Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 45


__ADS_3

Jihan berjalan di samping Shaka memasuki hotel. Wanita itu hanya bisa membatin dalam hati ketika mengetahui Shaka dan kliennya mengadakan pertemuan di salah satu kamar hotel bintang 5. Sultan memang beda, untuk sekedar membahas pekerjaan saja harus menyewa kamar hotel yang harga sewanya tidak murah.


Begitu sampai di meja resepsionis, Shaka langsung diberi akses card kamar hotel. Pria itu tidak perlu repot mengurus sendiri karna sudah di urus oleh asisten pribadinya.


"Klien semuanya laki-laki, jadi kamu tunggu di kamar saja sampai meeting selesai." Ujar Shaka sembari menempelkan akses card pada pintu kamar hotel. Rupanya kamar yg di pilih Shaka jenis VIP yang dilengkapi ruang meeting.


Jihan mengangguk tanpa protes. Lagipula untuk apa juga dia menemani Shaka sampai ikut ke ruang meeting. Klien Shaka pasti bukan orang sembarangan, jadi Jihan takut mengganggu jika dia ikut ke ruangan.


Selesai menutup pintu, Shaka membawa Jihan ke kamar tidur. Kamar hotel yang luas itu terdiri dari beberapa ruangan kecil di dalamnya.


"Tidur saja kalau masih ngantuk. Semalam kamu bergadang sampai jam 2, pasti belum puas tidurnya." Kata Shaka sambil melepas jas dan meletakkannya di senderan kursi. Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang empuk.


Jihan berdecak pelan karna ucapan Shaka, namun dia mengekori Shaka dan ikut berbaring di sebelahnya.


"Lagian di bilang sudah malah masih lanjut. Badan saya jadi pegal-pegal." Keluh Jihan. Selain kurang tidur, Jihan juga kecapean karna di ajak bergulat sampai pagi.


"Mau di pijat.?" Tawar Shaka sembari mengubah posisi menjadi duduk di tepi ranjang.


"Nggak, makasih. Yang ada malah di ajak gulat lagi." Tolak Jihan. Bukan apa-apa, tapi banyak temannya yang sudah menikah dan sering menceritakan hal semacam ini. Suami menawarkan diri untuk memijat istrinya, tapi endingnya malah bergulat. Rasa lelahnya bukannya hilang, yang ada makin tidak berdaya.


"20 menit lagi klien saya sampai, mana sempat bergulat dulu." Sahut Shaka. 20 menit tidak akan cukup untuk ber cinta. Shaka paling tidak bisa buru-buru kalau ber cinta. Dia tipe pria yang benar-benar menikmati setiap sentuhan dalam permainannya.


"Cepat balik badan.!" Shaka mendorong bahu Jihan dan membuat tubuh istrinya itu menjadi tengkurap.


Jihan tidak menolak lagi karna melihat sikap dan ucapan Shaka yang terlihat sangat meyakinkan.


"Pak Shaka pernah kursus pijat ya.? Pijatannya enak." Puji Jihan jujur. Saking enaknya, Jihan sampai memejamkan mata dan menikmati pijatan tangan Shaka di punggungnya.


"Kamu bisa nggak jangan panggil saya kayak gitu lagi. Pak, Bapak.! Saya berasa jadi Bapak kamu." Protes Shaka.


"Jangan pas ada orang lain saja kamu panggil Mas." Ujarnya yang belum puas memprotes Jihan.

__ADS_1


"Udah kebiasaan panggil Pak waktu lagi berduaan. Kalau ganti panggilan berasa nggak enak." Jawab Jihan. Lidahnya belum terbiasa memanggil Mas. Dia juga terpaksa memanggil seperti itu di depan orang-orang agar mereka tidak curiga.


"Kalau nggak enak, nanti kamu saya bikin enak. Tapi ganti panggilannya, jangan Pak." Ujar Shaka dengan wajah datarnya.


"Mesum.!" Cibir Jihan kemudian memasang wajah cemberut.


Shaka terkekeh geli, setelah itu fokus memijat sampai Jihan ketiduran. Saking enaknya pijatan Shaka, mungkin juga karna Jihan terlalu lelah setelah dibuat bergadang semalaman.


Shaka lantas menarik selimut untuk menutupi tubuh Jihan. Pria itu memandangi wajah Jihan cukup lama. Jelas ada perasaan tak biasa yang terpancar dari tatapannya terhadap Jihan, namun gengsi dan egonya terlalu tinggi, membuat Shaka memendamnya tanpa mau mengungkapkan langsung bagaimana perasaannya.


Selama ini Shaka hanya berani memberi kode dan berharap Jihan bisa memahami maksud dari kode yang dia berikan. Padahal tidak semua wanita peka dengan kode di sekitarnya. Ada tipe wanita yang baru paham ketika di jelaskan secara langsung. Dan Jihan adalah salah satunya.


"Bisa-bisanya aku tertarik dengan wanita seperti ini." Gumam Shaka lirih. Dia bingung sendiri kenapa begitu cepat terpikat dengan wanita sederhana seperti Jihan. Sebab tipe ideal Shaka adalah wanita yang elegant, lemah lembut dan cerdas tentunya. Bukan wanita bar-bar, cerewet dan pemberani seperti Jihan.


...******...


Hampir 2 jam Shaka berada di ruang meeting bersama kliennya yang berasal dari luar negeri. Total ada 5 orang yang ada di sana, termasuk Shaka dan asisten pribadinya. Mereka membahas hal penting yang berkaitan dengan bisnis untuk menjalin kerja sama.


Selama meeting berlangsung, Shaka terlihat gusar. Leon sampai heran melihat Bosnya terlihat kurang fokus. Untung saja tidak mempengaruhi apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Dan begitu meeting selsai, Shaka mempersilahkan mereka untuk pergi. Pria itu beralasan ada hal penting yang masih harus dia selesaikan.


"Baik Pak, saya permisi." Leon bergegas pergi.


Detik itu juga Shaka langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia buru-buru ke kamar tidur untuk memastikan keadaan Jihan yang sudah 2 jam dia kunci dari luar.


Saat membuka kamar tidur, Shaka melihat Jihan sudah bangun dan sekarang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi dengan banyak cemilan di atas meja.


Shaka mengendurkan dasi, lalu melepas jasnya sambil berjalan menghampiri Jihan. Wanita yang sedang asik menonton film itu hanya menoleh sekilas.


"Sudah selesai meetingnya.?" Tanya Jihan tanpa menatap Shaka.


"Hemm,," Shaka menjatuhkan pantat di samping Jihan, lalu mengambil minuman kaleng milik Jihan di atas meja. Jihan diam saja ketika minuman bekas miliknya di habiskan oleh Shaka.

__ADS_1


"Pulangnya nanti dulu ya, filmnya belum selesai." Pinta Jihan. Dia kelihatan asik menonton film action.


Shaka dibuat geleng-geleng kepala lantaran Jihan terlihat santai melihat adegan berkelahi dan saling tembak. Biasanya wanita paling tidak tahan melihat adegan seperti itu.


"Menginap juga nggak masalah kalau kamu mau." Sahut Shaka. Jihan menggeleng tidak mau.


Hening, hanya ada suara film yang sedang Jihan tonton. Sementara itu, Shaka malah sibuk memainkan ponselnya.


"Ckk,, endingnya mengecewakan." Gerutu Jihan seraya meraih remote dan mematikan televisi.


Shaka mengalihkan fokusnya pada Jihan, malah sampai meletakkan ponselnya diatas meja.


"Mau ending yang memuaskan.?" Tawar Shaka. Mata Jihan langsung membulat sempurna, dia langsung tau kemana arah pikiran Shaka.


"Ayo pulang, saya sudah janji sama Mama Sonia mau pergi ke salon nanti sore." Jihan berdiri dari duduknya dan sibuk membereskan makanan di atas meja untuk di simpan lagi pada tempatnya.


"Besok saja ke salonnya. Besok kan masih libur." Ujar Shaka seraya menahan pergelangan tangan Jihan.


"Tapi aku sudah bilang mau,,"


"Nanti biar saya yang bicara sama Mama, beliau pasti mengerti." Jawab Shaka santai. Kini bukan hanya tangan Jihan yang di tahan, pinggang Jihan juga di tahan dan di tarik hingga duduk di atas pangkuannya.


"Ya ampun Pak Shaka,,!" Pekik Jihan kaget.


"Berhenti panggil saya Pak.! panggil Shaka juga nggak masalah, asal saat sedang berdua saja." Ujarnya dengan memberikan tatapan dalam yang intens. Jihan bisa membaca bahaya yang sedang mengintainya saat ini. Dia sudah tau isi kepala Shaka.


...******...


Judul Novel : Mina Love Story


karya author : Ayu Utami

__ADS_1


Bantu baca novelnya yah😊. Jangan lupa masukin ke daftar favorit. Makasih.



__ADS_2