Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 75


__ADS_3

Sudah 1 bulan sejak Jihan melahirkan putri pertamanya, dia menjalani hari-harinya yang penuh bahagia sebagai seorang istri sekaligus Ibu. Kebahagiaan yang di rasakan Jihan tak lepas dari peran Shaka semua keluarganya. Perubahan sikap dan sifat Shaka yang cukup berpengaruh bagi kebahagiaan Jihan. Sejak putri mereka lahir ke dunia, Shaka mendadak jadi Ayah dan suami yang siaga dan peka. Kadar kasih sayang dan perhatiannya naik berkali-kali lipat dari sebelumnya.


Tak jarang Shaka sering menggantikan Jihan bergadang untuk menjaga putri mereka yang bangun tengah malam. Tidak peduli meski dia baru tidur 2 atau 3 jam, selagi mendengar tangisan putrinya, Shaka akan bangun dan membiarkan Jihan istirahat.


Seperti malam ini, Shaka yang baru pulang dari luar kota, langsung menggendong putrinya setelah membersihkan diri. Pria itu berdiri di tepi ranjang sambil menggendong putrinya. Sementara itu, Jihan masih duduk bersandar di tepi ranjang karna sejak tadi menyusui anaknya.


Shak menunduk, dia mendaratkan kecupan di kening Jihan dengan penuh sayang.


"Kamu tidur lagi saja, Flora biar aku yang jaga." Katanya seraya mengusap lembut sebelah pipi Jihan.


"Makasih Mas,," Jihan meraih tangan Shaka yang masih menempel di pipinya, lalu mengecup telapak tangan Shaka sambil menatap penuh binar kebahagiaan. Jihan pikir Shaka tidak akan berubah dan selamanya akan menjadi pria yang cuek dan tidak peka pada istrinya. Sekarang malah berubah 180 derajat. Gunung esnya sudah mencair.


"Kamu nggak bosan berterimakasih pada ku setiap hari.?" Shaka terkekeh kecil dan mencubit gemas dagu Jihan.


Jihan menggeleng, senyumnya merekah sempurna.


"Aku akan berterimakasih setiap hari seumur hidup. Mas Shaka nggak bosan." Ujarnya kemudian terkekeh.


"Bukankah sudah jadi tanggungjawab ku membantu menjaga dan mengurus Flo.? Dia hadir karna kerja keras kita berdua setia hari, jadi sudah seharusnya aku ikut merawat Flora." Ujar Shaka.


Jihan tertawa, dia geli mendengar istilah kerja keras.


"Ya, sangat keras sampai badan pegal-pegal." Sambung Jihan.


"Yang terpenting kepuasan dan hasilnya." Ucap Shaka, lalu menatap wajah putrinya.


"Lihat, dia sangat cantik seperti Mommynya. Aku harus ekstra menjaganya ketika dia beranjak remaja nanti. Dia bisa menjadi incaran banyak laki-laki." Ungkapnya dengan perasaan cemas dan tidak rela membayangkan anak gadisnya di dekati laki-laki.

__ADS_1


Jihan tertawa geli. Putri mereka bahkan baru genap berusia 1 bulan, tapi pikiran Shaka sudah sangat jauh.


"Butuh waktu 12 tahun lagi sampai Flora remaja, kenapa sudah berfikir sejauh itu. Mas Shaka bisa cepat tua kalau setiap hari mengkhawatirkan sesuatu yang masih lama terjadi." Komentar Jihan.


Shaka menghela nafas berat. Setiap hari dia selalu dipusingkan dengan pemikirannya seperti itu. Ada perasaan takut dan tidak rela jika suatu saat putrinya mulai dekat dengan laki-laki. Perasaan seperti itu mungkin tidak hanya di rasakan oleh Shaka. Bisa jadi semua ayah yang memiliki anak perempuan akan merasakan hal serupa.


...******...


3 bulan berlalu,,,


Flora tumbuh dengan baik dalam pengasuhan Jihan dan Shaka. Tanpa ada bantuan baby sitter, Jihan bisa merawat putrinya dengan baik. Tentunya setelah belajar dari Mama Dewi dan Mama Sonia.


Jihan sendiri yang bersedia merawat putrinya tanpa bantuan dari orang lain. Sebab dia ingin merasakan bagaimana perjuangan Mamanya ketika merawatnya dulu. Dari situ Jihan jadi semakin menghormati dan mencintai Mamanya.


Jihan meletakkan Flora di box bayi. Flora tertidur saat sedang minum asi. Jam 8 malam memang waktunya bayi mungil itu tidur.


"Ayo, kita juga harus tidur sebelum Flo bangun lagi dan mengajak kita bergadang." Ajak Jihan seraya bergeser menjauh dari box bayi supaya tidak mengganggu tidur nyenyak putrinya.


"Aku ada sesuatu yang ingin di bicarakan." Sambil merangkul pinggang Jihan, Shaka menggiringnya ke sofa.


"Soal apa.? Sepertinya sangat serius." Ujar Jihan yang melihat ekspresi wajah Shaka tampak serius.


Shaka tidak langsung menjawab, dia menyuruh Jihan untuk duduk lebih dulu.


"Soal Galih. Orang suruhan ku sudah menemukan keberadaannya." Tutur Shaka. Setelah hampir 1 tahun melakukan pencarian, Shaka baru bisa melacak keberadaan Om Jihan yang sudah menghilang bertahun-tahun.


Mata Jihan tampak berkaca-kaca. Belum ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya, namun bibirnya bergetar menahan tangis.

__ADS_1


"Dia tinggal di Osaka. Bekerja di salah satu perusahaan besar. Hidupnya baik-baik saja." Jelas Shaka.


Jihan menghambur ke pelukan Shaka dengan tangis yang tidak bisa dibendung lagi.


"Apa aku boleh pergi menemuinya.?" Tanya Jihan di sela isak tangisnya. Perasaannya sedang campur aduk saat ini, antara senang dan kecewa pada Omnya karna tidak berusaha untuk kembali, padahal kehidupannya baik-baik saja.


"Tentu saja. Kita akan pergi bersama. Tapi ada satu hal yang harus kamu tau,," Shaka menggantungkan ucapannya, membuta Jihan penasaran dan segera melepaskan lekukannya untuk menatap Shaka.


"Ada apa.?" Tanya Jihan cemas. Seketika jantungnya berdetak kencang saat melihat raut wajah Shaka semakin serius dan tampak ragu untuk bicara. Seolah ada hal buruk yang akan disampaikan oleh Shaka.


...*******...


New York,,,


Seorang wanita paruh baya tengah menangis di samping ranjang pasien, di salah satu rumah sakit besar di kota New York. Wanita itu menangisi keadaan putrinya yang terbaring lemah. Sejak putrinya positif hamil, sudah 3 kali bolak-balik di rawat karna kondisinya lemah.


"Seandainya waktu bisa diputar, Vie nggak akan melakukan hal sebodoh itu. Maafkan Vie, Mam." Ucapnya dengan tangis yang tak kalah pilu dari Mamanya.


"Maaf karna Vie memilih mempertahankan anak ini,," Sambungnya. Tangis Vierra semakin pecah. Dia sempat berada di antara pilihan yang sulit, tapi pada akhirnya memilih untuk mempertahankan janin dalam kandungannya.


"Mama memang terluka dengan perbuatan kamu, tapi Mama lebih terluka melihat kondisi kamu seperti ini. Kamu telah memilih kehidupan yang rumit untuk di jalani." Tutur Mama Mira. Air matanya semakin mengalir deras. Hati seorang Ibu pasti akan terluka ketika menerima kenyataan jika anak perempuannya hamil tanpa ada ikatan pernikahan dan tidak mau di nikahkan dengan ayah dari anak yang dikandungnya.


Alih-alih memberi tau dan minta untuk di nikahi, Vierra malah sengaja ingin menghilang dari kehidupan ayah dari anaknya.


"Lihat Vie, kamu bukan hanya mengorbankan masa depan, tapi mempertaruhkan nyawa sendiri."


Vierra tidak menjawab lagi, dia malah larut dalam tangisnya dengan perasaan yang berkecambuk. Terkadang dia memang menyesal atas perbuatannya beberapa bulan lalu, namun kehadiran anak dalam kandungannya membuat Vierra bersyukur. Sebab dia bisa memiliki bagian dari laki-laki yang dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2