Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 54


__ADS_3

Entah saking antusiasnya atau karna terlalu banyak uang, sampai membeli alat tes kehamilan saja harus yang paling mahal. Bukan hanya itu, Shaka sampai memesan 10 alat tes kehamilan sekaligus. Hal itu membuat Jihan geleng-geleng kepala. Padahal beli 2 saja sudah cukup, apalagi beli yang paling mahal, pasti hasilnya benar-benar akurat.


"Cuma pakai satu.?" Tanya Shaka ketika Jihan hanya mengambil 1 alat tes kehamilan untuk di bawa ke kamar mandi.


Jihan gemas sendiri, gemas karna kesal tentunya. Sebab baru kali ini dia berhadapan dengan CEO yang terang-terangan menunjukkan sisi bodohnya. Walaupun seorang pria, setidaknya Shaka punya logika untuk berfikir bagaimana cara mengetes kehamilan. Apalagi usianya tidak muda lagi.


"Mas pikir melakukan tes kehamilan harus menggunakan 10 alat sekaligus.?" Ucap Jihan dengan nada mencibir.


"Mana saya tau, saya kan pria." Jawabnya acuh, lalu meletakkan sisa alat tes kehamilan itu di atas meja.


Jihan berdecak malas, dia memilih pergi ke kamar mandi karna sudah penasaran ingin tau hasilnya.


Sementara itu, diluar kamar mandi ada Shaka yang sejak tadi mondar-mandir tidak jelas. Dia kelihatan tegang dan tidak sabar mendengar kabar baik yang sudah 1 bulan ini dia tunggu-tunggu. Karna sejak pertama kali ber cinta dengan Jihan, Shaka memang berniat membuat istrinya itu hamil.


Tokk,, tokk,, tokk,,


Karna tidak sabar menunggu Jihan tak kunjung keluar, Shaka jadi menggedor pintu kamar mandi.


"Jihan, kenapa lama sekali.?" Teriaknya. Shala jadi khawatir sendiri, pikirannya sudah macam-macam. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Jihan karna lebih dari 10 menit belum keluar. Padahal hanya butuh waktu sekitar 3 menit untuk mengetahui hasilnya. Shaka bisa tau karna dia sempat membaca aturan pakai yang tertera pada bungkus tespek.


"Iya sebentar.!" Seru Jihan.


Wanita yang sedang di dalam kamar mandi itu tampak kebingungan setelah melihat hasil tespeknya. Tidak tau dia harus senang atau sedih. Sebab tidak yakin kalau Shaka memiliki perasaan padanya meski sempat mengatakan ingin memiliki anak darinya.


"Hamil anak Sultan, bukannya senang malah galau." Gumam Jihan bicara sendiri. Dia kemudian keluar dari kamar mandi. Di luar ada Shaka yang langsung berhenti mondar-mandir, lalu menatap Jihan dengan tatapan penasaran.


"Bagaimana hasilnya.?" Tanyanya.


Tidak menjawab, Jihan hanya memberikan tespek itu pada Shaka agar di lihat sendiri hasilnya.


Bibir Shaka tampak mengulas senyum lebar dengan ekspresi puas ketika melihat gambar hati di sertai tulisan yes pada tespek di tangannya.


Pria itu kemudian menyimpan tespek di saku kemejanya, lalu beralih menatap Jihan.

__ADS_1


"Ayo ke dokter, kamu harus di periksa." Ajaknya seraya menggandeng pergelangan tangan Jihan.


Padahal pergi ke hotel niatnya untuk melepas rindu dengan istrinya. Tapi setelah tau Jihan positif hamil, seketika jadi lupa dengan tujuan awalnya. Shaka juga tampak tidak peduli dengan uang yang sudah dia keluarkan untuk menyewa kamar hotel yang mewah ini. Belum ada 1 jam tapi sudah mau checkout.


...*****...


Shaka full senyum ketika keluar dari ruangan obgyn. Wajah bahagianya tidak bisa di tutupi. Sikapnya juga mendadak aneh, tiba-tiba menjadi lembut ketika bicara dengan Jihan di ruangan tadi. Shaka yang lebih kritis, banyak bertanya ini itu pada Dokter. Tentunya yang berkaitan untuk kebaikan Jihan dan anak mereka yang masih dalam kandungan.


"Mulai besok kita tinggal berdua saja, jangan tinggal sama orang tua saya ataupun orang tua kamu. Nanti sore kita pindah ke rumah saya." Ujar Shaka tanpa melepaskan genggaman tangannya di pergelangan Jihan.


Gara-gara kejadian ini, Shaka sampai trauma membiarkan Jihan tinggal bersama Mamanya sendiri. Mungkin ingin menghindari hal seperti ini agar kedepannya tidak terjadi lagi. Khawatir Mamanya akan selalu ikut campur dengan masalah rumah tangganya bersama Jihan.


Jihan menatap ragu, dia belum bisa mengambil keputusan. Sebab Shaka belum memberi kepastian untuk hubungan mereka. Dalam arti lain, Jihan ingin mendengar langsung dari mulut Shaka jika memang ingin mempertahankan pernikahan tanpa adanya kontrak perjanjian.


"Kesannya terlalu buru-buru. Kita kembali dulu saja ke rumah Mama Sonia. Hubungan kita juga belum jelas akan seperti apa kedepannya. Banyak yang harus kita bicarakan sebelum mengambil keputusan." Ucap Jihan.


Shaka tampak menghela nafas berat. Padahal Shaka sadar bahwa Jihan sedang berusaha memancingnya agar bicara lebih jelas dan memberikan kepastian. Tapi dengan sikap dinginnya, Shaka kesulitan mengutarakan keinginannya. Di tambah gengsinya yang setinggi langit.


...*******...


Shaka berdecak kesal menatap Mamanya.


"Kalau Jihan nggak datang ke perusahaan, mau sampai kapan Mama menyembunyikan Jihan.?" Tanya Shaka dengan tatapan kesal.


Mama Sonia langsung menatap menantunya dengan tatapan penuh tanya. Dia butuh penjelasan kenapa menantunya itu malah menemui Shaka.


Kini mereka duduk di ruang keluarga. Papa Mahesa juga ikut gabung disana untuk menjadi penengah. Sebab dia tau bagaimana karakter anak dan istrinya.


"Mama menyembunyikan Jihan supaya kamu menyadari perasaan kamu pada Jihan."


"Terlepas dari kontrak perjanjian yang kamu buat, Mama tau kalau kamu sebenarnya menyukai Jihan." Tutur Mama Sonia yakin.


"Tapi bukan berarti Mama bisa seenaknya menyembunyikan Jihan dari ku. Dia istri Shaka, cuma Shaka yang bisa menentukan Jihan boleh pergi atau nggak." Ucap Shaka penuh penekanan.

__ADS_1


"Sudah jangan berdebat." Lerai Papa Mahesa.


"Dan kamu, Shaka.! Papa nggak pernah mengajarkan kamu mempermainkan pernikahan. Darimana kamu bisa memiliki ide konyol seperti itu." Omelnya kesekian kali sejak mengetahui putranya membuat kontrak pernikahan.


"Sekarang biar Papa yang menentukan kelanjutan hubungan kalian." Tegasnya tak mau di bantah.


"Papa tau kalian belum saling mengenal sebelumnya. Papa beri kalian waktu 3 bulan untuk kalian saling mengenal satu sama lain. Selebihnya, Papa serahkan keputusan di tangan kalian." Ujar Papa Mahesa berusaha bijak tanpa memihak siapapun. Bukan tanpa alasan Papa Mahesa meminta Shaka dan Jihan untuk saling mengenal lebih dulu, agar kedepannya bisa menjalani rumah tangga mereka dengan baik.


"Tapi Jihan sudah,,," Ucapan Jihan di potong cepat oleh Shaka.


"Baik, Jihan juga sudah setuju. Shaka sempat membicarakan itu sebelumnya dengan Jihan." Ujar Shaka sambil menggenggam tangan Jihan sebagai kode. Tentunya agar Jihan tidak bicara lebih jauh. Sebab Shaka sudah menebak apa yang akan Jihan katakan.


"Tapi selama 3 bulan kedepan, Shaka dan Jihan akan menempati rumah baru. Biarkan kami berdua saling mengenal tanpa gangguan dan campur tanganan orang lain." Tegas Shaka.


Mama Sonia melirik tajam pada putranya yang bicara kurang ajar. Dia tau Shaka sedang menyinggungnya.


"Dasar anak kurang ajar. Ini Mamamu, bukan orang lain." Protes Mama Sonia kesal. Papa Mahesa hanya geleng-geleng kepala.


"Terserah Mama saja, intinya Shaka mau pisah rumah." Tegasnya.


"Kami ke kamar dulu, ada yang harus kami bicarakan berdua." Shaka menggandeng Jihan untuk berdiri dari duduknya.


"Awas saja kalau berani macam-macam sama menantu Mama.!" Ancam Mama Sonia.


Shaka memutar malas bola matanya.


"Kalau Shaka nggak macam-macam, bagaimana bisa membuat cucu untuk Mama ku tersayang." Sahutnya kemudian berlalu begitu saja sambil menggandeng Jihan.


Mendengar ucapan Shaka, Jihan sontak mencubit perut suaminya itu karna sudah membuatnya malu.


"Sakit,," Protes Shaka.


"Biar tau rasa." Balas Jihan ketus.

__ADS_1


"Awas saja nanti." Gumam Shaka dalam hati. Dia mengembangkan senyum smirk penuh arti.


__ADS_2