Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 79


__ADS_3

Hari itu juga Galih memanggil tenaga kesehatan dari salah satu rumah sakit untuk datang ke apartemennya dan mengambil sample darah serta rambutnya dengan Mama Dewi guna dilakukan test DNA. Bukti dan cerita yang di sampaikan Jihan sebenarnya sudah membuat Galih percaya bahwa mereka adalah anggota keluarganya. Namun untuk lebih memastikan lagi supaya kedepannya tidak ada keraguan, tes DNA memang perlu di lakukan. Lagipula semua orang juga setuju jika lakukan tes DNA.


"Hasilnya akan keluar dalam waktu tiga hari." Ucap petugas medis yang barus selesai mengambil sample tersebut.


"Itu terlalu lama. Saya tunggu hasilnya maksimal besok pagi." Tegas Galih tanpa mau di negosiasi lagi.


Petugas medis itu tidak bisa berkutik. Sulit untuk membantah perintah dari anak seorang direktur rumah sakit tempatnya bekerja.


"Baik, saya akan usahakan." Jawabnya pasrah. Pria itu kemudian segera pamit dari sana karna harus buru-buru membawa sample itu ke rumah sakit untuk test.


masih di ruang tamu yang sama, Mama Dewi dan Juna sedang melakukan pendekatan dengan Galih. Juna yang membantu Mama Dewi berkomunikasi dengan Galih karna tidak terlalu fasih bahasa Inggris.


Sementara itu di kursi yang berbeda, Jihan hanya menyimak interaksi mereka dari kejauhan. Sepertinya proses pendekatan itu cukup kaku, mengingat kepribadian Omnya yang pendiam sejak dulu. Namun setelah 5 tahun berlalu, ada sedikit perubahan dari sikapnya. Omnya sudah banyak bicara dengan aura yang lebih berwibawa.


"Wanita itu menguping. Sebenarnya dia siapa.? Selama orang-orang ku menemukan keberadaan Galih, wanita itu belum pernah muncul di sekitarnya." Bisik Shaka pada istrinya. Tatapan mata Shaka tertuju ke salah satu pintu ruangan yang sedikit terbuka. Di sana terlihat wanita tadi sedang mengintip ke arah ruang tamu.


Jihan langsung mengikuti arah tatapan Shaka. Wanita itu tersenyum kikuk saat Jihan terang-terangan menatap dan tersenyum ke arahnya.


"Apa mungkin dia pacar Om Galih.? Dia terlihat sangat akrab ketika bicara pada Om Galih." Jihan juga sama penasarannya dengan Shaka. Dari gestur dan tatapan wanita itu ketika bicara dengan Galih, Jihan bisa merasakan bahwa ada hubungan spesial di antara mereka. Namun yang membuat Jihan heran, kenapa wanita itu di larang ikut bergabung dengannya di ruang tamu. Bukankah lebih bagus kalau wanita itu juga mengetahui bahwa Galih masih punya keluarga.


"Sebenarnya nama Galih sangat asing untuk saya. Panggil David saja." Galih menginterupsi Juna dan Mama Dewi yang berulang kali menyebut nama Galih. Selama lebih kurang 5 tahun, dia memang hanya mengandal dirinya sebagai David. Di panggil dengan sebutan Galih membuat David kurang nyaman.


"Baik, Mba akan panggil kamu David mulai sekarang. Nama nggak terlalu penting saat ini, yang terpenting kita bisa dipertemukan lagi." Ujar Mama Dewi yang masih diselimuti perasaan bahagia dan haru.


Juna menyampaikan ucapan Mamanya dalam bahasa Inggris pada David. Pria itu tampak mengukir senyum teduh seraya mengangguk kecil.


Siang itu mereka memutuskan pulang dari apartemen David, sebab David sudah ada janji dengan seseorang yang tidak bisa di batalkan. Mama Dewi tampak sedih ketika pamit pada David. Untungnya David cukup pengertian dan mengijinkan Mama Dewi serta Juna datang lagi nanti malam untuk menginap di apartemennya.

__ADS_1


Jihan juga di perbolehkan menginap dengan suami dan anaknya, namun Shaka menolak jika harus menginap di sana.


...******...


Shaka membawa mereka ke salah satu restoran mewah di Jepang untuk makan siang bersama. Di sana Mama Sonia dan Papa Mahesa sudah menunggu sekitar 20 menit yang lalu. Mereka lantas bergabung di ruangan VIP yang sengaja di pesan Papa Mahesa agar bisa menampung banyak orang dan bisa leluasa mengobrol karna ruangannya terpisah dari pengunjung lain.


"Apa Galih bisa mengingat kalian.?" Tanya Mama Sonia antusias.


Raut wajah Mama Dewi seketika sendu. Jelas ada perasaan sedih dalam lubuk hatinya karna tidak di kenali oleh adik kandung sendiri.


"Bicaranya nanti saja setelah makan siang. Aku sudah lapar." Ujar Shaka. Rupanya dia bisa membaca situasi yang tidak menyenangkan itu.


Mama Sonia langsung paham maksud putranya, dia kemudian mempersilahkan semua orang untuk mengambil makanan yang sudah di pesan.


...******...


Malam itu setelah seharian jalan-jalan bersama seluruh anggota keluarga, mereka kembali ke apartemen yang disewa Shaka. Kecuali Juna dan Mama Dewi. Karna mereka berdua sudah di antar ke apartemen David untuk menginap semalam.


"Mandikan Flora dulu. Baju dan air hangatnya biar aku yang siapkan." Kata Shaka seraya masuk ke dalam walk in closet.


Ayah satu anak itu dengan cekatan mengambil baju ganti Flora dan perlengkapan lainnya dari lemari. Setelah itu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Jihan mengulum senyum sejak tadi ketika memperhatikan Shaka sibuk menyiapkan keperluan anak mereka.


"Daddy sangat pengertian,," Kata Jihan pada Flora yang sudah siap untuk dibawa ke kamar mandi.


Jihan berjongkok di samping bathtub dan memasukan Flora ke dalam air hangat. Shaka berdiri di samping Jihan dan sedikit menunduk untuk ikut memandikan putrinya.

__ADS_1


"Kamu sekalian mandi saja, sini biar aku mandikan juga." Ujar Shaka sambil mengulum senyum penuh arti. Jihan mencubit lengan Shaka yang sedang menyabuni punggung Flora.


"Jangan berbuat mesum di depan putri kita. Matanya bisa ternodai." Sahut Jihan. Shaka hanya terkekeh kecil, lalu melanjutkan memandikan Flora sampai selesai.


Flora sudah cantik dan wangi. Bayi mungil itu di baringkan di atas ranjang, tangan dan kakinya bergerak aktif sambil memandangi kedua orang tuanya seolah mengajak mereka untuk bermain.


Shaka mencubit gemas pipi Flora dan bicara padanya. Bayi cantik itu merespon dengan ocehan, tangannya semakin aktif bergerak.


"Mas Shaka mau mandi.? Biar aku yang jagain Flo."


"Kamu duluan saja. Flo masih ingin bercanda." Tolak Shaka.


Jihan bisa melihat putrinya terkekeh karna Shaka terus mengajaknya bercanda.


"Ya sudah, aku duluan." Jihan beranjak dari tepi ranjang dan masuk ke kamar mandi. Dia membiarkan ayah dan anak itu bercanda sampai tawa Flora terdengar dari kamar mandi.


"Putri Daddy yang cantik, bagaimana kalau kamu bercanda sama Oma. Daddy harus mengawasi Mommy mu agar baik-baik saja di kamar mandi." Gumam Shaka sambil menggendong Flora keluar dari kamar.


Pada saat yang bersamaan, Mama Sonia juga keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur. Shaka buru-buru menyusulnya. Dia tersenyum senang karna melihat Mamanya sudah berganti baju, yang artinya sudah mandi. Jadi dia bisa menitipkan Flora padanya.


Shaka menghampiri Mamanya yang baru selesai minum.


"Mah,, titip Flo dulu sebentar. Aku akan pekerjaan mendesak dan Jihan baru saja masuk ke kamar mandi." Ujar Shaka sambil memberikan Flora dan botol susunya pada Mama Sonia.


"Urusan apa yang mendesak.? Memandikan istrimu.?!" Cibir Mama Sonia yang sudah hapal watak putranya.


Shaka tidak menjawab, dia malah mengusap pucuk Flora.

__ADS_1


"Kamu sama Oma dulu ya, tidur dengan Oma juga boleh. Daddy ada urusan penting." Ujarnya kemudian buru-buru pergi karna melihat tangan Mama Sonia terangkat seperti akan memukulnya.


"Dasar anak kurang ajar.!" Gerutu Mama Sonia.


__ADS_2