Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 37


__ADS_3

Jihan menjadi cemberut dan berbaring memunggungi Shaka. Setiap kali Shaka menyentuh bahunya, Jihan akan menepis tangan Shaka. Wanita itu kesal karna Shaka tidak menepati janjinya.


"Saya nggak sengaja Jihan." Lirih Shaka yang mulai kehabisan akal membujuk Jihan.


"Kalaupun kamu hamil, saya akan tanggung jawab. Anggap saja nggak ada surat perjanjian." Ujarnya setelah sekian lama menahan diri untuk tidak bicara seperti itu karna gengsi. Giliran Jihan sudah ngambek, Shaka baru mengutarakan keinginannya.


"Siapa juga yang mau minta pertanggungjawaban Pak Shaka.! Bisa-bisa saya tekanan batin punya suami dingin dan kaku kayak Bapak." Ketus Jihan sewot. Belum genap sebulan saja sudah puluhan kali terlibat adu mulut. Susah terlihat akur, apalagi harmonis. Yang ada malah ribut terus seperti kucing dan tikus.


"Kamu ada dendam apa sama saya.? Diluar sana banyak wanita ingin jadi istri saya, kamu yang udah saya nikahi malah hobby ngajak berantem." Gerutu Shaka datar.


"Saya bukan orang pendendam. Paka Shaka saja yang menyebalkan, hobby sekali menguji kesabaran saya. Kesabaran saya tuh setipis tisu Pak, jadi jangan coba-coba." Cerocos Jihan. Dia menepis tangan Shaka untuk kesekian kalinya saat menempel di pundaknya.


Namun di tepis berulangkali tidak jadi masalah bagi Shaka, pria itu malah makin berani merapatkan tubuhnya dan memeluk Jihan dari belakang.


"Kamu nggak cape ngomong mulu.? Saya yang dengerin ikut pegal mulutnya." Cibir Shaka datar.


"Lebih baik kita tidur, kamu pasti cape. Kamu habis membuang banyak tenaga selama tadi men de sah. Iya kan.?" Tanyanya meledek. Jihan mengulurkan tangan kebelakang untuk mencubit perut Shaka.


Shaka melonjak kaget tanpa siap menghindar. Dia meringis kesakitan karna Jihan benar-benar mencubitnya.


"Lebih baik Pak Shaka nggak usah ngomong. Saya bawaannya emosi kalau Pak Shaka ngomong sembarangan." Protesnya.


Shaka tampak acuh, dekapannya pada tubuh Jihan semakin erat dan berakhir dengan tidur sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jihan.


Sepasang suami istri itu terlelap setelah mengarungi malam panas untuk pertama kalinya sejak menikah. Bukan atas dasar suka sama suka, bukan juga karna kewajiban sebagai suami istri, melainkan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain. Jihan mendapatkan materi, sedangkan Shaka mendapat kepuasan.


...*******...

__ADS_1


Pagi itu Shaka bangun lebih awal. Dia juga sudah selesai mandi dan rapi dengan balutan celana panjang dan sweater. Wajahnya kelihatan lebih segar dari biasanya. Kalau dilihat-lihat, auranya juga sedikit beda. Bukan yang awur-auran. Mungkin efek dari membobol gawang pera-wan tadi malam, alhasil jadi memancarkan aura yang positif.


Beberapa kali Shaka kedapatan senyum-senyum sendiri ketika melirik Jihan yang masih tidur pulas di atas ranjang. Sepertinya Shaka sedang mengingat adegan semalam, di mana dia berhasil membujuk Jihan dan berakhir merasakan nik-matnya ber cinta dengan pera-wan.


Shaka melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir pukul 9 pagi, tapi belum ada tanda-tanda Jihan akan bangun. Sedangkan Shaka, dia sudah bangun 2 jam yang lalu, karna tadi sempat meeting virtual. Shaka juga memesan makanan untuk sarapan, dan sudah tertata rapi di meja makan.


Pria dengan postur tinggi itu kemudian mematikan laptopnya, dia berjalan menghampiri Jihan untuk membangunkannya. Kasian juga kalau dibiarkan tidur dan melewatkan sarapannya.


"Jihan bangun dulu, kamu belum sarapan." Shaka menyentuh pipi Jihan, membuat gerakan lembut ketika mengusapnya. Jihan hanya menggeliat, Shaka harus berkali-kali membangunkan Jihan hingga wanita itu membuka matanya.


"Eummm. Jam berapa Pak.?" Tanyanya sambil menarik selimut sampai sebatas leher, padahal dia memakai baju tidur panjang. Mungkin ingat sisa semalam, dia malu saat Shaka bisa melihat tubuh polosnya.


"Hampir jam 9. Mandi dulu setelah itu sarapan."


"Apa.?!! Jam 9.?!" Seru Jihan panik.


"1 jam lagi pesawatnya take off kan.? Kalau nanti ketinggalan pesawat bagaimana.? Kenapa Pak Shaka nggak bangun saya dari tadi.?" Jihan menyibak selimut dan bergegas turun dari ranjang. Wanita itu setengah berlari ke arah kamar mandi sebelum perkataannya di respon Shaka.


Shaka menggeleng pelan sambil menghampiri Jihan. Tanpa aba-aba, Shaka mengangkat tubuh Jihan. Menggendongnya di depan. Tangan Jihan reflek dikalungkan pada leher Shaka, walaupun sempat menjerit kaget.


"Nggak usah buru-buru, masih ada waktu 3 hari disini. Liburannya di perpanjang, karna kita masih punya kegiatan yang harus di selesaikan." Ujar Shaka. Jihan sempat menatap heran, namun saat melihat tatapan penuh arti dari Shaka, Jihan langsung paham maksudnya.


"Memangnya nggak bisa di Jakarta saja.?" Tanya Jihan. Bukan apa-apa, Jihan tidak enak hati kalau cuti terlalu lama.


"Disini lebih menantang. Suasananya juga mendukung. Jadi persiapkan diri kamu nanti malam." Bisik Shaka dengan seringai mesum.


Jihan berdecak dan reflek mencubit perut Shaka.

__ADS_1


"Apa di pikiran Pak Shaka cuma ber cinta. Menyebalkan.!" Jihan memutar malas bola matanya.


Shaka terkekeh kecil, lalu menurunkan Jihan di dalam kamar mandi.


"Panggil saya kalau sudah selesai," Pesannya sebelum keluar dari kamar mandi.


Jihan menghela nafas berat setelah mengunci pintu kamar mandi. Ternyata seperti ini rasanya kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya. Kesucian dan kehormatan yang sejak dulu dia jaga. Ada sesal yang terbesit dalam hati, namun ketika sadar akan status hubungannya dengan Shaka, Jihan jadi tidak begitu khawatir. Dia dan Shaka pasangan halal, seorang istri tidak akan menjadi hina hanya karna menyerahkan kesuciannya meski di dasari materi.


...******...


Jihan dan Shaka sedang duduk di balkon, keduanya menikmati pemandangan kota Swiss di malam hari. Seharian ini mereka hanya menghabiskan waktu di hotel. Shaka sering kali sibuk dengan pekerjaannya, tapi terkadang juga mengobrol berdua. Membahas soal pekerjaan sampai hal random sekalipun. Ada saja yang dijadikan bahan obrolan, mungkin karna Jihan cukup cerewet.


"Ayo masuk, udaranya makin dingin." Shaka berdiri dari duduknya.


Jihan ragu-ragu untuk ikut beranjak, pikirannya sudah tidak karuan. Sebab malam ini akan berlanjut per cintaan seasons 2. Rasanya takut dan bercampur malu.


"Kenapa tegang begitu.?" Alis Shaka menukik tajam, menelisik perubahan raut wajah Jihan.


"Pak Shaka mau minta sekarang.?" Tanyanya to the point.


Shaka tersenyum miring, lalu mengangguk.


"Tapi belum beli pengaman kan.?" Jihan tampak khawatir. Tadi siang dia sudah memperingati Shaka agar membeli pengaman. Jihan takut Shaka tidak bisa mengontrol diri lagi dan berakhir keluar di dalam.


"Nggak enak pakai pengaman, saya janji kali ini di luar." Ujarnya meyakinkan. Jihan menggeleng tidak percaya.


"Pak Shaka nggak bisa di percaya. Saya nggak mau tanpa pengaman.!" Tolak Jihan tegas.

__ADS_1


Shaka berdecak, dia mendekati Jihan dan menggendongnya.


"Kamu lebih suka di paksa ya.?" Bisiknya. Jihan memberontak dalam gendongan Shaka, berteriak minta di turunkan. Tapi malah di turunkan di atas ranjang dan langsung di kungkung tubuh besar Shaka.


__ADS_2