
Mungkin ini alasannya kenapa dilarang menilai sesuatu hanya dari apa yang terlihat. Sebab apa yang terlihat belum tentu kenyataannya. Kini Mama Sonia dan Papa Mahesa mengalaminya sendiri. Keduanya merasa tertipu dan di bodohi oleh kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat selama ini. Atau bisa jadi mereka terlalu percaya pada orang lain, sampai tidak pernah berfikir hal seperti ini akan mereka alami.
mama Sonia menghela nafas berat. Sebagai orang tua yang telah berharap banyak pada anak dan menantunya, tentu merasa sangat kecewa. Dia juga merasa bersalah karna terlalu memaksa putranya agar segera menikah. Mungkin dari situ awal mula terjadi perjanjian di atas materai ini.
"Menurut Papa, kenapa Jihan mau menerima tawaran seperti ini.?"
"Mama pikir, Jihan wanita baik-baik yang nggak silau akan uang. Lihat, hanya karna uang 500 juta, dia rela menandatangani kontrak pernikahan ini." Ucap Mama Sonia tak habis pikir. Penilaiannya terhadap Jihan sebagai wanita baik-baik yang tidak mengincar harta, kini dipatahkan oleh selembar surat perjanjian.
"Mama tenang dulu, jangan langsung menilai buruk seseorang hanya karna kita di kecewakan. Lebih baik kita tanyakan langsung pada Jihan. Pasti Jihan juga punya alasan." Ujar Papa Mahesa mencoba menenangkan istrinya.
Mama Sonia mengangguk setuju. Keduanya kemudian keluar dari ruang kerja dan memanggil Jihan ke ruang keluarga untuk menginterogasi menantunya itu.
Kini sudah ada Jihan yang duduk di depan Mama Sonia dan Papa Mahesa. Wajah Jihan tampak tegang, mungkin dia bisa merasakan ada hal penting yang akan dibicarakan oleh mertuanya.
"Jihan, apa yang bisa kamu jelaskan tentang surat ini.?" Mama Sonia menyodorkan selembar kertas di atas meja.
Bola mata Jihan membulat sempurna saat membaca sekilas rentetan huruf paling atas yang tercetak tebal. Wajahnya semakin tegang, bahkan kini diliputi ketakutan. Lidahnya seolah kelu untuk sekedar mengatakan maaf.
"Mama pikir kamu berbeda dari wanita di luar sana." Ungkap Mama Sonia kecewa.
"Bagaimana bisa kamu menukar uang 500 juta dengan kekecewaan kami. Apa Mama kamu juga tau hal ini.?" Mama Sonia menatap penuh selidik, meski nada bicaranya masih terdengar tenang.
Jihan menggeleng cepat.
"Mama saya nggak tau apapun tentang ini." Jihan menunduk malu sekaligus menyesal. Yang dia takutkan akhirnya terjadi juga. Semua orang pasti akan kecewa dengan perbuatannya.
"Saya minta maaf Mah, Pah. Sekalipun saya nggak pernah berniat mempermainkan pernikahan, apalagi mengecewakan banyak orang." Suara Jihan tercekat. Kini dia memikirkan perasaan Mamanya yang pasti akan hancur juga seperti kedua orang tua Shaka.
"Keadaan yang membuat saya melakukannya. Saat itu saya membutuhkan uang untuk menyelamatkan nyawa Mama yang sudah melahirkan saya dan Juna." Tutur Jihan.
Tanpa bisa di bendung, air mata Jihan luruh begitu saja. Dia merasa menjadi orang jahat yang tega melukai perasaan banyak orang.
Mama Sonia dan Papa Mahesa saling pandang. Tentu mereka masih ingat saat menjenguk calon besan yang saat itu sedang sakit keras dan harus di operasi. Sekarang keduanya tau kalau Jihan terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu karna terdesak keadaan.
__ADS_1
"Saya nggak keberatan kalau harus pergi dari rumah ini dan mengakhiri pernikahan dengan Mas Shaka. Untuk uang itu, saya janji akan segera mengembalikan sesuai jumlah yang tertera." Jihan memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk menatap kedua mertuanya. Satu-satunya cara untuk mengembalikan nama baiknya di depan mereka adalah dengan cara mengakhiri semuanya dan mengembalikan uang itu. Sebab Jihan tidak mau di cap sebagai wanita yang gila uang di depan kedua orang tua Shaka.
"Memang sebaiknya kamu keluar dari rumah ini." Ucap Mama Sonia. Jihan mengangguk tanpa membantah. Dia tidak perlu lagi berpura-pura karna sudah ketahuan.
...******...
3 hari berada di Surabaya. Malam itu Shaka akhirnya bisa kembali ke Jakarta setelah semua urusannya selesai. Sampainya di rumah, pria itu langsung naik ke lantai dua untuk pergi ke kamarnya. Ada hal penting yang harus dia bicaranya dengan Jihan. Shaka juga penasaran, kenapa Jihan jarang sekali menjawab pesannya. Bahkan panggilan telfonnya selalu di tolak.
Klekk,,,
Shaka dengan mudah bisa membuka pintu kamarnya. Dahinya sedikit mengkerut, heran karna Jihan tidak mengunci kamar, padahal sudah jam 11 malam.
"Bisa-bisanya nggak di kunci." Gumam Shaka. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Shaka masuk ke dalam kamarnya yang kondisinya gelap. Mungkin karna Jihan biasa mematikan lampu kamar saat tidur, jadi dia berfikir kalau Jihan ada di dalam.
"Jihan.??" Shaka terkejut ketika menyalakan lampu dan tidak mendapati Jihan tidak ada di kamar.
"Apa dia menginap di rumah Mamanya." Shaka menerka sendiri. Dia sudah mengecek kamar mandi dan semua sudut di dalam kamarnya, tapi kosong.
"Berani sekali keluar rumah tanpa ijin.!" Gerutu Shaka kesal. Disini Shaka masih mengira kalau Jihan menginap di rumah Mama Dewi. Sebab kedua orang tua Shaka belum memberitahu soal surat perjanjian yang mereka temukan.
Karna lelah, malam itu Shaka memilih istirahat. 3 hari di Surabaya cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran. Sampai kurang istirahat.
...******...
Pagi-pagi sekali Shaka sudah rapi. Dia keluar dari kamar sambil memegang kunci mobil di tangannya.
"Shaka.! Kamu mau kemana.?!" Suara tegas Mahesa menghentikan langkah Shaka.
"Bukannya kamu baru pulang semalam. Sekarang masih jam 6 pagi, kamu mau pergi lagi.?" Mahesa berjalan menghampiri putranya yang sudah turun ke lantai bawah.
"Shaka mau jemput Jihan. Sejak semalam nomornya nggak bisa di hubungi." Jawab Shaka.
Mahesa tersenyum miring.
__ADS_1
"Memangnya kamu tau Jihan ada di mana.?" Tanyanya dengan nada mengejek.
Shaka menatap curiga, tidak biasanya Papanya bicara dengan nada tatapan seperti itu.
"Asal kamu tau, Papa dan Mama sudah mengusir Jihan dari rumah ini.!" Tegasnya.
"Uang 500 juta yang kamu berikan padanya juga sudah dikembalikan."
Shaka terperangah, Jihan di usir.? Lalu orang tuanya juga tau soal uang 500 juta itu.
"Kamu jangan kaget begitu. Papa menemukan surat perjanjian di meja kerja perusahaan.!" Sentak Mahesa.
"Apa kamu sudah nggak waras sampai punya ide gila seperti itu.?!"
Shaka mengusap kasar wajahnya.
"Papa nggak bicara macam-macam kan sama Jihan.? Dia nggak salah, Shaka yang menawarkan perjanjian itu karna dia butuh uang." Ekspresi wajah Shaka terlihat frustasi.
"Papa nggak peduli siapa yang memulai, yang jelas kalian berdua salah.!"
"Kamu nggak perlu menunggu sampai 1 tahun untuk mengakhiri pernikahan kontrak itu, Papa akan mengurus perceraian kalian secepatnya.!" Tegas Mahesa.
"Pah.! Shaka nggak akan menceraikan Jihan.!" Shaka menjawab tak kalah tegas.
"Kenapa.? Bukannya kamu sendiri yang ingin menceraikan Jihan." Mama Sonia muncul dan ikut menyahuti perdebatan mereka.
Shaka menarik nafas dalam-dalam.
"Bagaimana kalau Jihan hamil anak ku.?" Ucapnya pelan.
"Kamu nggak perlu bohongin Mama sama Papa lagi.! Di surat itu tertulis kalau tidak ada hubungan suami istri selama menikah. Lalu bagaimana Jihan bisa hamil anak kamu.?" Mama Sonia menatap jengah pada putranya.
"Kami sudah melakukannya." Jawab Shaka tegas.
__ADS_1