
Ketika suasana hati dan pikiran sedang berkecambuk, dinginnya angin malam di sertai hujan deras tak membuat badan Juna menggigil. Walaupun sudah hampir 3 jam dia duduk di teras rumah. Sibuk bergulat dengan pikirannya. Sudah 2 malam Juna kesulitan tidur. Pikirannya melayang jauh, bertanya-tanya tentang keadaan dan keberadaan Vierra yang entah dimana.
Sudah lebih 4 bulan berlalu sejak Vierra meninggalkan negara ini, Juna tak mendengar sedikitpun kabar tentangnya. Tidak ada petunjuk yang bisa membawa Juna menemukan keberadaan Vierra dan keluarganya. Mereka benar-benar menghilang tanpa jejak.
Terakhir kali Juna juga meminta bantuan Shaka untuk mencari keberadaan Vierra, namun hasilnya nihil. Tidak ada data penerbangan atas nama Vierra dan keluarganya di semua bandara. Shaka sempat memberi tau Juna, bahwa ada kemungkinan keluarga Vierra pergi menggunakan jet pribadi yang datanya sengaja tidak dicantumkan dalam daftar penerbangan. Tidak heran kalau keberadaan mereka sulit di temukan.
"Apa kamu sedang mengandung anakku.? Kenapa firasatku seperti itu." Gumam Juna lirih. Hampir setiap hari Juna memikirkan keadaan Vierra seandainya gadis itu mengandung anaknya.
Insting Juna ternyata cukup kuat, atau bisa juga karna ikatan batin. Kenyataannya Vierra memang sedang mengandung darah dagingnya. Wanita 20 tahun itu sedang berjuang mempertahankan anaknya. Tidak peduli meski kondisinya cukup buruk sejak hamil.
...*******...
Di ruangan VIP rawat inap, Vierra tengah berbaring menyamping menghadap dinding kaca. Dia memunggungi Mamanya yang duduk di samping ranjang pasien. Vierra pura-pura tidur ketika Mama masuk ke dalam ruangannya.
"Vie, sudah waktunya makan siang." Ujar Mama Mira pelan. Dia mengusap punggung putrinya, bermaksud membangunkan Vierra yang dia pikir sedang tidur.
Vierra menggeliat kecil, dia berbalik badan setelah memastikan tidak ada sisa air mata di wajahnya. Air mata yang sempat membanjiri wajahnya karna merasa tersiksa ketika merindukan seseorang.
"Sini Mama bantu,," Mama Mira membantu Vierra bangun untuk duduk dan bersandar pada kepala ranjang.
"Mama sudah makan.?" Tanya Vierra seraya menatap wajah Mamanya dengan hati yang perih. Vierra sangat menyesal, menyesal karna telah menyusahkan orang tuanya dan membuat mereka sibuk mengurusnya yang belakangan ini sering masuk rumah sakit.
Mama Mira menggeleng.
__ADS_1
"Kita makan sama-sama,," Sahutnya kemudian tersenyum lembut.
Mama Vierra mendadak berair kembali. Hatinya sangat sesak dan pada akhirnya tidak bisa membendung air matanya.
"Apa Vie menyusahkan Mama dan Papa.? Maaf kalau selama ini hanya menjadi beban untuk kalian." Ucapnya dengan air mata yang semakin mengucur deras.
Mama Mira menggeleng cepat, sekalipun dia harus mengurus Vierra yang kerap bolak-balik rumah sakit, tapi dia tidak pernah berfikir bahwa Vierra menyusahkannya. Justru nasib malang Vierra membuat Mama Mira ingin selalu ada untuk anak perempuan satu-satunya itu. Sebab sudah terlalu banyak Vierra merasakan penderitaan yang seharusnya tidak pernah terjadi padanya.
"Sayang, jangan pernah berfikir seperti itu lagi. Mama dan Papa justru berterimakasih karna kamu masih bisa bertahan sampai sekarang. Apa yang pernah menimpa kamu sejak dulu sampai sekarang, itu bukan sesuatu yang mudah, tapi kamu bisa melalui semuanya. Mama hanya ingin kamu tetap sehat dan bahagia." Mama Mira mengusap air mata Vierra dan menariknya dalam dekapan. Pada akhirnya mereka berdua menangis dengan perasaan yang rumit.
Vierra cukup keras kepala, Mama Mira sampai kesulitan membujuk putrinya itu untuk menemui ayah dari anak dalam kandungannya. Vierra selalu mengatakan ingin mengurusnya sendiri dan tidak mau terlibat dengan laki-laki itu lagi.
...*****...
Memasuki bulan ke 5 usia Flora, Shaka akhirnya memutuskan terbang ke Osaka bersama semua anggota keluarganya untuk menemui Om Galih sekaligus liburan. Sebab semenjak Jihan melahirkan, dia belum pernah memboyong Jihan dan putri mereka berlibur ke luar negeri. Paling-paling hanya ke puncak saja, atau ke pantai. Sekedar untuk menyenangkan Jihan agar tidak bosan selama mengurus Flora di rumah.
Saat ini mereka sudah berada di dalam pesawat. Shaka dan Jihan duduk bersebelahan. Di kursi belakang mereka ada Juna dan Mama Dewi. Lalu ada Mama Sonia dan Papa Mahesa di kursi depannya.
Sementara itu, Flora tampak tenang dalam pangkuan Shaka. Bayi mungil itu selalu lengket dengan Daddy.
"Sayang,,," Panggil Shaka lembut.
"Kenapa.?"
__ADS_1
Jihan menoleh, sebelah alisnya terangkat ketika menatap Shaka. Pria itu makin romantis setiap harinya. Tidak perlu di beri kode, tidak perlu di ajari, tapi sudah paham bagaimananya cara memperlakukan istri sekaligus Ibu dari anaknya. Jadi tidak heran kalau sekarang hubungan keduanya makin hangat.
"Ngga terasa Flora sudah besar saja. Rasanya baru kemarin aku pingsan saat melihat kamu melahirkan." Tutur Shaka sambil mengulum senyum geli. Kalau di ingat-ingat, dia masih suka tertawa membayangkan kejadian memalukan itu. Bahkan dokter dan para perawat yang menangani Jihan waktu melahirkan Flora, masih suka menyinggungnya ketika datang ke rumah sakit sekedar untuk mengecek kesehatan Flora dan Jihan secara berkala.
"Aku benar-benar kesal waktu itu. Gara-gara Mas pingsan, semua orang jadi sibuk mengurus tubuh besar kamu ini. Untung saja Flo sudah keluar." Sahut Jihan sedikit menggerutu.
Shaka terkekeh dan mengacak gemas pucuk kepala Jihan.
"Bagaimana kalau kita mengulang kejadian itu lagi.?" Ajaknya antusias.
Jihan sontak membulatkan matanya. Mengulang kejadian itu.? Apa artinya Shaka ingin melihat Jihan melahirkan lagi.?
Jihan langsung menangkap maksud ucapan Shaka. Dia kemudian menggeleng cepat.
"Yang benar saja, Flo baru masuk usia 5 bulan. Aku khawatir dia kurang perhatian karna harus berbagi orang tua dengan adiknya. Paling tidak tunggu dulu sampai usia Flo dua tahun. Dia harus cukup kasih sayang dari kita sebelum memiliki adik." Ungkap Jihan penuh kekhawatiran.
Dia dengan Juna saja beda usia 5 tahun. Tapi dulu merasa tersaingi ketika perhatian Mama dan Papanya harus terbagi dengan Juna. Padahal perlakuan kedua orang tuanya cukup adil. Mungkin karna saat itu Jihan masih kecil, cara berpikirnya tidak seperti orang dewasa. sekarang Jihan tidak mau hal seperti itu di rasakan oleh putrinya.
"Baiklah, aku ikut apa kata kamu saja." Shaka tampak pasrah dengan keputusan Jihan, walaupun dalam hati kecilnya sedikit kecewa. Tapi penjelasan Jihan cukup masuk akal, Flora benar-benar masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya tanpa harus berbagi.
"Maaf kalau keputusanku mengecewakan, tapi aku memikirkan dampak dan apa yang terbaik untuk tumbuh kembang Flo." Tutur Jihan. Dia bisa merasakan Shaka terlihat kecewa karna menolak untuk memiliki anak lagi dalam waktu dekat.
"Aku mengerti, keputusan kamu sudah tepat. Aku saja yang buru-buru mau punya anak lagi karna penasaran ingin melihat gambaran kita versi cowok." Ungkapnya kemudian tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baik, tunggu dulu sampai usia Flo dua tahun ya. Setelah itu kita bisa langsung progam supaya mendapatkan anak laki-laki." Kata Jihan antusias.
Keduanya kemudian tersenyum, Shaka sempat mendaratkan kecupan di bibir Jihan sebelum kembali fokus pada Flora yang aktif bergerak di pangkuannya. Mungkin iri melihat Daddy dan Mommy mesra-mesraan.