Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 81


__ADS_3

Juna terpaku, langkahnya terhenti ketika pandangan matanya menangkap sosok wanita yang telah memenuhi pikirannya selama 5 bulan terakhir, sejak pergi dari kehidupannya tanpa meninggalkan jejak. 5 bulan tanpa berhenti mencari, menghubungi siapapun yang pernah mengenalnya. Tak hanya itu saja, semua media sosial bahkan sudah Juna jelajahi untuk mencari informasi tentang keluarga Vierra. Namun hasilnya nihil.


Kini setelah 5 bulan berlalu di saat Juna mulai merasa lelah dan putus atas, takdir seolah berpihak padanya karna di pertemukan dengan Vierra tanpa di duga.


Masih terpaku dan menatap tak percaya, Juna tak sedikitpun mengalihkan pandangannya pada sosok wanita cantik itu. Hingga beberapa detik berlalu, pandangan Juna teralihkan ketika Vierra mengusap perutnya. Saat itu Juna baru menyadari bahwa ada yang berbeda dari Vierra. Ya, mantan kekasihnya memiliki perut yang besar.


Di tempatnya berdiri, Vierra tidak menyadari bahwa ada Juna yang terpaku dengan keberadaan. Vierra terlalu fokus pada bayi dalam kandungannya yang tiba-tiba bergerak aktif setelah keluar dari kamar mandi.


"Kamu sepertinya sedang happy ya. Kuat sekali gerakan kamu." Gumam Vierra seraya mengusap-usap perut besarnya. Senyumnya mengembang ketika mengajak bayinya berbicara.


Vierra lantas duduk di lorong toilet untuk menunggu Xander yang baru saja masuk ke toilet laki-laki. Kakaknya itu mendadak sakit perut ketika mereka akan pergi dari toilet.


Melihat Vierra mengusap perut dan terlihat berbicara sendiri, Juna seolah tersadar akan kondisi Vierra yang tengah hamil. Tak menyia-nyiakan waktu, Juna lantas menghampiri Vierra dengan perasaan yang berkecambuk.


"Vie,," Panggil Juna dengan suara tercekat di tenggorokan. Ketika 5 bulan memendam rasa rindu yang menggebu dan bahagia karna akhirnya dipertemukan kembali, Juna tampak kesulitan mengontrol perasaannya.


Vierra mengangkat wajah ketika seseorang memanggil dan berdiri di depannya. Sungguh, Vierra terkejut sampai tidak bisa bersuara ketika mendapat ayah dari bayi dalam kandungannya tengah berdiri di hadapannya.


Tatapan mata keduanya saling bertemu, ada kerinduan bercampur bahagia yang tersirat di mata mereka. Namun Vierra berusaha menepisnya, sebab dia sendiri yang telah memilih jalan hidupnya seperti ini. Menghilang dari kehidupan Juna.


Vierra beranjak dari duduknya, dia ingin menghindari Juna dengan pergi dari sana. Namun Juna lebih dulu menahan tangan Vierra.


"Apa dia anakku.?" Tanya Juna tanpa melepaskan tangan Vierra dan mengalihkan tatapannya pada perut besar Vierra.


Vierra mengatupkan bibirnya rapat-rapat karna hampir saja menangis. Sungguh hatinya merasa teriris. Pertemuannya dengan Juna justru membuatnya kembali di terpa penyesalan. Penyesalan atas keputusannya ketika menginginkan tidur bersama Juna.

__ADS_1


"Lepas, dia bukan anak kamu." Vierra menarik paksa tangannya dari genggaman Juna. Matanya sudah memerah menahan tangis. Dia merasakan sesak di dadanya karna mengatakan hal yang berlawanan dengan kata hatinya.


Juna tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya atas jawaban Vierra yang tidak sesuai harapannya.


"Jangan bohong Vie, kita pernah melakukannya sebelum kamu pergi dan membuatku hampir menyerah karna mencari.!" Serunya dengan kilat kekecewaan di matanya.


"Kalau bukan anakku, lalu anak siapa.?!" Tanyanya frustasi.


"Anak saya.!" Tegasnya.


Xander berjalan mendekat dan berdiri di samping Vierra seraya meraih tangannya untuk di gandeng.


Juna semakin frustasi mendapati kenyataan bahwa ada pria lain di samping Vierra yang mengaku sebagai ayah dari anak dalam kandungan Vierra.


Vierra sempat terkejut atas pengakuan Kakaknya, namun di sisi lain, dia merasa lega karna Kakaknya bisa membebaskan dia dari situasi sulit itu.


Vierra mengangguk, dia tidak menolak ketika Xander membawanya pergi dari hadapan Juna. Meski begitu, Vierra sebenarnya tidak tega meninggalkan Juna lagi dengan raut wajah kecewa seperti itu.


"Bagaimana aku bisa tertipu dengan kepolosan wanita sepertimu.!" Seru Juna penuh amarah. Hatinya tak hanya merasakan kecewa, tapi kemarahan yang mampu membakar hatinya. Selama 5 bulan ini dia hidup dalam bayang-bayang perasaan bersalah pada Vierra, namun kenyataannya Vierra justru hidup bahagia dengan pria lain.


Vierra menghentikan langkah, perkataan Juna mampu menampar keegoisannya. Namun Vierra enggan membuat Juna bertanggungjawab atas kesalahan yang tidak Juna berbuat.


"Kamu mencintainya, kenapa memaksa pergi dan pura-pura kuat seperti ini." Lirih Xander. Dia sebenarnya tidak bermaksud mengelabuhi Juna dengan omong kosongnya. Xander melakukan semua ini hanya untuk menghargai keputusan yang telah di ambil oleh adiknya.


Hamil di usia muda tanpa ikatan pernikahan dan memilih untuk menanggung sendiri, tentu semua itu bukan keputusan main-main. Banyak hal yang pastinya sudah dipertimbangkan matang-matang oleh Vierra.

__ADS_1


"Vie malu sama Juna. Dia akan bersama dengan wanita baik-baik" Jawabnya dengan seulas senyum perih. Dia kemudian kembali melangkah tanpa memperdulikan perkataan Juna.


Kedua tangan Juna mengepal kuat, menatap dua orang yang berjalan menjauh dengan penuh kebencian. Harapan dan perasaan cintanya telah di patahkan oleh Vierra. Setelah ini, Juna mungkin akan mengenang Vierra dengan seribu luka yang di torehkan pada hatinya.


"Aku terlalu bodoh menyia-nyiakan waktu untuk mencari dan memikirkannya.!" Geram Juna lirih.


...******...


"Sayang,, cepat kesini.!! Flo bisa merangkak.!!" Shaka berteriak dari kamar Flora. Suaranya sampai terdengar ke kamar sebelah, dimana Jihan sedang memakai baju karna baru selesai mandi.


Jihan ingin menyahuti, namun dia sadar suaranya tidak cukup kencang untuk bisa sampai ke kamar putrinya. Jadi dia hanya mempercepat memakai baju agar bisa segera pergi ke kamar Flora dan melihat putrinya itu merangkak.


"Putri Daddy hebat sekali sudah bisa merangkak. Ayo sini, lebih cepat." Seru Shaka. Dia kembali fokus pada Flora setelah berteriak memanggil Jihan.


Flora terkekeh, dia senang ketika melihat reaksi Daddynya yang terlalu ekspresif. Flora pikir, Daddynya sedang mengajak bercanda. Dengan penuh semangat, Flora merangkak perlahan menghampiri Shaka yang justru mundur perlahan.


"Mas,," Jihan menyelonong masuk dan terkejut melihat putrinya bisa merangkak. Dia bergabung di sebelah Shaka dan ikut merentangkan kedua tangannya.


"Dia pintar sekali. Aku hanya mengajarinya satu kali, tapi Flo langsung bisa mengikutinya." Tutur Shaka.


Jihan langsung menoleh dengan ekspresi melongo.


"Mas serius tadi merangkak." Tanyanya sambil membayangkan tubuh besar Shaka merangkak seperti bayi. Hanya membayangkan saja Jihan ingin tertawa. Sebab selama ini Shaka menjadi Daddy yang kalem meskipun perlakuannya sangat hangat pada Flora.


"Sayang,, kamu ragu aku bisa merangkak.? Bukannya dengan posisi merangkak aku bisa membuat kamu men de sah." Seloroh Shaka. Jihan memutar bola matanya malas. Suaminya itu terlalu mesum. Apapun bisa diarahkan ke urusan ranjang.

__ADS_1


"Ada Flo di sini, tolong kurangi kadar kemesumannya." Protes Jihan.


Shaka hanya terkekeh kecil dan mencubit hidung Jihan. Keduanya sampai tidak sadar kalau Flo berbelok arah ke pintu keluar. Saat keduanya sadar, Flora hampir keluar dari kamar. Alhasil mereka panik mengejar Flora.


__ADS_2