
Jihan terkejut ketika melihat seseorang menyelonong masuk ke dalam kamar mandi. Dia reflek menutupi bagian tubuh sensitifnya karna terkejut. Rupanya sang suami yang masuk ke kamar mandi. Pintunya memang sengaja tidak di kunci oleh Jihan, hanya di tutup rapat saja. Lagipula tadi ada Shaka yang sedang menjaga Flora di kamar, jadi Jihan santai saja ketika tidak mengunci kamar mandi.
"Flo sudah tidur ya.?" Tanya Jihan. Karna Shaka menyusul ke kamar mandi, Jihan jadi berfikir kalau putri mereka sudah tidur dan terlelap di box bayi. Entah bagaimana reaksi Jihan kalau tau yang sebenarnya. Suaminya itu sengaja menitipkan Flora pada Mama Sonia lantaran ingin memadu kasih di kamar mandi.
Shaka menggeleng sambil tergesa-gesa melepaskan kancing kemejanya. Dia terlihat tidak sabaran melucuti semua kain yang menempel di tubuhnya, lalu menerkam Jihan yang tampak seksi tanpa sehelai benang.
"Mas Shaka yang benar saja, kenapa Flo di tinggal sendirian.? Kalau terjadi sesuatu bagaimana.?" Protes Jihan panik. Saking paniknya, Jihan sampai ingin keluar dari kamar mandi dan langsung di tahan oleh Shaka.
"Sayang,, Flora nggak sendirian, dia sama Mama." Tuturnya pada Jihan.
Jihan menghela nafas lega dan tidak jadi keluar kamar mandi. "Aku pikir dia sendirian di kamar."
"Tadi Mama ke kamar.?" Tanyanya.
Shaka menggeleng. Kalau Mama Sonia yang sengaja datang ke kamar dan menawarkan diri menjaga Flora, mana mungkin Shaka kabur saat akan di pukul oleh Mamanya gara-gara bersikap kurang ajar.
"Aku minta Mama buat jagain Flo karna ada urusan mendesak." Jawabnya.
"Ada urusan mendesak tapi kenapa malah kesini.?" Jihan bertanya dengan dahi berkerut. Katanya ada urusan, tapi malah masuk ke kamar mandi dan buru-buru melucuti pakaiannya sendiri.
"Karna urusannya ada di sini." Shaka menyeringai penuh arti dan memojokkan Jihan ke dinding kamar mandi.
"Jhony mendesak ingin masuk." Tuturnya sambil melirik ke bawah. Jihan jadi mengikuti arah tatapan Shaka, tepat di bagian tengah-tengah paha yang terlihat sangat menonjol dari balik ce,lana da lam.
"Mas, kamu serius titipin Flo sama Mama hanya karna ini.?" Tanya Jihan tak habis pikir. Bisa-bisanya Shaka menyuruh Mama Sonia menjaga Flora cuma gara-gara si jhony. Seperti tidak ada waktu lain saja. Padahal bisa menunggu sampai Flora tidur dulu, tanpa harus merepotkan orang lain untuk menjaga Flora.
__ADS_1
"Sudah jangan dipermasalahkan, Mama juga senang-senang saja di titipin Flo. Kalau perlu malam ini biar Flo tidur di kamar Mama." Jawabnya enteng.
Mata Jihan semakin melotot ketika mendengar jawaban tak masuk akal dari mulut suaminya.
"Ya ampun Mas, kamu mau bikin aku malu di depan Mama.? Bagaimana kalau Mama berfikir macam-macam. Menantunya asik berduaan di kamar dengan suaminya, dan anaknya sengaja di ungsikan." Jihan sudah stress duluan, tidak sanggup membayangkan harus menahan malu di depan Mama mertuanya nanti. Tindakan Shaka memang kadang-kadang sulit di prediksi, sudah diluar nalar. Tidak memikirkan dampaknya.
"Mama nggak akan punya pikiran seperti itu. Sayang, sudah jangan di perpanjang." Pintar Shaka dengan tatapan memohon. Dia masih mengunci tubuh Jihan di dinding kamar mandi, tapi tidak berani memulainya karna khawatir Jihan akan amarah.
"Kamu bisa lihat Jhony kan.? Dia dalam mode tegangan tinggi. Apa kamu tega menolaknya.?" Shaka memasang wajah frustasi yang membuat Jihan akhirnya luluh karna kasian padanya.
Sudah 30 menit, kamar mandi mewah itu di penuhi suara-suara de's*han per cintaan keduanya. Jihan yang awalnya tak habis pikir dengan jalan pikiran Shaka, kini sudah tidak berdaya akibat gempuran dari seorang Shaka. Pria yang dulunya dingin dan kaku, kini sudah menjelma menjadi pria h*t yang meresahkan.
...******...
Bandara Internasional John F. Kennedy.
Pagi ini mereka akan terbang ke Jepang untuk mengunjungi Kakak pertama Vierra. Sejak menikah 2 tahun lalu, Kakak pertama Vierra menetap di Jepang karna perusahaan kecil yang di dirikan bersama teman-temannya mulai berkembang pesat pada waktu itu. Jadi dia memutuskan menetap di sana bersama sangat istri.
Dan dua hari yang lalu, Kakak ipar Vierra baru saja melahirkan anak pertamanya sekaligus cucu pertama dalam keluarga Vierra. Jadi kedua krang tua Vierra cukup antusias untuk terbang ke Jepang karna tidak sabar ingin melihat cucu pertama mereka secara langsung.
Perjalanan dari New York ke Jepang menjadi perjalanan panjang pertama bagi Vierra selama masa kehamilannya. Bahkan jadi penerbangan pertamanya juga sejak dia hamil. Untungnya kehamilan Vierra sudah tidak rentan lagi. Bayi dalam kandungannya semakin kuat dari hari ke hari.
Setelah hampir 19 jam menempuh perjalanan udara dengan 1 kali transit, akhirnya mereka tiba di bandara internasional Jepang pukul 2 siang.
Di sana sudah ada Kakak pertama Vierra yang menjemput di bandara. Mereka langsung melepas rindu dengan berpelukan saat bertemu. Tangis Vierra pecah ketika berpelukan dengan Kakaknya, sebab perut besarnya di usap sangat Kakak sambil mengatakan sesuatu yang membuat hatinya perih sekaligus terharu.
__ADS_1
"Keponakan Kakak baik-baik saja kan.? Dia sangat kuat seperti kamu." Ucapnya lirih. Walaupun hatinya sakit karna harus melihat adik perempuannya hamil tanpa pasangan, namun dia cukup kagum dengan Vierra yang tetap kuat meski sempat di rawat berkali-kali karna kondisinya lemah.
"Maaf karna Vie sudah mengecewakan Kak Xander," Ujar Vierra tercekat.
"Tidak perlu minta maaf, karna kamu pasti lebih kecewa dari Kakak. Sudah jangan menangis lagi, kamu harus sanggup menjalaninya karna ini keputusan kamu." Kata Xander seraya mengusap penuh sayang punggung Vierra.
Vierra mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. Suasana menjadi hening karna semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing, namun memikirkan hal yang sama tentang hidup Vierra.
"Langsung ke mobil saja," Ajak Xander. Dia enggan berlama-lama merasakan suasana sedih yang menyayat hati. Papa Sony dan William segera mendorong troli berisi koper-koper dan barang bawaan mereka.
Sementara itu, Xander menggandeng tangan Vierra. Di sampingnya juga ada Mama Mira.
"Kak, Vie mau ke toilet sebentar."
Mereka kompak menghentikan langkah ketika mengetahui Vierra ingin ke toilet.
"Kalian tunggu di mobil saja, biar aku yang antar Vie ke toilet." Ujar Xander.
"Ya, kami duluan. Jaga baik-baik adikmu, bila perlu tunggu di depan pintu toilet." Kata Mama Mira. Dia benar-benar serius menyuruh Xander menunggu Vierra di depan pintu toilet karna tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan pada putrinya.
"Jangan berlebihan, putramu bisa di keroyok para wanita kalau masuk ke area toilet wanita." Ucap Papa Sony dengan candaan.
William hanya terkekeh kecil sambil menggeleng pelan.
"Jangan lama-lama Vie, Kakak udah nggak sabar lihat keponakan." William berkata sambil berlalu. Papa Sony dan Mama Mira segera menyusul karna Xander sudah menggandeng Vierra pergi ke toilet.
__ADS_1
Di tempat yang sama, keluarga Jihan dan Shaka baru saja sampai di bandara. Mereka telah menghabiskan waktu liburan selama 2 minggu di Jepang dan sekarang sudah waktunya kembali ke Indonesia. Banyak kenangan dan kebahagiaan yang harus di tinggalkan selama mereka berada di Jepang. Terutama keluarga Jihan, mereka harus kembali tanpa bisa membawa David pulang bersama mereka. Sebab David memiliki tanggungjawab di perusahaan miliknya, serta tanggung jawab di rumah sakit milik keluarga angkatnya.