percaya.


"Kamu jangan coba-coba bohongin saya, Diana.!" Shaka memperingati. Tatapannya selalu penuh curiga setiap kali menginterogasi Diana. Karna tidak ada orang lain yang bisa Shaka curiga selain sekretarisnya. Sebab hanya Diana yang paling dekat dengan Jihan.


"Astaga Pak, apa untungnya saya bohongin Pak Shaka.?!" Sahut Diana. Ibu satu anak itu geram sendiri dengan Bosnya.


"Justru kalau saya tau Jihan ada dimana, pasti dari awal sudah saya tukar informasinya dengan uang Bapak. Itu jauh lebih menguntungkan buat saya." Cerocosnya sewot.


Shaka berdecak kesal mendengar jawaban Diana karna membuatnya semakin teringat dengan Jihan yang tak bisa jauh dari kata uang.


"Dengar baik-baik Diana, kalau sampai kamu ketahuan menyembunyikan informasi tentang Jihan, Saya nggak akan segan-segan pecat kamu.!" Tegasnya. Shaka lalu menyuruh Diana keluar dari ruangannya.


Diana keluar dari ruangan Shaka sambil menggerutu. Dia saja sudah kesal gara-gara Jihan pergi tanpa kabar. Membuat Diana merasa tidak di hargai dan di anggap sebagai sahabat yang sejak dulu ada di sampingnya di kala susah maupun senang. Sekarang malah di tambah lagi dengan ulah Shaka. Sudah di bilang tidak tau, tetap saja di interogasi hampir setiap hari. Kecuali saat weekend.


...*******...


Jihan menghela nafas seraya menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Sudah hampir 3 minggu dia dan keluarganya terkurung di salah satu rumah milik mertuanya. Jihan hanya 3 kali keluar dari rumah itu. Selama 3 minggu itu juga, mama mertuanya melarangnya keluar rumah kecuali saat di minta. Memang semua kebutuhan Jihan dan keluarganya terpenuhi di rumah mewah itu. Di sediakan banyak makanan yang pastinya tidak akan membuat Jihan merasa kurang.

__ADS_1


Juna bahkan betah tinggal di rumah itu, padahal tidak bisa kemana-mana. Mungkin karna semuanya serba ada. Kalau Juna butuh sesuatu, pasti langsung di belikan oleh pekerja rumah di sana. Sudah mirip seperti Sultan. Apa-apa serba di layani. Siapa yang tidak betah di perlakukan seperti itu.


Tokk,,, tokk,, tokk,,


"Mba Jihan,,,!" Suara Juna di luar kamar membuat Jihan terpaksa turun dari ranjang.


"Kenapa Dek.?" Nada bicara Jihan terdengar lesu, seperti wajahnya yang tampak kusut. 3 minggu tidak melakukan apapun, Jihan jadi bosan sendiri. Karna sebelumya dia wanita karir. Waktunya banyak di habiskan untuk bekerja, jadi sekalinya tidak melakukan apa-apa selama 3 minggu, Jihan merasa bosan.


"Di panggil Mama buat makan malam." Tutur Juna. Jihan mengangguk pelan, dia keluar dari kamar dan menutup pintunya.


Di ruang makan, Mama Dewi sudah duduk di depan meja yang penuh dengan beberapa menu makanan utama, dessert dan buah. Setiap hari selalu di sediakan makanan 4 sehat 5 sempurna.


"Kamu sakit Nak.? Wajah kamu sedikit pucat." Ujar Mama Dewi seraya menatap lekat wajah pucat putrinya.


Wanita paruh baya itu menunduk sendu. Dia tidak tau permasalahan apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga putrinya, sampai besannya mengurung mereka di rumah ini hanya karna ingin memberi belajar untuk Shaka. Katanya Shaka terlalu cuek dan dingin pada Jihan, jadi harus dipisahkan sementara waktu supaya Shaka sadar akan keberadaan istrinya.


Namun Mama Dewi tidak percaya begitu saja. Sebagai seorang Ibu, Mama Dewi memiliki feeling yang cukup kuat tentang pernikahan anaknya. Lagipula kalau untuk memberikan pelajaran pada Shaka hanya karna sikapnya buang terlalu dingin, rasa terlalu berlebihan sampai menyembunyikan Jihan hingga selama ini.


"Kita makan dulu, Mama ingin bicara sama kamu setelah makan malam." Titah Mama Dewi. Jihan mengangguk patuh. Dia kemudian menyantap makannya bersama Juna dan Mama Dewi.

__ADS_1


...*******...


Di kamar Jihan. Ibu dan anak itu sedang duduk sebelahan di balkon kamar yang menghadap ke bukit golf. Pandangan keduanya lurus ke depan. Sesekali Jihan memejamkan mata, merasakan hembusan angin malam yang menerpa permukaan kulit wajahnya. Terasa dingin, bahkan sampai membuat pikiran mesum Jihan melayang kemana-mana. Hawa dingin membuatnya butuh kehangatan.


"Jihan, mau sampai kapan kamu disembunyikan seperti ini.? Kamu dan Shaka sudah menikah, segala sesuatu yang terjadi dalam rumah tangga kalian, nggak seharusnya orang tua ikut campur." Ujar Mama Dewi menasehati. Nada bicaranya terdengar lembut meski penuh penekanan.


Jihan menoleh, wajah sendu sang Mama membuat hati Jihan bergetar karna sesal. Walaupun selama ini Mamanya diam karna tidak mau ikut campur, tapi Jihan tau permasalahan ini membuat Mamanya terbebani.


"Selagi Shaka nggak melakukan kekerasan dan nggak mengkhianati pernikahan kalian, seharusnya masih bisa di bicarakan baik-baik tanpa perlu pergi dari rumah."


"Selama ini Mama diam karna sadar diri, kita hanya orang biasa, sedangkan mertuamu punya segalanya. Sekedar memberi saran saja Mama merasa nggak pantas." Lirihnya.


"Mah,," Jihan langsung menggenggam tangan Mamanya dan menatap dengan mata berkaca-kaca. Perkataan Mamanya membuat hati Jihan berdenyut nyeri.


"Harusnya sejak awal Mama berfikir dua kali untuk merestui kamu dengan Shaka. Sekarang lihat, kamu seperti sedang mempermainkan pernikahan. Hati Ibu mana yang bisa bahagia kalau rumah tangga putrinya seperti ini." Suara Mama Dewi tercekat. Walaupun putrinya di perlakuan baik oleh mertuanya, tapi tetap saja Mama Dewi ikut menelan rasa sakit melihat rumah tangga putrinya seperti itu.


Jihan tertunduk lesu. Semua perkataan Mamanya seperti cambukan keras. Dia memang telah mempermainkan pernikahan sejak awal. Mungkin Mama Dewi akan semakin kecewa jika tau kebenarannya.


"Jangan sampai masalah ini berlarut-larut. Kamu punya hak untuk menolak permintaan mertuamu." Mama Dewi tampak berharap banyak pada putrinya. Mungkin semua Ibu di luar sana akan mengatakan hal yang sama. Sebab mereka ingin rumah tangga anaknya bahagia.

__ADS_1


"Jihan paham Mah. Maaf kalau sudah membuat Mama khawatir. Besok Jihan akan menemui Mas Shaka dan membicarakan hal ini." Ujar Jihan karna tidak tega melihat kesedihan di wajah Mamanya.


Lagipula Jihan sendiri sudah merasa bosan terkurung di rumah itu.


__ADS_2