
Jihan masuk ke kamarnya bersama Shaka. Keduanya sejak tadi sibuk mengobrol dengan Juna dan Mama Dewi sampai pukul 6 sore. Jihan duduk di tepi ranjang, sedangkan Shaka merebahkan tubuhnya di Shaka dengan kuda kaki yang menjuntai ke lantai.
"Kenapa tiba-tiba ngajak Mama sama Juna makan di luar.?" Jihan bertanya sambil melirik pria di sebelahnya.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan.?" Shaka malah balik bertanya. Jihan menepuk pelan lengan besar Shaka sambil cemberut. Dia memang sering reflek memukul orang ketika dibuat kesal ataupun saat tertawa.
"Pertanyaan nggak boleh di jawab dengan pertanyaan lagi. Kalau lagi interview di perusahaan Samudera's Grup, bisa-bisa langsung di tolak lamarannya.!" Cerocos Jihan. Wanita itu kemudian ikut merebahkan diri di ranjang, namun membuat batas aman, agak jauh dari Shaka.
"Orang tua kita sama-sama menginginkan cucu, kamu mau ber cinta tidak.?" Pertanyaan vulgar Shaka cukup membuat Jihan syok. Wanita itu sampai membulatkan matanya.
"Saya baru tau Pak Shaka semesum ini." Komentar Jihan tak habis pikir. Bisa-bisanya bertanya seperti itu.
"Kesepakatannya cuma 3 kali, mending Pak Shaka jangan macem-macem deh." Jihan beranjak, takut juga kalau satu ranjang dengan Shaka. Bisa-bisa dia terkena bujuk rayunya kalau terlalu lama berduaan di kamar bersama pria mesum.
"Mau kemana.?" Shaka menarik tangan Jihan, sontak Jihan terjerembab tepat di atas tubuh Shaka. Wanita itu melotot tajam, Shaka benar-benar jahil.
"Pak, lepasin.!!" Lirih Jihan penuh penekanan. Sebenarnya ingin berteriak, tapi takut jadi masalah kalau sampai di dengar Juna dan Mamanya.
"Ber cinta dulu sama saya. Nanti saya lepasin." Goda Shaka. Kini kedua tangannya memeluk tubuh Jihan, membuat Jihan semakin menempel padanya.
"Pak Shaka hyper ya.? Kenapa pikirannya ber cinta terus.!" Gerutu Jihan. Dia menahan diri untuk tidak bicara keras, sebab kamarnya tidak seperti kamar di rumah Shaka yang kedap suara.
"Saya cuma ingin mengabulkan permintaan Mama dan do'a Mama kamu. Kita harus sering ber cinta kalau ingin cepat-cepat punya anak, bukannya begitu.?" Jawabnya santai.
Sebenarnya Shaka sudah banyak memberi kode pada Jihan tentang pernikahan yang sesungguhnya dan membentuk keluarga kecil dengan menghadirkan seorang anak. Namun Jihan bukan tipe wanita yang besar kepala. Dia tidak menyimpulkan perasaan seseorang kecuali orang itu mengungkapkannya langsung.
"Pak Shaka, jangan lupa pernikahan kita itu cuma di atas kertas. Yang benar saja mau punya anak." Jihan melepaskan diri sekuat tenaga, dia sampai mencubit pinggang Shaka hingga bisa lepas dari dekapan pria itu.
"Lebih baik berangkat ke restoran sekarang, takutnya Pak Shaka makin ngaco kalau kelamaan dikamar." Jihan mengambil outter dari lemari dan memakainya untuk menutupi dress tanpa lengan yang dia pakai. Sebagian bajunya memang sengaja tidak di bawa ke rumah Shaka.
Shaka baru beranjak dari ranjang saat Jihan keluar kamar. Pria itu tempat mengukir senyum tipis penuh arti. Entah apa yang ada di dalam pikiran Shaka. Selain jahil dan sikapnya yang kaku, cara berpikirnya juga sulit di tebak.
__ADS_1
...*******...
Shaka membawa keluarga Jihan makan malam di restoran mewah. Pria itu bahkan memilih private room. Uang memang bukan masalah bagi Shaka. Sekedar memesan privat room di restoran, bukan apa-apa baginya. Hanya saja, perlakuan Shaka membuat Jihan semakin bertanya-tanya. Ada apa dengan gunung es itu.? Kenapa mendadak bersikap sangat peduli dan penuh perhatian pada keluarganya.
"Kenapa sampai menyewa privat room segala.?Mama sama Juna pasti lebih senang berbaur dengan pengunjung restoran." Jihan bicara lirih di samping Shaka.
"Mama sama Juna langsung pesanan saja, boleh pesan apa saja yang ingin Juna cobain." Kata Shaka pada adik iparnya.
"Beneran Bang.?" Tanya Juna antusias. Shaka mengangguk cepat. Keduanya jadi asik mengobrol. Jihan sampai mendengus kesal karna ucapannya di abaikan oleh Shaka. Justru Shaka malah menjadi-jadi dengan memanjakan Juna. Makin lengket saja Juna sama Kakak iparnya yang tajir itu.
"Jangan terlalu banyak Juna, sayang kalau nggak habis." Tutur Mama Dewi saat putranya menyebutkan banyak makanan pada pelayan.
"Makanan Western porsinya sedikit-sedikit Mah. Pasti Juna habisin kok," Jawab Juna. Laki-laki 18 tahun itu sampai memesan 5 menu makanan berat dan dessert, lalu 4 jenis minuman.
"Kita tinggalin aja kalau sampai nggak habis.!" Seru Jihan. Juna menjadi ciut, sebab Kakaknya terkenal tegas. Ucapannya tidak pernah main-main.
"Bang,,," Panggil Juna seraya menatap Shaka dengan wajah memelas.
Shaka menahan tawa melihat wajah ketakutan Juna.
"Kakak mu serem kalau sudah marah. Kamu pesan taksi saja kalau beneran di tinggal. Nanti saya yang bayar taksinya." Sahut Juna seraya melirik Jihan.
Wajah Jihan langsung cemberut, Shaka sudah bisa menebak kalau Jihan pasti akan kesal. padanya karna memberikan solusi yang menguntungkan Juna.
...******...
Juna akhirnya bisa ikut pulang dengan Shaka karna bisa menghabiskan semua makanan yang dia pesan. Mobil yang di kendarai Shaka sudah menyusuri jalanan ibu kota.
"Juna sama Mama ada yang ingin di beli.? Biar sekalian lewat." Tanya Shaka dengan menatap Juna dari kaca spion.
"Nggak ada, kita langsung pulang saja." Sahut Jihan.
__ADS_1
"Juna butuh apa buat kuliah.?" Tanya Shaka lagi. Pria itu benar-benar mengabaikan Jihan sejak di restoran. Setiap kali Jihan protes, hanya di jadikan angin lalu oleh Shaka.
"Mas.!" Tegur Jihan penuh penekanan. Matanya begitu tajam menatap Shaka. Kesabaran Jihan yang setipis tisu itu semakin di uji. Dia kesal karna Shaka sangat memanjakan keluarganya, terutama Juna. Tentu hal menjadi masalah besar bagi Jihan. Sebab sejak dulu mereka selalu di didik hidup sederhana dan prihatin. Dengan Shaka memanjakan Juna, Jihan takut akan merubah prinsip hidup orang tuanya yang sudah di ajarkan pada Juna sejak kecil.
"Kenapa.?" Tanya Shaka. Kali ini Shaka baru merespon ucapan Jihan, setelah melihat tatapan tak bersahabat dari Jihan.
"Jangan terlalu memanjakan Juna," Ujar Jihan memperingati.
"Iya nak Shaka, kita sebaiknya pulang saja. Keperluan untuk kuliah Juna sudah lengkap. Nanti biar Jihan yang beli kalau Juna butuh sesuatu." Mama Dewi sependapat dengan Jihan kali ini. Takut Juna ketergantungan pada Shaka, pada kebaikan dan materi yang dimiliki Shaka.
Bagaimana kalau nanti Juma jadi malas berdiri di kaki sendiri dan mengandalkan kekayaan Kakak iparnya.
Shaka tidak mendebat dan melajukan mobilnya menuju rumah Jihan. Dia bisa apa kalau Mama mertuanya yang bicara.
...******...
Juna dan Mama Dewi turun dari mobil lebih dulu. Keduanya berjalan memasuki gang kecil menuju rumah meraka yang memang tidak bisa di masuki mobil.
"Pak Shaka nggak pulang.?" Tanya Jihan saat melihat Shaka ikut turun dari mobil.
"Saya mau nemenin kamu tidur. Nanti kamu meluk siapa kalau saya nggak nginep." Jawab Shaka sambil berlalu.
Jihan sudah ingin marah, tapi dia menyadari ucapan Shaka memang benar.
"Dasar Jihan,! Kenapa juga kamu selalu peluk gunung es itu kalau lagi tidur.!" Cibir Jihan mencibir dirinya sendiri. Dia kemudian buru-buru menyusul Shaka agar tidak tertinggal jauh.
...******...
Shaka mana tahan kalau jihannya kaya gini.
__ADS_1