
Sesuai perintah Shaka, Jihan menutupi kabar kehamilan dari Mama dan Papa mertuanya. Meski sadar perintah suaminya cukup konyol, anehnya Jihan malah menurut saja. Seakan ikut mendukung niat Shaka untuk membalas perbuatan Mama Sonia.
"Apa aku cerita saja.?" Batin Jihan bingung. Dia mirik Mama mertuanya yang sedang menyantap makan malam.
Di samping Mama Sonia ada Papa Mahesa. Sementara itu, Shaka belum kembali sejak tadi siang. Ternyata masih ada urusan yang harus di selesaikan di tempat lain. Dan Jihan tertahan di sana karna tidak di ijinkan keluar dari rumah oleh Shaka.
Sampai mereka selesai makan, Jihan masih sibuk bergulat dengan pikiran. Dia dilema, antara ingin berpihak pada suaminya atau Mama mertua.
"Mama sebenarnya nggak setuju kalau kamu dan Shaka keluar dari rumah ini." Tutur Mama Sonia dengan gurat sendu. Sebagai orang tua yang hanya memiliki 2 orang anak, tentu Mama Sonia sangat berharap anak terakhirnya bisa tinggal bersama di rumahnya agar tidak kesepian. Terlebih Tasya sangat jarang datang ke rumah karna sering ikut suaminya ke luar kota ataupun luar negeri.
"Nanti setelah 3 bulan, tolong kamu bujuk Shaka supaya mau tinggal di rumah ini lagi ya. Mama kesepian kalau nggak ada kalian." Pintanya memohon.
"Iya Mah, nanti Jihan bantu bujuk Mas Shaka.".
Jihan langsung mengangguk menyanggupi. Dia mana tega melihat Mama mertuanya sedih begitu. Lagipula Mama mertuanya sangat baik, tinggal bersama mertua sepertinya bukan hal buruk bagi Jihan. Beda cerita kalau Mama mertuanya tidak biak. Jihan pasti akan berfikir seribu kali kalau diminta tinggal bersama mertua.
"Mama percaya kamu bisa membujuk Shaka." Mama Sonia mengulas senyum lebar.
"3 bulan bukan waktu yang singkat untuk saling mengenal satu sama lain, tapi Shaka sedikit kaku dan cuek. Tolong kamu maklumi ya. Mama nggak mau ada perceraian." Ucap Mama Sonia penuh harap.
Jihan mengangguk. Dia juga tidak punya pikiran untuk bercerai setelah mengetahui ada benih Shaka yang tumbuh di rahimnya. Jihan mana mau memisahkan anaknya dari Papa sultan. Karna semua Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tetap berada di samping Shaka adalah salah satu jalan untuk memberikan semua yang terbaik untuk anak mereka. Bisa hidup enak, tinggal di rumah mewah, fasilitas lengkap, mau apa tinggal tunjuk. Hartanya juga tidak akan habis 7 turunan sampai 7 tanjakan dan kelokan. Dijamin hidupnya makmur.
Bukannya matre dan hanya menilai segala sesuatu dari materi, namun Jihan mencoba bersikap realistis. Walaupun kata orang-orang uang tidak menjamin kebahagiaan, tapi faktanya kita bisa bahagia karna uang. Jihan merasa beruntung bisa menjadi istri Shaka dan menjadi menantu keluarga Mahesa.
...*******...
__ADS_1
Sampai pukul 10 malam, Shaka belum kembali ke rumah. Jihan sampai gusar, jangankan bisa tidur, hanya berbaring saja tidak betah. Dia sampai mondar-mandir di dalam kamar, kadang pergi ke balkon untuk melihat halaman depan dan berharap mobil Shaka datang.
"Astaga Jihan, ngapain juga kamu nungguin dia pulang.! Bagaimana kalau ternyata dia sedang bersenang-senang di luar sana.! Kamu hanya buang-buang waktu saja." Geurut Jihan mencibir dirinya sendiri karna merasa bodoh sudah menunggu Shaka pulang.
"Lebih baik tidur saja.!" Ujarnya dengan nada sewot. Dia beranjak dari kursi balkon dan kembali ke ranjang.
Tak berselang lama, pintu kamar di buka. Shaka masuk dengan penampilan yang sedikit berantakan. Lengan kemejanya di gulung sampai siku. 3 kancing paling atas juga di biarkan terbuka. Jasnya di biarkan menggantung di lengan kiri.
Jihan sempat menoleh sebentar, lalu berbalik memunggungi Shaka. Padahal sejak tadi gusar hanya karna menunggu Shaka, tapi giliran sudah di depan mata, Jihan terlihat enggan menyapa.
Shaka juga tidak peka, pria itu malah masuk ke kamar mandi tanpa menyapa Jihan lebih dulu. Jadilah Jihan semakin geram dan uring-uringan. Dia mengumpat kesal dalam hati gara-gara sikap cuek Shaka.
Janji cuka pergi 2 jam, ternyata malah sampai jam 10 malam baru pulang. Tidak memberi kabar, tidak menelpon. Begitu pulang malah diam seribu kata dengan wajah datar. Jangankan menyapa, melirik saja sepertinya tidak.
"Dari puluhan orang terkaya di negara ini, kenapa harus dia yang jadi suamiku.!" Gerutu Jihan pelan. Lama-lama geram sendiri. Dia sudah punya ekspektasi tinggi, mengira sikap Shaka akan berubah romantis setelah mengajaknya berumah tangga sungguhnya. Tapi realitanya Shaka tetaplah Shaka. Gunung esnya belum mencair seluruhnya.
"Kenapa belum tidur.?" Suara maskulin itu terdengar jelas di telinga Jihan, bersama dengan gerakan di atas ranjang. Shaka terlihat santai naik ke atas ranjang hanya memakai handuk. Jihan sampai terkejut ketika menoleh, sebab langsung di suguhkan dengan pemandangan indah yang mampu menggetarkan raga.
"Mas Shaka belum pakai baju, ngapain naik. Sana pakai baju dulu" Protes Jihan sambil bergeser menjaga jarak. Malu-malu tapi sebenarnya mau. Dia pura-pura saja menjauh, padahal tidak anak menolak kalau di sentuh. Habis mau bagaimana mana lagi kalau bentukan Shaka seperti itu, rugi kalau menolak. Terlebih statusnya sudah jelas mau dibawa kemana.
"Apa fungsinya pakai baju kalau endingnya di lepas juga." Jawab Shaka. Dia berbaring di belakang Jihan dan langsung memeluk dari belakang.
"Kebetulan kamu belum tidur, momennya sangat pas." Ucap Shaka lirih. Jihan malah memejamkan mata saat tangan Shaka bergerak ke atas. Baru begitu saja Jihan sudah terbawa suasana, di tambah aroma sabun yang menguar dari tubuh Shaka karna baru saja selsai mandi. Aromanya cukup menenangkan.
"Sudah waktunya saya ganti oli," Bisiknya. Jihan tidak berkutik lagi ketika tubuh bagian depannya di beri rangsangan oleh Shaka.
__ADS_1
Memang dasar Jihan, awalnya saja pura-pura tidak mau, sekarang malah pasrah saat di telanjangi Shaka.
"Mas,,,!" Pekik Jihan, dia menahan dada Shaka dengan satu tangannya. Shaka yang hampir melakukan penyatuan, akhirnya jadi menatap Jihan sambil mengerutkan dahi.
"Kenapa.?" Tanyanya cemas, khawatir Jihan kenapa-napa karna posisinya sedang hamil. Walaupun belum sempat melakukan penyatuan.
"Saya mau makan es krim strawberry." Jawaban Jihan membuat Shaka melongo. Dalam posisi sama-sama polos dan hampir saja melakukan penyatuan, bisa-bisanya Jihan ingin makan es krim strawberry. Bagaimana Shaka tidak bengong.
"Nanti saya ambilkan di dapur, kita lanjut dulu, saya sudah di ujung." Jawab Shaka seraya menekan di bawah sana. Namun, Jihan kembali menahannya.
"Tapi saya mau makan sekarang." Ujar Jihan dengan wajah memelas.
"Jihan, kamu sadar kan kita sedang apa.? Bisa-bisanya kamu malah minta makan es krim." Protes Shaka kesal.
"Saya nggak mau lanjut kalau belum makan es krim,," Ancam Jihan. Dia mendorong Shaka sampai menyingkir dari atas tubuhnya. Jihan juga buru-buru bangun dan memakai bajunya lagi tanpa merasa kasihan pada Shaka yang kepalanya nyut-nyutan karna gagal ganti oli.
Shaka hampir saja memarahi Jihan karna sudah memakai baju lagi, tapi saat ingat bahwa istrinya sedang hamil, Shaka akhirnya menahan diri.
Untung saja dia sudah mengerti banyak hal tentang Ibu hamil, ketika memeriksakan kehamilan bersama Jihan di rumah sakit.
"Anak itu sepertinya berpihak pada Mommynya." Lirih Shaka. Entah dia harus jengkel atau senang. Ingin punya anak tapi malah sudah dibuat susah sebelum dilahirkan.
"Kamu di kamar saja, biar saya yang turun." Dengan berat hati, Shaka akhirnya memakai baju dan pergi ke dapur untuk mengambilkan es krim strawberry.
Mata Jihan langsung berbinar, dia kemudian duduk di sofa dan menunggu Shaka kembali.
__ADS_1
Malam itupun gagal lagi ganti oli. Nasib baik tidak berpihak pada Shaka.