
Jihan jadi cemberut gara-gara Shaka fokus memikirkan adegan panas disaat dia sedang bicara serius.
"Mas Shaka nggak bisa ya di ajak bicara serius." protesnya sedikit sewot.
"Kamu bercanda.? Kalau nggak bisa serius, Mama mungkin saya masih memimpin perusahaan sampai sekarang." Sahut Shaka.
"Sekarang memang nggak bisa serius, saya sakit kepala karna terlalu lama di tahan-tahan." Ujarnya memberi tau.
Jihan tampak menghela nafas, antara pasrah dan kesal. Mau protes lagi pun percuma, Shaka sedang mode tegangan tinggi. Semakin di ajak bicara serius, obrolannya makin tidak nyambung.
Sampai akhirnya mereka tiba di hotel setelah menempuh perjalanan 30 menit. Shaka kembali memesan kamar VIP. Pria itu berharap tidak gagal lagi kali ini. Tidak, mungkin lebih tepatnya Shaka tak akan membiarkan gagal lagi. Malam ini harus berhasil melakukan ritual suami istri, demi menghilangkan rasa pusing dikepala dan mengembalikan moodnya agar bagus lagi.
Shaka mengunci pintu hotel begitu mereka masuk ke dalam. Suasana dan gestur Shaka yang terlihat sudah tidak sabar, membuat Jihan nervous dan salah tingkah. Ini bukan pertama kali untuknya, tapi mampu membuat jantung Jihan berdebar kencang sejak memasuki gedung hotel.
Tiba-tiba malah terlintas di benak Jihan bagaimana keganasan Shaka saat ber cinta nanti. Mengingat sudah lebih dari 3 minggu mereka absen melakukan ritual jungkat-jungkit.
"Saya mandi dulu. Kamu kalau mau pesan makanan, hubungi room service saja." Ujar Shaka sembari berlalu ke arah kamar mandi.
Jihan memilih duduk di sofa, lalu meraih katalog di atas meja untuk melihat-lihat menu makanan. Hormon kehamilan membuat Jihan jadi hobby makan. Gampang merasa lapar dan sering terbayang makanan.
Setelah menentukan beberapa menu makanan berat, dessert dan minuman, Jihan segera menghubungi nomor room service dan memesan semua makanan pilihannya.
15 menit berlalu. Shaka sudah duduk di sebelah Jihan dengan penampilan yang lebih segar. Pria itu memakai kaos putih polos dan celana pendek yang dia ambil dari mobil ketika akan masuk ke hotel.
Keduanya hanya mengobrop ringan sambil menunggu pesanan datang. Tidak berselang lama, pelayan hotel datang mengantarkan makanan. Shaka langsung beranjak, seolah enggan membiarkan Jihan membukakan pintu.
Shaka mempersilahkan pria itu masuk setelah membuka pintu.
"Permisi,," Pelayan itu menata beberapa makanan di atas meja. Shaka tidak terkejut ketika melihat pelayan itu membawa banyak makanan pesanan Jihan.
"Kamu ada uang cash.?" Lirih Shaka pada Jihan. Wanita itu langsung mengambil dompet dari tasnya dan menyodorkan dompetnya pada Shaka.
__ADS_1
Ekspresi wajah Shaka berubah masam ketika membuka dompet Jihan dan mendapati foto pria.
Entah Jihan lupa atau sengaja membiarkan foto itu tetap di dompetnya.
Shaka mengambil 2 lembar pecahan seratus ribu sekaligus mengambil foto pria do dompet itu tanpa sepengetahuan Jihan.
"Nanti saya ganti." Kata Shaka sambil mengembalikan dompet ke tangan Jihan.
"Nggak usah." Sahut Jihan, namun tidak di respon oleh Shaka.
Shaka kemudian beralih pada pelayan hotel yang sudah selesai menata makanan di atas meja. Shaka memberikan tips dan mengantar pelayan itu sampai ke depan pintu untuk mengunci pintunya lagi.
"Mau makan dulu.?" Tanya Shaka. Pria itu memasukkan foto kedalam Kantong celananya dan duduk di sebelah Jihan.
Jihan mengangguk antusias. Shaka bisa melihat binar di mata Jihan ketika menatap steak wagyu dengan saus mushroom.
Shaka membiarkan Jihan mengisi perutnya lebih dulu sebelum di eksekusi dan meminta penjelasan dari foto yang dia temukan di dompet Jihan. Sesekali Shaka juga ikut makan, meski pikirannya bercabang dan tidak fokus. Di sisi lain ada harsat yang harus di tuntaskan, dan hati yang butuh penjelasan.
Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Shaka akhirnya mengeluarkan foto di saku celananya setelah Jihan berhenti makan.
"Bisa kamu jelasin ini foto siapa.?" Shaka meletakkan foto berukuran 2x3 itu di atas meja. Jihan tampak terkejut, dia reflek mengambil fotonitu sambil menatap Shaka.
"Kenapa mengambil ini tanpa ijin." Protes Jihan pelan.
"Itu mantan kamu yang mana lagi.? Atau pacar kamu.?" Shaka menatap selidik. Ada kilat cemburu yang membakar hatinya. Sudah jelas bisa merasakan cemburu, tapi masih gengsi bilang cinta.
"Mas Shaka jangan asal bicara. Dia Om ku, adiknya Mama. Sudah lima tahun kami loscontack." Jihan mengambil dompet dan menyimpan kembali foto itu dalam dompetnya. Cuma foto itu yang dia punya agar tidak melupakan Omnya ynag sekarang entah dimana. Katanya pergi ke luar negeri untuk bekerja, tapi setelah itu hilang kabar.
Jihan kemudian menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Shaka tampak bernafas lega setelah yakin kalau pria itu benar-benar adik kandung Mama Dewi. Kini tidak ada lagi salah paham, tidak ada lagi perasaan gusar yang menyelimuti. Sampai akhirnya Shaka memberanikan diri untuk menghapus jarak dengan Jihan.
"Saya akan bantu cari Om kamu, tapi nanti setelah kamu menyelesaikan tugas,," Bisiknya dengan sebelah tangan yang mulai menyusuri punggung Jihan. Tubuh Jihan seketika menegang.
__ADS_1
Shaka lantas mengangkat tubuh Jihan. Dalam hitungan detik, tubuh Jihan sudah pindah ke pangkuan Shaka dengan posisi berhadapan.
Shaka menyambar bi bir Jihan, dia semakin bersemangat ketika Jihan membalas ci-umannya.
Dalam hitungan menit, mereka berdua sudah polos. Pakaian mereka berceceran di lantai, beberapa terlepar jauh dari sofa. Sedangkan pemiliknya asik bercu- mbu di atas sofa. Hanyut dalam gelombang panas yang meng ga irahkan.
"Mas, jangan di sofa." Jihan menghentikan gerakan Shaka yang sudah semakin jauh. Kedua tangannya menahan kepala Shaka di bawah sana.
Shaka mengangguk paham, dia kemudian mengangkat Jihan untuk dipindahkan ke ranjang.
Udara di dalam kamar itu terasa makin panas bagi dua sejoli yang sedang terbakar ga*- irah. Des sa- han demi des sa- han saling bersautan, bersamaan dengan suara khas per cintaan. Meski pelan, tapi gerakan Shaka tetap konsisten dan dalam. Permainan itu mampu menciptakan sensasi luar biasa pada keduanya. Terlebih kegiatan panas ini terjadi setelah cukup lama tidak melakukannya.
"Sakit.?" Shaka menjadi panik melihat raut wajah Jihan yang disertai lengu-han panjang seperti menahan sakit. Shaka khawatir dia terlalu dalam mendorongnya saat mencapai pun cak.
Jihan menggeleng. Bagaimana mungkin dia merasakan sakit saat ikut mendapatkan pun cak juga, bahkan ini yang kedua kalinya bagi Jihan.
Shaka baru bernafas lega begitu tau Jihan baik-baik saja. Pria itu kemudian berguling ke samping dengan sisa-sisa keringat yang membasahi tubuh atletisnya.
"Thank you,," Shaka mengcup pucuk kepala Jihan dan menutup tubuh polos mereka dengan selimut tebal.
"Maaf,," Ucapan lirih Jihan cukup menarik perhatian Shaka. Dia sedikit membuat jarak supaya bisa menatap wajah Jihan.
"Untuk.?" Sebelah alis Shaka terangkat.
"Kegiatan yang sempat gagal waktu itu." Ujar Jihan dengan ekspresi bersalah. Shaka hanya mengulas senyum tipis. Dia sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi, sebab saat ini sudah mendapatkan apa yang dia mau.
"Sebenarnya saya butuh vitamin B setiap 2 hari sekali. Tapi kamu harus usahakan standby setiap hari, karna saya nggak bisa mengendalikan kalau keinginan itu sudah datang." Tutur Shaka.
Jihan jadi berdecak kesal.
"Benar-benar mesum." Cibirnya kemudian berbalik memunggungi Shaka. Shaka terkekeh kecil, dia menempelkan tubuhnya ke punggung Jihan dan memeluk dari belakang.
__ADS_1
"Kita istirahat dulu sebentar, masih ada babak kedua dan tiga." Ucapan Shaka membuat mata Jihan membelalak sempurna. Dia kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan suami mesumnya.