Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 59


__ADS_3

Siang itu Jihan bersama Mama Dewi dan Juna sedang berkumpul di halaman belakang. Rumah yang Mama Sonia sediakan untuk tempat persembunyian mereka selama 3 minggu ini cukup luas dan bagus. Di halaman belakang ada taman dan kolam renang. Sangat mewah menurut keluarga Jihan, walaupun tidak semewah dan semegah rumah utama Mama Sonia.


Mama Dewi sampai tidak hati saat diminta menempati rumah ini, merasa tidak pantas saja. Berbeda dengan Juna, pemuda itu justru kelihatan senang saat pindah rumah. Setidaknya tempat tinggal sekarang jauh lebih layak.


"Jadi Juna sama Mama harus pindah ke rumah kontrakan lagi.?" Celetuk Juna ketika Jihan selesai bercerita kalau mereka tidak perlu bersembunyi dari Shaka lagi karna masalahnya sudah clear.


Jihan menggeleng, lebih ke tidak bisa memberikan keputusan karna rumah itu milik mertuanya. Meskipun Shaka sudah sempat membahasnya kalau Juna dan Mamanya masih boleh menempati rumah ini.


"Nanti Mba pastiin lagi sama Mas Shaka dan Mamanya. Yang jelas besok kamu bisa datang ke kampus lagi, nggak perlu daring." Kata Jihan. Juna mengangguk paham, sebenarnya dia juga sudah bosan karna terlalu lama daring.


"Tapi Mama lebih nyaman pindah ke rumah lama, nggak enak kalau harus selamanya menumpang di rumah ini." Kata Mama Dewi. Dia enggan di pandang buruk, takut di bilang memanfaatkan besannya yang kaya raya itu.


"Jihan bisa mengerti Mah. Kalau memang Mama nggak nyaman terlalu lama tinggal disinj, nanti Jihan usahakan beli rumah. Kebetulan Jihan masih ada tabungan. Kalau untuk membeli rumah sederhana sepertinya cukup." Usulnya. Jihan pun enggan membuat Mamanya kehilangan harga diri di mata siapapun. Lebih baik menghabiskan sisa uang dari imbalan nikah kontraknya untuk membelikan rumah. Lagipula kehidupan dia kedepan akan di tanggung oleh Shaka.


Mama Dewi sempat menolak, nalurinya sebagai seorang Ibu merasa sangat merepotkan anak dan menjadi beban. Jihan sampai berulang kali meyakinkan Mama Dewi bahwa dia ingin berbakti dengan memberikan apa yang dia punya, dan itu tidak akan sebanding dengan pengorbanan Mama Dewi yang sudah mengandung, melahirkan dan merawatnya.


"Shaka jemput jam berapa.? Mama perlu bicara beberapa hal dengan suamimu." Tanya Mama Dewi. Jihan terdiam, dia juga tidak tau Shaka mau menjemputnya atau tidak. Malah Jihan berfikir akan pulang menggunakan taksi, mengingat pesannya belum di balas okeh Shaka sampai sekarang.


"Jihan belum pastiin Mas Shaka bisa jemput atau nggak. Sepertinya hari ini dia sibuk. Nanti Jihan telfon dulu." Jawabnya tidak yakin.


Mama Dewi menanggapi dengan anggukan tanpa curiga kalau anak dan menantunya sedang ada masalah kecil. Masalah yang sebenarnya hanya bisa diselesaikan di atas ranjang, namun Jihan tidak peka.


...******...


Jihan sudah menghubungi nomor Shaka berkali-kali, tapi tidak di angkat. Jihan sudah curiga kalau Shaka sengaja mengabaikan panggilan telfonnya, mengingat tadi pagi pria itu kelihatan marah padanya sampai tidak membalas pesan juga. Meski begitu, Jihan akhirnya mengirimkan pesan lagi. Walau tidak di balas, setidaknya di baca oleh Shaka.


Mama ku ingin bicara dengan Mas Shaka. Kalau ada waktu, tolong mampir dulu sebentar.


Pesan itu baru saja terkirim. Jihan kemudian keluar dari kamar dan meninggalkan ponselnya di atas ranjang. Daripada terlalu mengharapkan pesannya di balas, akhirnya di biarkan saja di dalam kamar dan menyibukkan diri dengan menonton film di ruang keluarga bersama Juna.


...******...

__ADS_1


Di ruangan kerjanya, Shaka hanya melirik sekilas setiap ponselnya menyala karna ada notifikasi panggilan dan pesan.


Pria yang tengah sibuk dengan dokumen itu tampak gusar. Moodnya sedang buruk. Entah sudah berapa karyawan yang dia marahi sejak tadi pagi sampai siang ini. Hanya karna hasrat yang belum tersalurkan selama 3 minggu lebih, dampaknya jadi luar biasa seperti ini.


Shaka menghela nafas berat. Padahal sudah menikah, tapi mau menyalurkan hasrat saja masih ada kendalanya.


Penasaran dengan pesan dari Jihan, Shaka akhirnya meraih ponselnya dan membaca sederet pesan dari istrinya itu.


Saya akan pulang jam 4. Kamu ingin dibelikan apa.?


Shaka mengirim pesan itu setelah membuang gengsinya demi calon anaknya. Walaupun kecewa dengan Jihan, Shaka masih berusaha perhatian dan menaruh banyak cinta untuk calon anaknya. Salah satunya dengan membelikan apa yang ingin dimakan oleh Jihan.


1 jam, 2 jam, sampai akhirnya sudah menunjukkan pukul 4 sore, Jihan belum juga mengirimkan balasan. Shaka jadi bingung sendiri, telfon pun tidak di angkat. Dia pikir, Jihan sedang balas dendam padanya. Tapi yang sebenarnya terjadi, Jihan ketiduran di sofa ruang keluarga. Mama Dewi maupun Juna tidak ada yang tega membangunkan Jihan. Sebab Jihan kelihatan sangat kelelahan.


...******...


"Bang Shaka,," Juna yang tengah duduk di teras, berdiri dari duduknya ketika melihat Shaka turun dari mobil.


"Mba Jihan ketiduran di sofa Bang dari jam 2. Sekarang belum bangun. Mungkin hapenya juga di kamar." Kata Juna.


Kening Shaka menyernyit. Pantas saja telfonnya tidak di angkat. Mau menghubungi Juna juga tidak punya nomornya, sebab Juna juga mengganti nomornya.


Shaka mengangguk paham. Pria itu kemudian masuk ke dalam rumah setelah Juna mencium punggung tangannya. Juna juga ikut mengekori Shaka ke dalam rumah.


"Mama dimana.?" Tanyanya.


"Tadi pamit mau mandi, habis siram tanaman di depan." Sahut Juna. Shaka manggut-manggut saja.


Langkah Shaka berhenti di samping sofa ruang keluarga. Dia melihat Jihan masih tertidur pulas di atas sofa dengan posisi badan sedikit meringkuk.


"Tolong taruh ini di dapur ya." Shaka memberikan semua paperbag di tangannya pada Juna dan langsung di terima adik iparnya itu.

__ADS_1


"Kamar Jihan dimana.?" Tanya Shaka sembari menggulung lengan kemejanya.


"Mb Jihan nempatin kamar utama."


"Bang Shaka mau pindahin Mba Jihan ke kamar.? Berat loh Bang, bangunin aja. Udah kelamaan juga tidurnya." Tutut Juna. Dia tidak yakin Kakak iparnya sanggup menggendong Jihan ke lantai dua. Kasihan juga kalau harus menahan beban berat.


"Nggak apa-apa," Shaka kemudian menunduk untuk mengangkat tubuh Jihan.


Melihat Kakak iparnya tetap nekat, Juna akhirnya memilih pergi ke dapur untuk menaruh barang belanjaan Shaka.


Sampainya di kamar, Shaka membaringkan Jihan dengan hati-hati di atas ranjang. Istrinya itu sama sekali tidak terusik meski sudah di angkat dan pindah tempat.


Shaka kemudian duduk di tepi ranjang, netranya mengamati wajah damai Jihan yang terlelap. Seandainya dia egois, mungkin sekarang sudah membangunkan Jihan dan memaksanya untuk ber cinta.


Cukup lama memandangi wajah Jihan, Shaka kemudian beranjak dari duduknya. Niatnya mau turun ke bawah dan menemui Mama mertuanya yang katanya ingin bicara dengannya. Tapi belum sempat kakinya melangkah, tangannya sudah di tahan oleh Jihan.


"Mas Shaka marah sama aku.?" Jihan menatap lekat dengan mata yang masih sayu khas bangun tidur.


"Tau salahnya dimana.?" Tembak Shaka tanpa menjawab pertanyaan Jihan. Dengan tanya begitu, Jihan jadi tau kalau Shaka memang sedang marah padanya.


Jihan menggeleng. Kalau tidak dikasih tau, dia mana paham letak salahnya dimana. Tiba-tiba sikap Shaka jadi semakin dingin.


"Jadi sampai sekarang kamu nggak tau penyebab saya seperti ini.?!" Tegas Shaka memastikan.


Jihan dengan polosnya mengangguk.


"Kalau Mas Shaka nggak ngasih tau, gimana aku bisa tau.?" Ujarnya yang terdengar menyudutkan Shaka. Pria itu mendengus kesal.


"Lebih baik kamu mandi sekarang, 1 jam lagi kita ke hotel.!" Tegasnya kemudian keluar dari kamar.


"Ya ampun,,!" Pekik Jihan karna tiba-tiba konek. Akhirnya jadi tau letak kesalahannya dimana. Sudah dua kali gagal ber cinta, itu yang membuat Shaka jadi ketus tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2