Kontrak 365 Hari

Kontrak 365 Hari
Bab 72


__ADS_3

Juna mengusap kasar wajahnya yang tampak frustasi. Entah setan apa yang merasukinya tadi malam sampai berani melakukan hubungan terlarang dengan Vierra. Sementara itu, Vierra duduk bersandar di kepala ranjang sembari memeluk tubuh polosnya yang di balut selimut tebal. Dia menunduk malu. Malu pada Juna tentunya.


"Maaf, aku tau ini salah." Lirih Vierra tanpa berani menatap laki-laki yang semalam menggagahinya karna pengaruh obat.


"Vierra,, bagaimana bisa kamu berfikir melakukan hubungan terlarang denganku sebagai salam perpisahan.! Kamu membuatku jadi laki-laki pecundang." Sentak Juna sembari meremas kuat rambutnya. Dia telah melanggar prinsipnya sendiri dan melanggar larangan dari Kakaknya untuk tidak melecehkan wanita.


"Lagipula kenapa kamu merendahkan diri sendiri dengan cara seperti ini Vierra.?!" Juna menggoncang kuat lengan Vierra. Wanita itu malah terisak dan semakin menyembunyikan wajahnya.


"I'm not virgin.!! Kamu bukan yang pertama, Juna. Sebelum aku melakukan ini padamu, aku memang sudah rendah sejak awal.!" Teriak Vierra di tengah isak tangisnya. Tubuhnya bergetar di balik selimut.


Juna menghela nafas berat. Dia juga baru tau beberapa menit yang lalu kalau sejak awal Vierra sudah tidak suci. Namun Juna tidak menyangka Vierra menjebaknya dengan mencampurkan obat pe rang sang kedalam minumannya.


Malam itu keduanya memutuskan bertemu di salah satu cafe. Sebab Vierra akan pindah kuliah ke luar negeri. Gadis itu meminta bertemu untuk terakhir kalinya sebelum berpisah. Di balik pertemuan itu, Vierra sudah menyusun rencana untuk menghabiskan malam panjang bersama. Dengan alasan ingin pergi ke apartemen miliknya, Vierra meminta untuk di antar pulang ke apartemen itu. Juna tidak memiliki pikiran buruk ketika di ajak masuk ke dalam. Bahkan ketika Vierra menyodorkan minuman dingin yang ternyata sudah di campur obat dengan disisi tinggi.


"Bagaimana kalau kamu hamil.? Aku melakukannya di dalam kan.?" Juna menatap cemas. Dia tidak peduli dengan kondisi Vierra yang sudah tidak virgin sebelumnya. Juna hanya mengkhawatirkan dampak setelah melakukannya.


"Aku akan merawatnya.!" Tegas Vierra. Dia sudah berani menatap Juna meski masih terisak.


"Ayo menikah.!" Ajak Juna serius.


"Kamu bahkan berkali-kali mengakhiri hubungan kita. Jangan mengajakku menikah hanya karna merasa bersalah, aku yang sudah menjebak kamu, jadi semua kesalahan ada padaku. Biar aku juga yang menanggung resikonya." Tuturnya yakin.


Vierra memang tidak punya niat menjebak Juna agar dinikahi, dia hanya ingin menghabiskan malam bersama sebagai kenangan terindah sebelum benar-benar pergi dari kehidupan Juna.


Juna tidak mendebat, dia buru-buru mengambil ponselnya karna ingin mengabari Mama Dewi karna sejak semalam tidak memberi kabar.


"Ya ampun.!" Umpat Juna ketika mendapati ponselnya mati.


"Ada charger.?" Tanyanya pada Vierra, gadis itu menggeleng. Apartemen yang mereka pakai sudah lama tidak di tempati, jadi minim barang-barang.


"Aku harus pulang, orang tua ku pasti khawatir. Ayo siap-siap, biar sekalian aku antar kamu pulang." Titah Juna. Vierra mengangguk patuh, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Juna juga melakukan hal yang sama di kamar mandi terpisah.


...******...

__ADS_1


"Lebih baik Mama makan dulu, kita tunggu kabar dari orang suruhannya Mas Shaka. Aku sama Mas Shaka juga belum sempat sarapan." Ujar Jihan sembari menata makanan yang tadi dia beli saat dalam perjalanan menuju rumah Mamanya.


Mereka sudah sempat mendatangi rumah teman Juna, lalu menyuruh teman Juna menginformasikan lewat grup kelas, tapi tidak ada yang tau keberadaan Juna. Sudah 2 jam mereka mencari, akhirnya memutuskan pulang karna harus mengisi perut lebih dulu.


"Jangan panik, Juna sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri. Juna pasti baik-baik saja." Ujar Shaka menenangkan.


Mama Dewi tampak berusaha yakin dengan ucapan menantunya. Dia juga paham kalau Juna bisa melindungi dirinya sendiri. Hanya saja Mama Dewi khawatir terjadi sesuatu dengan putranya.


Tidak lama setelah mereka selesai makan, terdengar suara motor yang berhenti di halaman rumah. Mama Dewi segera keluar karna mengenali pemilik motor itu. Dia langsung berlari kecil dan memeluk putranya saat melihatnya baik-baik saja.


"Juna, kamu kemana saja.? Kenapa bikin Mama khawatir." Mama Dewi terisak kecil. Dia sudah membayangkan yang tidak-tidak, kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada Juna karna tidak pulang.


Juna tidak terkejut melihat Mamanya terisak, dia sudah menduga Mamanya akan khawatir seperti ini. Sebab sebelumnya selalu pulang tepat waktu sebelum jam 10 malam.


"Masuk dulu Mah, kita bicara di dalam." Kata Juna seraya merangkul Mama Dewi ke dalam rumah.


Shaka juga mengajak Jihan masuk ke dalam rumah. Mereka sempat ikutan keluar dan menyaksikan dari teras rumah.


"Lain kali jangan seperti itu lagi.! Mama sampai datang sendiri ke rumah Mba sambil nangis-nangis." Gerutu Jihan saat Mama Dewi sedang pergi ke dapur.


"Iya, Juna janji nggak begitu lagi." Juna tampak pasrah. Sejak tadi sudah dimarahi Kakaknya habis-habisan.


"Sudah jangan marah-marah lagi, ingat perut kamu." Shaka mengusap pelan perut besar Jihan. Lama-lama bahaya juga kalau tidak di stop. Takutnya melahirkan sebelum waktunya gara-gara marah-marah terus.


"Habisnya bikin orang emosi.!" Gerutu Jihan seraya beranjak dari duduknya.


"Mau kemana.?" Tanya Shaka.


"Aku butuh air dingin biar nggak emosi terus." Jawabnya kemudian pergi ke dapur dengan perasaan dongkol pada Juna.


"Bang, bisa bicara berdua.?" Ajak Juna setelah memastikan tidak terlihat lagi dari ruang tamu.


"Bicara di luar saja." Shaka beranjak lebih dulu. Dia sengaja mengajak Juna bicara di luar karna merasa ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Juna. Shaka juga pernah muda, apalagi sesama laki-laki. Dia sangat tau bagaimana kehidupan laki-laki pada saat seusia Juna.

__ADS_1


Keduanya sudah duduk di seberang rumah. Di sana ada bangku taman, tepat di bawah rindangnya pohon mangga yang sedang berbuah.


"Semalam aku meniduri mantan pacarku." Ucap Juna.


Shaka tampak terkejut. Dia cukup mengenal Juna dengan baik. Rasanya tidak mungkin Juna bisa berbuat sejauh itu.


"Bagaimana bisa.? Kamu dalam pengaruh alkohol saat melakukannya.?"


Juna menggeleng cepat. Dia kemudian menceritakan awal kejadiannya sampai akhir.


"Aku harus bagaimana.? Dia menolak menikah." Ucap Juna frustasi.


"Salam perpisahan dengan tidur bersama, bukankah itu sangat konyol.? Sekarang dia membuatku merasa bersalah." Juna tersenyum kecut.


"Dia sendiri yang dengan suka rela menyerahkan diri, itu bukan salahmu. Untuk apa merasa bersalah." Kata Shaka.


"Tapi sebagai laki-laki yang baik, kamu memang harus tanggung jawab seandainya dia hamil. Untuk saat ini biarkan saja kalau memang dia menolakmu." Tuturnya menasehati. Shaka berusaha menempatkan diri berada di posisi Juna, jadi bisa mengambil sikap yang tepat menurutnya.


"Satu minggu pagi dia pindah kuliah ke luar negeri, bagaimana kalau dia hamil dan menyembunyikan dariku.?" Juna tampak khawatir.


"Nanti kamu bicara lagi sama dia, yakinkan mantan pacarmu bahwa kamu serius bertanggungjawab. Seandainya nanti dia hamil, kamu harus memintanya supaya memberitahu mu."


"Mas Shaka sama Juna ngapain duduk di sana.?" Jihan berteriak dari pintu dan terlihat akan menghampiri Shaka dan Juna.


Shaka langsung berdiri dari duduknya dan menepuk keras pundak Juna.


"Kamu sudah dewasa, selesaikan masalahnya dengan baik. Jangan buat Mama dan Kakak mu kecewa." Ujarnya kemudian menghadang langkah Jihan di halaman rumah.


"Ayo masuk, di luar panas." Ajak Shaka seraya menggandeng Jihan.


"Kalian membicarakan apa.? Kelihatannya serius."


"Urusan laki-laki." Jawab Shaka datar. Jihan mencebik kesal dan berjalan mendahului Shaka.

__ADS_1


__ADS_2