
Shaka setengah berlari memasuki kamar ketika baru sampai di rumah. Langkahnya tergesa-gesa dan raut wajahnya sedikit cemas. Dia tadi tidak sengaja melihat siluet Jihan di balkon kamar saat mobilnya memasuki halaman rumah. Sekarang sudah pukul 11 malam, entah apa yang sedang dilakukan Jihan malam-malam begini di balkon kamar. Seharusnya Jihan sudah tidur. Sebab Shaka sudah memperingati Jihan supaya tidur lebih awal sejak kehamilannya semakin membesar.
Begitu masuk ke kamar, Shaka segera pergi ke balkon dan mendapati Jihan masih berdiri di tepi balkon.
"Sayang,, kenapa di luar." Shaka menutupi tubuh Jihan menggunakan jas miliknya, lalu merangkulnya dari samping.
Jihan menoleh sekilas seraya mengembangkan senyum tipis yang tampak dipaksa.
"Bagaimana kerjasama dengan Safira.? Obrolan kalian berdua terlihat sangat seru." Kata Jihan. Ada nada menyindir di dalamnya, begitu juga senyumnya yang makin dipaksakan.
"Siapa yang mengadu.? Aku bahkan belum cerita." Shaka menatap penasaran sekaligus khawatir dengan respon Jihan karna terlihat marah.
"Yakin ada niat mau cerita seandainya aku diam.?" Jihan berkata tenang, namun tak setenang perasaannya ketika melihat video kedekatan Shaka dan Safira di ruangan tertutup. Video yang di ambil secara diam-diam oleh seseorang, sepertinya sengaja dibuat untuk di kirimkan pada Jihan.
Shaka menarik nafas dalam-dalam supaya tidak terbawa suasana sekaligus untuk menenangkan pikiran.
"Kita bicara di dalam saja, di sini dingin." Shaka menggiring Jihan masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu balkon.
Kini keduanya sudah duduk bersebelahan di sofa kamar. Sepertinya ada kesalahpahaman yang harus mereka selesaikan malam ini juga.
"Boleh tau siapa yang memberikan informasi seperti itu padamu.?" Tanya Shaka selembut mungkin. Dia telah banyak belajar dari pengalaman. Jadi setiap kali ada kesalahpahaman, Shaka berusaha bicara setenang dan selembut mungkin agar tidak membuat suasana hati Jihan semakin memburuk. Cukup kejadian 3 minggu lalu menjadi pertengkaran terakhir.
Jihan menggeleng.
"Seseorang mengirimkan video ke ponselku." Jawabnya.
"Nomor tidak di kenal.?" Shaka menegaskan. Jihan mengangguk cepat. Video yang memperlihatkan bagaimana Safira duduk sangat dekat dengan Shaka, dikirimkan oleh nomor asing.
Shaka tidak bisa menyembunyikan kekesalannya ketika sadar bahwa orang yang mengirim video Ponsel Jihan sengaja ingin membuat mereka salah paham.
__ADS_1
"Dimana ponsel kamu.? Aku ingin melihat nomornya."
Jihan hanya mengarahkan telunjuknya ke atas nakas di dekat ranjang. Shaka langsung beranjak untuk mengambil ponsel milik Jihan dan melihat pesan itu.
Pesan tersebut hanya sebuah kiriman video tanpa caption apapun. Di bawahnya, Jihan tampak bertanya siapa pemilik nomor itu. Namun Chat yang dikirimkan Jihan terlihat ceklis satu. Pemilik nomor itu sepertinya memblokir nomor Jihan setelah mengirimkan video.
"Sebentar, biar aku cari tau siapa pemilik nomornya." Ujarnya pada Jihan. Shaka tampak menyalin nomor tersebut untuk dikirimkan pada Leon, lalu segera menghubunginya.
"Selidiki siapa pemilik nomor itu.!" Titahnya saat sambungan telfon terhubung dengan sang asisten pribadi. Shaka kemudian memutuskan panggilannya begitu saja. Leon bahkan belum sempat berkata apapun.
"Leon sedang mencari tau siapa orang yang sengaja ingin membuat kegaduhan." Tutur Shaka. Jihan tampak acuh, sebab yang dia butuhkan adalah penjelasan dari Shaka.
"Sebenarnya nggak penting siapa orang yang mengirim video itu. Aku cuma butuh penjelasan kenapa kalian bisa berduaan di satu ruangan." Ujar Jihan. Kalau memang benar ada kerja sama, seharusnya ada pihak ke tiga dan ke empat yang ikut meeting, bukan berduaan begitu dan terlihat seperti pasangan selingkuh.
"Orang yang merekam sengaja mencari momen saat hanya ada aku dan wanita itu. Satu menit setelahnya, beberapa orang ikut masuk ke dalam. Nanti aku minta pada Leon rekaman cctv di ruangan itu supaya kamu bisa lihat sendiri kebenarannya." Jelas Shaka.
Raut wajah Jihan mulai tampak lega. Artinya penjelasan Shaka sangat masuk akal dan bisa diterima oleh Jihan. Walaupun sempat curiga dan cemburu tentunya, namun Jihan masih bisa berfikir jernih. Dia juga mampu mengontrol diri supaya tidak hanyut terbawa emosi.
...*******...
Sepasang kaki menyembul dari balik selimut tebal warna putih. Dilihat dari letak kaki, posisi keduanya cukup intim karna saling menindih. Sinar mentari yang menembus dari celah tirai, sama sekali tidak mengusik tidur nyenyak keduanya. Sebab tadi malam habis bergadang sampai pukul 1 malam untuk membuat jalan lahir supaya proses kelahiran menjadi lebih lancar.
Menjelang detik-detik persalinan, Dokter memang menyarankan agar pasangan suami istri itu lebih sering bergulat di atas ranjang dan menyarankan beberapa posisi yang baik. Sebagai suami siaga dan bertanggungjawab atas perbuatannya yang telah menghamili Jihan, Shaka dengan senang hati mensupport serta selalu standby untuk kegiatan yang satu itu.
Hingga pukul 8 pagi, keduanya terbangun lantaran mendengar suara ketukan pintu dan suara panggilan dari luar kamar mereka.
"Kamu di sini saja, biar aku yang buka." Shaka keluar dari selimut dalam keadaan polos, pria itu kemudian membetulkan selimut agar tubuh polos Jihan tertutup seluruhnya.
Jihan hanya diam sambil memperhatikan Shaka yang tengah memakai baju dan celana. Sudut bibir Jihan sedikit terangkat ketika melihat tanda merah di leher Shaka bagian samping. Saking gemas dan ingin mengekspresikan rasa nikmatnya, Jihan setengah sadar membuat jejak di leher Shaka.
__ADS_1
Shaka segera membuka pintu kamar dan mendapati asisten rumah tangganya berdiri di sana dengan raut wajah panik.
"Ada apa.?"
"Begini Den, di bawah ada Bu Dewi. Dia datang sambil menangis, katanya Juna belum pulang dan nggak bisa di hubungi dari kemarin." Tuturnya cemas.
Dari dalam kamar, Jihan bisa mendengar jelas laporan dari ART di rumahnya. Ibu hamil itu panik dan memanggil Shaka.
"Bibi tenangkan mertua saya dulu, nanti kami menyusul." Kata Shaka kemudian menutup pintu kamarnya karna Jihan dalam keadaan polos.
Pria itu kemudian membantu Jihan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jihan sudah menangis dan susah di minta untuk berhenti menangis. Dia mempertanyakan bagaimana keadaan Juna dan dimana adiknya itu berada.
"Mas,, tolong bantu Juna." Pinta Jihan sambil memakai baju ganti.
"Kamu tenang dulu, aku sudah menyuruh orang mencari Juna. Jangan terlalu panik, itu bisa berdampak buruk pada kandungan kamu." Shaka mengusap punggung Jihan. Keduanya lalu buru-buru menghampiri Mama Dewi selesai memakai baju.
Di ruang keluarga, Mama Dewi sedang menangis sesegukan dan tampak di tenangkan oleh Bik Susi.
Jihan menghampiri Mamanya dan langsung memeluknya.
"Adik kamu Jihan, dia belum pulang. Ponselnya nggak bisa di hubungi." Tangis Mama Dewi pecah. Tidak biasanya Juna seperti ini. Juna bahkan tidak pernah pulang lewat dari jam 10 malam.
"Mama tenang dulu, Mas Shaka sedang berusaha mencari Juna." Ujar Jihan. Dia melirik suaminya yang sibuk menghubungi seseorang sejak tadi untuk meminta bantuan.
"Sebaiknya kita temui satu persatu teman dekat Juna. Kamu tau alamatnya.?" Tanya Shaka pada Jihan.
Wanita itu mengangguk cepat. "Hanya tau dua alamat teman dekat Juna, sisanya aku nggak tau alamat yang lain."
"Nggak masalah, nanti kita bisa minta mereka menghubungi teman yang lain." Sahut Shaka.
__ADS_1
Kini ketiganya dalam perjalanan menuju salah satu rumah teman dekat Juna. Shaka juga terus memantau perkembangan posisi Juna dari orang suruhannya yang mengecek lewat gps di ponsel Juna.